<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cari Planet Mirip Bumi, Peneliti China Berambisi Bangun Bangun Teleskop Raksasa di Luar Angkasa</title><description>Pengoperasian teleskop tersebut diperkirakan akan dimulai sekira 2035.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818455/cari-planet-mirip-bumi-peneliti-china-berambisi-bangun-bangun-teleskop-raksasa-di-luar-angkasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818455/cari-planet-mirip-bumi-peneliti-china-berambisi-bangun-bangun-teleskop-raksasa-di-luar-angkasa"/><item><title>Cari Planet Mirip Bumi, Peneliti China Berambisi Bangun Bangun Teleskop Raksasa di Luar Angkasa</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818455/cari-planet-mirip-bumi-peneliti-china-berambisi-bangun-bangun-teleskop-raksasa-di-luar-angkasa</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818455/cari-planet-mirip-bumi-peneliti-china-berambisi-bangun-bangun-teleskop-raksasa-di-luar-angkasa</guid><pubDate>Selasa 23 Mei 2023 13:12 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/23/54/2818455/cari-planet-mirip-bumi-peneliti-china-berambisi-bangun-bangun-teleskop-raksasa-di-luar-angkasa-XP8iKXKYYM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Teleskop Luar Angkasa. (Foto: NASA)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/23/54/2818455/cari-planet-mirip-bumi-peneliti-china-berambisi-bangun-bangun-teleskop-raksasa-di-luar-angkasa-XP8iKXKYYM.jpg</image><title>Ilustrasi Teleskop Luar Angkasa. (Foto: NASA)</title></images><description>PENELITI memang terus mencari planet-planet semirip Bumi, terutama kembaran Bumi di zona layak huni. Zona layak huni sendiri, adalah daerah yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin di sekitar bintang di mana air dalam bentuk cair dapat eksis di permukaan sebuah planet.
Para peneliti China pun berencana membuat teleskop luar angkasa UV-optik kelas 6 meter yang dinamakan Tianlin atau &quot;tetangga di langit&quot; dalam bahasa Mandarin. Tapi, mereka masih mempertimbangkan untuk biaya studi kelayakan teleskop luar angkasa besar tersebut. Pasalnya, pengoperasian teleskop tersebut diperkirakan akan dimulai sekira 2035.
Para peneliti dari Laboratorium Utama Astronomi Optik (Key Laboratory of Optical Astronomy) yang berada di bawah naungan Observatorium Astronomi Nasional di Beijing mengungkapkan, teleskop Tianlin, dengan ukuran apertur 6 meter, akan diluncurkan ke orbit halo titik L2 Matahari-Bumi.

BACA JUGA:
Fenomena Matahari Merah Muncul di New York hingga Iowa

Titik L2 sistem Bumi-Matahari sangat ideal untuk astronomi karena sebuah pesawat luar angkasa dapat berada cukup dekat untuk berkomunikasi dengan Bumi, dapat menjaga posisi Matahari, Bumi, dan Bulan di belakang pesawat luar angkasa untuk tenaga surya, serta menyuguhkan pandangan yang jelas ke luar angkasa bagi teleskop.
Teleskop itu akan menggunakan empat Sensor Panduan Halus (Fine Guiding Sensors), Spektrograf Dispersi Tinggi Jangkauan Luas (the Wide Range High Dispersion Spectrograph), Kamera Resolusi Spasial Tinggi, dan Koronagraf Kontras Tinggi, untuk menangkap fitur spektral dari ozon, oksigen, udara, serta metana.
Tujuan utama misi ini adalah untuk mencari dan mengarakterisasi atmosfer planet ekstrasurya terdekat, terutama planet mirip Bumi serta planet berbatu di sekitar bintang G dan K, untuk menjelajahi kelayakhunian planet-planet tersebut, serta untuk mencari potensi biosignature di atmosfer atau di permukaannya, mengungkapkan para peneliti .

BACA JUGA:
Berapa Lama Lagi Usia Matahari, Sebelum Sebabkan Kiamat bagi Bumi dan Lainnya?

