<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Kantor Pakai AI untuk Analisis Ucapan dan Ekspresi Pelamar, Bikin Cari Kerja Makin Sulit!</title><description>Saat ini 42 persen perusahaan besar di Amerika melakukan perekrutan karyawan dengan menggunakan AI.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818351/banyak-kantor-pakai-ai-untuk-analisis-ucapan-dan-ekspresi-pelamar-bikin-cari-kerja-makin-sulit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818351/banyak-kantor-pakai-ai-untuk-analisis-ucapan-dan-ekspresi-pelamar-bikin-cari-kerja-makin-sulit"/><item><title>Banyak Kantor Pakai AI untuk Analisis Ucapan dan Ekspresi Pelamar, Bikin Cari Kerja Makin Sulit!</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818351/banyak-kantor-pakai-ai-untuk-analisis-ucapan-dan-ekspresi-pelamar-bikin-cari-kerja-makin-sulit</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/23/54/2818351/banyak-kantor-pakai-ai-untuk-analisis-ucapan-dan-ekspresi-pelamar-bikin-cari-kerja-makin-sulit</guid><pubDate>Selasa 23 Mei 2023 11:06 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyu Sibarani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/23/54/2818351/banyak-kantor-pakai-ai-untuk-analisis-ucapan-dan-ekspresi-pelamar-bikin-cari-kerja-makin-sulit-Vmrf39Zv1u.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Prekrutan Karyawan Kini Gunakan AI. (Foto: Business Insider)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/23/54/2818351/banyak-kantor-pakai-ai-untuk-analisis-ucapan-dan-ekspresi-pelamar-bikin-cari-kerja-makin-sulit-Vmrf39Zv1u.jpg</image><title>Prekrutan Karyawan Kini Gunakan AI. (Foto: Business Insider)</title></images><description>KECERDASAN buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang telah membantu banyak pekerjaan. Salah satu yang terbantu dengan penggunaan AI ini adalah para HRD yang dapat menyaring proses perekrutan.

Tapi, proses perekrutan yang menjadi mudah ini malah menyusahkan para pelamar. Hal itu setidaknya dialami oleh para pelamar kerja yang ada di Amerika Serikat. Dikutip Business Insider, baru-baru ini mereka merasakan kesulitan melamar pekerjaan yang sangat jauh berbeda dibanding sebelumnya.

Banyak lamaran yang mereka kirimkan sama sekali tidak terjawab. Padahal sebelumnya mereka setidaknya dapat dengan mudah menerima panggilan hingga akhirnya diterima sebagai karyawan.

BACA JUGA:
Bagaimana Jadinya Jika AI Ciptakan Buku Tahunan Sekolah Harry Potter?


&quot;Saya sudah melamar di 200 pekerjaan dan hanya 30 lamaran yang datang dan mengatakan mereka mencari orang lain. Saya benar-benar bingung apa yang terjadi sekarang,&quot; ujar Michael Keach dikutip Business Insider.

Ian Siegel, CEO ZipRecruiter mengatakan saat ini proses pemilihan karyawan memang sangat berbeda dibanding sebelumnya. Dulu pemilihan calon karyawan dilakukan secara konvensional melalui observasi yang dilakukan oleh pihak penyedia pekerjaan.

BACA JUGA:
Penjelasan Sains kenapa Kecoak Bisa Kebal Radiasi Nuklir


Saat ini semuanya berbeda karena adanya teknologi AI. Teknologi itu bertanggung jawab menyeleksi seluruh kandidat pelamar pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan kantor.

Jadi proses pemilihannya benar-benar mengandalkan algoritma khusus. Alhasil tidak sembarangan orang yang bisa dipanggil untuk mengikuti tahapan selanjutnya. &quot;Era hadirnya robot-robot yang merekrut para pekerja sudah dimulai dan banyak orang justru tidak sadar itu sudah terjadi,&quot; ujar Ian Siegel.Society for Human Resource Management mengatakan bahwa isu itu bukan  isapan jempol belaka. Saat ini 42 persen perusahaan besar di Amerika  melakukan perekrutan karyawan dengan menggunakan AI. Mereka menggunakan  kecerdasan buatan seperti HireVue, Harver, hingga Prem.

