<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyedia Jasa Internet Sebut Banyak Masyarakat Tak Sadar Data Mereka Sudah Di-Hack</title><description>Sebenarnya hacker juga mengincar orang-orang biasa dan tidak hanya korporat besar.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/16/54/2815128/penyedia-jasa-internet-sebut-banyak-masyarakat-tak-sadar-data-mereka-sudah-di-hack</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/16/54/2815128/penyedia-jasa-internet-sebut-banyak-masyarakat-tak-sadar-data-mereka-sudah-di-hack"/><item><title>Penyedia Jasa Internet Sebut Banyak Masyarakat Tak Sadar Data Mereka Sudah Di-Hack</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/16/54/2815128/penyedia-jasa-internet-sebut-banyak-masyarakat-tak-sadar-data-mereka-sudah-di-hack</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/16/54/2815128/penyedia-jasa-internet-sebut-banyak-masyarakat-tak-sadar-data-mereka-sudah-di-hack</guid><pubDate>Selasa 16 Mei 2023 08:06 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/16/54/2815128/penyedia-jasa-internet-sebut-banyak-masyarakat-tak-sadar-data-mereka-sudah-di-hack-F9H9jqS17V.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Hacker. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/16/54/2815128/penyedia-jasa-internet-sebut-banyak-masyarakat-tak-sadar-data-mereka-sudah-di-hack-F9H9jqS17V.jpg</image><title>Ilustrasi Hacker. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>MASALAH pencurian data memang menjadi salah satu persoalan serius yang tengah dihadapi banyak perusahaan di Indonesia. Belakangan, para hacker pun mengincar perbankan yang memiliki jutaan data pelanggan.

Tapi, sebenarnya hacker juga mengincar orang-orang biasa dan tidak hanya korporat besar. Hanya saja, masyarakat memang tidak sadar dengan pencurian data-data tersebut dapat menyerang orang biasa.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu keamanan siber karena masih rendahnya pengetahuan mereka akan hal itu. Berdasarkan survei APJII tahun 2023 terhadap tren keamanan siber di Indonesia, masih sedikit masyarakat yang paha kasus peretasan siber.

BACA JUGA:
15 Juta Data Nasabah BSI Mulai Disebar di Darkweb oleh Hacker LockBit


Jenderal Umum APJII Zulfady Syam, menjelaskan 74,59 persen masyarakat masih tidak mengetahui atau merasa tidak pernah mengalami kasus peretasan siber. Sedangkan 10,3 persen pernah mengalami penipuan secara online dan 7,96 persen pernah menjadi korban pencurian data pribadi, hack atau phising.

Sehingga sebanyak 95,17 persen masyarakat merasa tidak pernah mengalami kerugian akibat transaksi internet. &quot;Jadi banyak yang masih belum sadar, mereka enggak sadar pernah diambil datanya mereka pernah di hack, enggak tahu,&quot; ucap dalam keterangan tertulisnya.

Namun, Zulfady mengatakan masyarakat sudah ada yang memiliki tindakan waspada untuk menjaga keamanan data mereka jika ada aplikasi yang meminta data pribadi, yaitu sebesar 20,69 persen. Menurutnya angka ini sudah cukup baik untuk kesadaran masyarakat menjaga hak privasinya.

BACA JUGA:
Napak Tilas Jim Geovedi, Hacker Indonesia yang Mampu Hack Satelit China


Adanya kasus peretasan data pribadi atau kerugian akibat kejahatan siber ternyata karena sebesar 66,82 persen masyarakat Indonesia belum pernah mengganti kata sandi atau password untuk akun pribadi mereka.

Berdasarkan survei, 32,71 persen masyarakat tidak pernah mengubah kata sandi dengan alasan akan sering lupa. Angka tersebut termasuk 31 persen di antaranya memang tidak berniat untuk menggantikan kata sandi secara berkala. &quot;Jadi profil individu masyarakat kita masih belum aware fungsi dari password itu sendiri,&quot; kata Zulfady.Sementara untuk preferensi mode membuka ponsel, masyarakat masih  menggunakan kombinasi angka saja sebagai mode kuncinya, yaitu sebesar  36,4 persen.

Secara garis besar menurut data responden yang dibagikan APJII,  hampir 90 persen masyarakat mengatakan penting dan sangat penting untuk  melindungi hak privasi data personal di internet. Secara spesifik, ada  64,9 persen masyarakat menyatakan setuju untuk membagikan data pribadi  namun hanya untuk layanan aplikasi tertentu saja.

Ketua Umum APJII Muhammad Arif, mengatakan APJII juga bekerja sama  dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengingatkan penting bagi  setiap pengguna untuk memahami bagaimana menjaga keamanan dan privasi  data mereka dan meningkatkan peran Internet Service Provider (ISP)  sebagai pintu utama akses internet bagi masyarakat.

