<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Godfather of AI Keluar dari Google, Ingatkan Potensi Mesin Ambil Alih Pekerjaan Manusia</title><description>Hinton meyakini bahwa sebuah sistem mumpuni yang akan hadir tidak akan setara dengan pemikiran manusia.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807209/godfather-of-ai-keluar-dari-google-ingatkan-potensi-mesin-ambil-alih-pekerjaan-manusia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807209/godfather-of-ai-keluar-dari-google-ingatkan-potensi-mesin-ambil-alih-pekerjaan-manusia"/><item><title>Godfather of AI Keluar dari Google, Ingatkan Potensi Mesin Ambil Alih Pekerjaan Manusia</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807209/godfather-of-ai-keluar-dari-google-ingatkan-potensi-mesin-ambil-alih-pekerjaan-manusia</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807209/godfather-of-ai-keluar-dari-google-ingatkan-potensi-mesin-ambil-alih-pekerjaan-manusia</guid><pubDate>Rabu 03 Mei 2023 00:35 WIB</pubDate><dc:creator>Anjasman Situmorang</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/02/54/2807209/godfather-of-ai-keluar-dari-google-ingatkan-potensi-mesin-ambil-alih-pekerjaan-manusia-DMjpYgthR4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Geoffrey Hinton. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/02/54/2807209/godfather-of-ai-keluar-dari-google-ingatkan-potensi-mesin-ambil-alih-pekerjaan-manusia-DMjpYgthR4.jpg</image><title>Geoffrey Hinton. (Foto: Reuters)</title></images><description>DI saat Artificial Intelligence (AI) tengah berkembang, pelopor AI Geoffrey Hinton malah pamit dari raksasa teknologi Google. Dia pun mengingatkan akan bahaya pengembangan AI yang berlebihan.

Pria yang dijuluki &quot;Godfather of AI&quot; itu merasa khawatir dengan potensi bahaya AI di masa depan, karena dapat melampaui kemampuan otak. Hinton meyakini bahwa sebuah sistem mumpuni yang akan hadir tidak akan setara dengan pemikiran manusia.

&quot;Lihatlah bagaimana lima tahun yang lalu dan sekarang. Ambil bedanya dan sebarkan ke depan. Itu menakutkan,&quot; kata Hinton kepada The New York Times.

BACA JUGA:
Avatar TikTok yang Dibuat oleh AI Bisa Mencapai 30 Gambar


Perjalanan Hinton dalam mengembangkan AI pada tahun 70-an ketika ia masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Edinburgh. Kala itu Hinton tertarik dengan gagasan jaringan saraf atau neural networks.

Setelah menjadi profesor, pada tahun 2012 Hinton bersama dua muridnya menciptakan sebuan terobosan jaringan saraf untuk menganalisis gambar dan mengidentifikasi item umum lainnya dalam foto.

BACA JUGA:
Ilmuwan Astronomi Ajak Pakar AI untuk Bantu Eksplorasi Tata Surya


Tertarik dengan konsep yang dibuatnya, Google mengakuisisi perusahaan Hinton, DNN Research dan bekerja sama untuk mengembangkan teknologi tersebut. Namun belakangan pandangan Hinton terkait AI semakin berubah.

Hinton mengatakan bahwa saat ini perusahaan berlomba memanfaatkan sistem AI yang kuat dan berpotensi menjadi makin berbahaya. Google dan raksasa teknologi lainnya telah terlibat dalam persaingan yang menurut Hinton tak mungkin dihentikan, demikian seperti dilansir dari TechSpot.
&quot;Sebenarnya saya pergi agar saya bisa bicara tentang bahaya AI tanpa  mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap Google. Google telah  bertindak sangat bertanggung jawab,&quot; tulis Hinton dalam akun Twitter  pribadinya @geoffreyhinton.

Hinton khawatir untuk jangka pendek internet akan segera dipenuhi  gambar, video, dan teks palsu. Ini akan membuat manusia hidup di tengah  kebohongan dan tidak dapat mengetahui hal yang benar.

Bicara soal dampaknya di masa depan, setidaknya butuh 30 hingga 50  tahun lagi untuk kecerdasan buatan bisa menggantikan banyak pekerjaan  manusia. Pada akhirnya peran manusia akan sangat minim dan disalip oleh  AI itu sendiri.
</description><content:encoded>DI saat Artificial Intelligence (AI) tengah berkembang, pelopor AI Geoffrey Hinton malah pamit dari raksasa teknologi Google. Dia pun mengingatkan akan bahaya pengembangan AI yang berlebihan.

Pria yang dijuluki &quot;Godfather of AI&quot; itu merasa khawatir dengan potensi bahaya AI di masa depan, karena dapat melampaui kemampuan otak. Hinton meyakini bahwa sebuah sistem mumpuni yang akan hadir tidak akan setara dengan pemikiran manusia.

&quot;Lihatlah bagaimana lima tahun yang lalu dan sekarang. Ambil bedanya dan sebarkan ke depan. Itu menakutkan,&quot; kata Hinton kepada The New York Times.

BACA JUGA:
Avatar TikTok yang Dibuat oleh AI Bisa Mencapai 30 Gambar


Perjalanan Hinton dalam mengembangkan AI pada tahun 70-an ketika ia masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Edinburgh. Kala itu Hinton tertarik dengan gagasan jaringan saraf atau neural networks.

Setelah menjadi profesor, pada tahun 2012 Hinton bersama dua muridnya menciptakan sebuan terobosan jaringan saraf untuk menganalisis gambar dan mengidentifikasi item umum lainnya dalam foto.

BACA JUGA:
Ilmuwan Astronomi Ajak Pakar AI untuk Bantu Eksplorasi Tata Surya


Tertarik dengan konsep yang dibuatnya, Google mengakuisisi perusahaan Hinton, DNN Research dan bekerja sama untuk mengembangkan teknologi tersebut. Namun belakangan pandangan Hinton terkait AI semakin berubah.

Hinton mengatakan bahwa saat ini perusahaan berlomba memanfaatkan sistem AI yang kuat dan berpotensi menjadi makin berbahaya. Google dan raksasa teknologi lainnya telah terlibat dalam persaingan yang menurut Hinton tak mungkin dihentikan, demikian seperti dilansir dari TechSpot.
&quot;Sebenarnya saya pergi agar saya bisa bicara tentang bahaya AI tanpa  mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap Google. Google telah  bertindak sangat bertanggung jawab,&quot; tulis Hinton dalam akun Twitter  pribadinya @geoffreyhinton.

Hinton khawatir untuk jangka pendek internet akan segera dipenuhi  gambar, video, dan teks palsu. Ini akan membuat manusia hidup di tengah  kebohongan dan tidak dapat mengetahui hal yang benar.

Bicara soal dampaknya di masa depan, setidaknya butuh 30 hingga 50  tahun lagi untuk kecerdasan buatan bisa menggantikan banyak pekerjaan  manusia. Pada akhirnya peran manusia akan sangat minim dan disalip oleh  AI itu sendiri.
</content:encoded></item></channel></rss>