Tidak hanya untuk penyaringan, beberapa perusahaan bahkan tetap  menggunakan teknologi AI di semua tahapan lamaran kerja. Jadi begitu  berhasil lolos penyaringan, para pelamar kerja akan melakukan sesi  wawancara yang direkam melalui video. Hasil rekaman itu kemudian akan  dianalisa lagi secara mendalam dengan teknologi AI.

&quot;Pelamar difilmkan menjawab serangkaian pertanyaan sementara sebuah  program atau robot menganalisis ucapan dan ekspresi wajah mereka,&quot; sebut  Society for Human Resource Management.

Penggunaan teknologi itu sendiri semakin memperburuk hubungan  teknologi AI dengan manusia. Tidak hanya bikin manusia sulit dapat  pekerjaan, teknologi AI juga bisa menggantikan manusia dalam bekerja.

Hal itu didasarkan temuan Goldman Sachs baru-baru ini memperkirakan  300 juta pekerjaan di Amerika Serikat dan Eropa dapat digantikan oleh  AI.
</description><content:encoded>KECERDASAN buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang telah membantu banyak pekerjaan. Salah satu yang terbantu dengan penggunaan AI ini adalah para HRD yang dapat menyaring proses perekrutan.

Tapi, proses perekrutan yang menjadi mudah ini malah menyusahkan para pelamar. Hal itu setidaknya dialami oleh para pelamar kerja yang ada di Amerika Serikat. Dikutip Business Insider, baru-baru ini mereka merasakan kesulitan melamar pekerjaan yang sangat jauh berbeda dibanding sebelumnya.

Banyak lamaran yang mereka kirimkan sama sekali tidak terjawab. Padahal sebelumnya mereka setidaknya dapat dengan mudah menerima panggilan hingga akhirnya diterima sebagai karyawan.

BACA JUGA:
Bagaimana Jadinya Jika AI Ciptakan Buku Tahunan Sekolah Harry Potter?


&quot;Saya sudah melamar di 200 pekerjaan dan hanya 30 lamaran yang datang dan mengatakan mereka mencari orang lain. Saya benar-benar bingung apa yang terjadi sekarang,&quot; ujar Michael Keach dikutip Business Insider.

Ian Siegel, CEO ZipRecruiter mengatakan saat ini proses pemilihan karyawan memang sangat berbeda dibanding sebelumnya. Dulu pemilihan calon karyawan dilakukan secara konvensional melalui observasi yang dilakukan oleh pihak penyedia pekerjaan.

BACA JUGA:
Penjelasan Sains kenapa Kecoak Bisa Kebal Radiasi Nuklir


Saat ini semuanya berbeda karena adanya teknologi AI. Teknologi itu bertanggung jawab menyeleksi seluruh kandidat pelamar pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan kantor.

Jadi proses pemilihannya benar-benar mengandalkan algoritma khusus. Alhasil tidak sembarangan orang yang bisa dipanggil untuk mengikuti tahapan selanjutnya. &quot;Era hadirnya robot-robot yang merekrut para pekerja sudah dimulai dan banyak orang justru tidak sadar itu sudah terjadi,&quot; ujar Ian Siegel.Society for Human Resource Management mengatakan bahwa isu itu bukan  isapan jempol belaka. Saat ini 42 persen perusahaan besar di Amerika  melakukan perekrutan karyawan dengan menggunakan AI. Mereka menggunakan  kecerdasan buatan seperti HireVue, Harver, hingga Prem.

Tidak hanya untuk penyaringan, beberapa perusahaan bahkan tetap  menggunakan teknologi AI di semua tahapan lamaran kerja. Jadi begitu  berhasil lolos penyaringan, para pelamar kerja akan melakukan sesi  wawancara yang direkam melalui video. Hasil rekaman itu kemudian akan  dianalisa lagi secara mendalam dengan teknologi AI.

&quot;Pelamar difilmkan menjawab serangkaian pertanyaan sementara sebuah  program atau robot menganalisis ucapan dan ekspresi wajah mereka,&quot; sebut  Society for Human Resource Management.

Penggunaan teknologi itu sendiri semakin memperburuk hubungan  teknologi AI dengan manusia. Tidak hanya bikin manusia sulit dapat  pekerjaan, teknologi AI juga bisa menggantikan manusia dalam bekerja.

Hal itu didasarkan temuan Goldman Sachs baru-baru ini memperkirakan  300 juta pekerjaan di Amerika Serikat dan Eropa dapat digantikan oleh  AI.
</content:encoded></item></channel></rss>