&quot;Kami percaya bahwa kerjasama ini akan berkontribusi signifikan dalam  meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu keamanan siber. Ini  merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan digital yang aman  dan terpercaya bagi semua pengguna internet di Indonesia,&quot; ujar Arif.

Ke depan, APJII dan BSSN berencana meluncurkan serangkaian program  dan kampanye edukasi yang ditujukan untuk masyarakat umum serta penyedia  layanan internet. Program ini bertujuan untuk membekali masyarakat  dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berinternet  secara aman dan sehat.
</description><content:encoded>MASALAH pencurian data memang menjadi salah satu persoalan serius yang tengah dihadapi banyak perusahaan di Indonesia. Belakangan, para hacker pun mengincar perbankan yang memiliki jutaan data pelanggan.

Tapi, sebenarnya hacker juga mengincar orang-orang biasa dan tidak hanya korporat besar. Hanya saja, masyarakat memang tidak sadar dengan pencurian data-data tersebut dapat menyerang orang biasa.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu keamanan siber karena masih rendahnya pengetahuan mereka akan hal itu. Berdasarkan survei APJII tahun 2023 terhadap tren keamanan siber di Indonesia, masih sedikit masyarakat yang paha kasus peretasan siber.

BACA JUGA:
15 Juta Data Nasabah BSI Mulai Disebar di Darkweb oleh Hacker LockBit


Jenderal Umum APJII Zulfady Syam, menjelaskan 74,59 persen masyarakat masih tidak mengetahui atau merasa tidak pernah mengalami kasus peretasan siber. Sedangkan 10,3 persen pernah mengalami penipuan secara online dan 7,96 persen pernah menjadi korban pencurian data pribadi, hack atau phising.

Sehingga sebanyak 95,17 persen masyarakat merasa tidak pernah mengalami kerugian akibat transaksi internet. &quot;Jadi banyak yang masih belum sadar, mereka enggak sadar pernah diambil datanya mereka pernah di hack, enggak tahu,&quot; ucap dalam keterangan tertulisnya.

Namun, Zulfady mengatakan masyarakat sudah ada yang memiliki tindakan waspada untuk menjaga keamanan data mereka jika ada aplikasi yang meminta data pribadi, yaitu sebesar 20,69 persen. Menurutnya angka ini sudah cukup baik untuk kesadaran masyarakat menjaga hak privasinya.

BACA JUGA:
Napak Tilas Jim Geovedi, Hacker Indonesia yang Mampu Hack Satelit China


Adanya kasus peretasan data pribadi atau kerugian akibat kejahatan siber ternyata karena sebesar 66,82 persen masyarakat Indonesia belum pernah mengganti kata sandi atau password untuk akun pribadi mereka.

Berdasarkan survei, 32,71 persen masyarakat tidak pernah mengubah kata sandi dengan alasan akan sering lupa. Angka tersebut termasuk 31 persen di antaranya memang tidak berniat untuk menggantikan kata sandi secara berkala. &quot;Jadi profil individu masyarakat kita masih belum aware fungsi dari password itu sendiri,&quot; kata Zulfady.Sementara untuk preferensi mode membuka ponsel, masyarakat masih  menggunakan kombinasi angka saja sebagai mode kuncinya, yaitu sebesar  36,4 persen.

Secara garis besar menurut data responden yang dibagikan APJII,  hampir 90 persen masyarakat mengatakan penting dan sangat penting untuk  melindungi hak privasi data personal di internet. Secara spesifik, ada  64,9 persen masyarakat menyatakan setuju untuk membagikan data pribadi  namun hanya untuk layanan aplikasi tertentu saja.

Ketua Umum APJII Muhammad Arif, mengatakan APJII juga bekerja sama  dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengingatkan penting bagi  setiap pengguna untuk memahami bagaimana menjaga keamanan dan privasi  data mereka dan meningkatkan peran Internet Service Provider (ISP)  sebagai pintu utama akses internet bagi masyarakat.

&quot;Kami percaya bahwa kerjasama ini akan berkontribusi signifikan dalam  meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu keamanan siber. Ini  merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan digital yang aman  dan terpercaya bagi semua pengguna internet di Indonesia,&quot; ujar Arif.

Ke depan, APJII dan BSSN berencana meluncurkan serangkaian program  dan kampanye edukasi yang ditujukan untuk masyarakat umum serta penyedia  layanan internet. Program ini bertujuan untuk membekali masyarakat  dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berinternet  secara aman dan sehat.
</content:encoded></item></channel></rss>