Bintang seperti Matahari di diklasifikasikan sebagai bintang G. Warnanya kuning dengan suhu permukaan mencapai 5.000 hingga 6.000 K (sekitar 4.726,85 derajat Celcius hingga 5.726,86 derajat Celcius). Bintang K kurang masif dan lebih dingin dari Matahari, serta berwarna kuning hingga jingga dengan suhu sekitar 3.500 hingga 5.000 K.
Tujuan sains yang kedua adalah untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai jenis planet dan sistem planet dalam kaitannya dengan apa yang menciptakan mereka, bagaimana mereka terbentuk dan berkembang, serta apa yang membentuk atmosfer mereka dengan melakukan survei spektroskopi sampel yang mendalam (lebih dari 100) planet batu dan gas terdekat dengan presisi dan akurasi.Seluruh observatorium, termasuk teleskop dan instrumen, akan berbobot  sekitar 15,6 ton. Observatorium tersebut akan ditempatkan pada platform  pesawat luar angkasa yang akan dikembangkan bersama dengan teleskop,  untuk mewujudkan stabilitas dinamis dan termal tinggi yang dibutuhkan  oleh target misi ini.
Menurut para peneliti, muatan seluruhnya mungkin berbobot 40 ton, dan  akan diluncurkan sekitar tahun 2035 oleh roket pengangkut berat China  generasi berikutnya, Long March-9.
China Aerospace Science and Technology Corporation, pengembang seri  roket pengangkut Long March, pada 2019 mengatakan bahwa Long March-9  diperkirakan akan melakukan penerbangan perdananya sekitar tahun 2030  dan akan mendukung eksplorasi Bulan berawak, eksplorasi luar angkasa  dalam, dan pembangunan pembangkit listrik tenaga tenaga surya di luar  angkasa.
Ketika Tianlin berada di posisinya pada tahun 2030-an, ia akan  menjadi fasilitas pertama dari jenisnya di dunia yang mempelajari  tentang kehidupan ekstrasurya, ujar para peneliti. Teleskop tersebut  dirancang untuk memiliki umur misi operasional minimal 10 tahun.
Misi tersebut akan mengembalikan pendeteksian pertama biosignature  ekstrasurya maupun menyiratkan kepada kita bahwa Bumi kita merupakan  satu-satunya planet dengan kehidupan yang berkembang di alam semesta  terdekat dalam batasan pendeteksian teleskop.</description><content:encoded>PENELITI memang terus mencari planet-planet semirip Bumi, terutama kembaran Bumi di zona layak huni. Zona layak huni sendiri, adalah daerah yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin di sekitar bintang di mana air dalam bentuk cair dapat eksis di permukaan sebuah planet.
Para peneliti China pun berencana membuat teleskop luar angkasa UV-optik kelas 6 meter yang dinamakan Tianlin atau &quot;tetangga di langit&quot; dalam bahasa Mandarin. Tapi, mereka masih mempertimbangkan untuk biaya studi kelayakan teleskop luar angkasa besar tersebut. Pasalnya, pengoperasian teleskop tersebut diperkirakan akan dimulai sekira 2035.
Para peneliti dari Laboratorium Utama Astronomi Optik (Key Laboratory of Optical Astronomy) yang berada di bawah naungan Observatorium Astronomi Nasional di Beijing mengungkapkan, teleskop Tianlin, dengan ukuran apertur 6 meter, akan diluncurkan ke orbit halo titik L2 Matahari-Bumi.

BACA JUGA:
Fenomena Matahari Merah Muncul di New York hingga Iowa

Titik L2 sistem Bumi-Matahari sangat ideal untuk astronomi karena sebuah pesawat luar angkasa dapat berada cukup dekat untuk berkomunikasi dengan Bumi, dapat menjaga posisi Matahari, Bumi, dan Bulan di belakang pesawat luar angkasa untuk tenaga surya, serta menyuguhkan pandangan yang jelas ke luar angkasa bagi teleskop.
Teleskop itu akan menggunakan empat Sensor Panduan Halus (Fine Guiding Sensors), Spektrograf Dispersi Tinggi Jangkauan Luas (the Wide Range High Dispersion Spectrograph), Kamera Resolusi Spasial Tinggi, dan Koronagraf Kontras Tinggi, untuk menangkap fitur spektral dari ozon, oksigen, udara, serta metana.
Tujuan utama misi ini adalah untuk mencari dan mengarakterisasi atmosfer planet ekstrasurya terdekat, terutama planet mirip Bumi serta planet berbatu di sekitar bintang G dan K, untuk menjelajahi kelayakhunian planet-planet tersebut, serta untuk mencari potensi biosignature di atmosfer atau di permukaannya, mengungkapkan para peneliti .

BACA JUGA:
Berapa Lama Lagi Usia Matahari, Sebelum Sebabkan Kiamat bagi Bumi dan Lainnya?

Bintang seperti Matahari di diklasifikasikan sebagai bintang G. Warnanya kuning dengan suhu permukaan mencapai 5.000 hingga 6.000 K (sekitar 4.726,85 derajat Celcius hingga 5.726,86 derajat Celcius). Bintang K kurang masif dan lebih dingin dari Matahari, serta berwarna kuning hingga jingga dengan suhu sekitar 3.500 hingga 5.000 K.
Tujuan sains yang kedua adalah untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai jenis planet dan sistem planet dalam kaitannya dengan apa yang menciptakan mereka, bagaimana mereka terbentuk dan berkembang, serta apa yang membentuk atmosfer mereka dengan melakukan survei spektroskopi sampel yang mendalam (lebih dari 100) planet batu dan gas terdekat dengan presisi dan akurasi.Seluruh observatorium, termasuk teleskop dan instrumen, akan berbobot  sekitar 15,6 ton. Observatorium tersebut akan ditempatkan pada platform  pesawat luar angkasa yang akan dikembangkan bersama dengan teleskop,  untuk mewujudkan stabilitas dinamis dan termal tinggi yang dibutuhkan  oleh target misi ini.
Menurut para peneliti, muatan seluruhnya mungkin berbobot 40 ton, dan  akan diluncurkan sekitar tahun 2035 oleh roket pengangkut berat China  generasi berikutnya, Long March-9.
China Aerospace Science and Technology Corporation, pengembang seri  roket pengangkut Long March, pada 2019 mengatakan bahwa Long March-9  diperkirakan akan melakukan penerbangan perdananya sekitar tahun 2030  dan akan mendukung eksplorasi Bulan berawak, eksplorasi luar angkasa  dalam, dan pembangunan pembangkit listrik tenaga tenaga surya di luar  angkasa.
Ketika Tianlin berada di posisinya pada tahun 2030-an, ia akan  menjadi fasilitas pertama dari jenisnya di dunia yang mempelajari  tentang kehidupan ekstrasurya, ujar para peneliti. Teleskop tersebut  dirancang untuk memiliki umur misi operasional minimal 10 tahun.
Misi tersebut akan mengembalikan pendeteksian pertama biosignature  ekstrasurya maupun menyiratkan kepada kita bahwa Bumi kita merupakan  satu-satunya planet dengan kehidupan yang berkembang di alam semesta  terdekat dalam batasan pendeteksian teleskop.</content:encoded></item></channel></rss>
