<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisakah ChatGPT Diprogram untuk Memfilter Email Berbahaya?</title><description>ChatGPT sebenarnya mampu melakukannya hanya saja masih dalam tahap yang terbatas.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807207/bisakah-chatgpt-diprogram-untuk-memfilter-email-berbahaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807207/bisakah-chatgpt-diprogram-untuk-memfilter-email-berbahaya"/><item><title>Bisakah ChatGPT Diprogram untuk Memfilter Email Berbahaya?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807207/bisakah-chatgpt-diprogram-untuk-memfilter-email-berbahaya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/02/54/2807207/bisakah-chatgpt-diprogram-untuk-memfilter-email-berbahaya</guid><pubDate>Rabu 03 Mei 2023 08:14 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/02/54/2807207/bisakah-chatgpt-diprogram-untuk-memfilter-email-berbahaya-FPh35x2hbm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ChatGPT. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/02/54/2807207/bisakah-chatgpt-diprogram-untuk-memfilter-email-berbahaya-FPh35x2hbm.jpg</image><title>ChatGPT. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>ARTIFICIAL Intelligence (AI) memnag tengah populer setelah chatbot, ChatGPT, memberikan performa yang baik. ChatGPT pun berhasil menjawab segudang pertanyaan manusia secara natural.

Bahkan, kini pakar keamanan siber dari Kaspersky tengah melakukan penelitian apakah ChatGPT bisa mendeteksi email yang berbahaya. Dari penelitian tersebut, terungkap bahwa ChatGPT sebenarnya mampu melakukannya hanya saja masih dalam tahap yang terbatas.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa meskipun ChatGPT mengetahui banyak hal tentang phishing dan dapat menebak target serangan phishing, ChatGPT memiliki tingkat positif palsu yang tinggi hingga 64 persen, dikutip dari siaran pers Kaspersky.

BACA JUGA:
Huawei Buat NetGPT untuk Saingi ChatGPT


Dalam melakukan penelitian, pakar Kaspersky menguji gpt-3.5-turbo, model yang mendukung ChatGPT, pada lebih dari 2.000 tautan yang dianggap sebagai phishing oleh teknologi anti-phishing Kaspersky, dan menggabungkannya dengan ribuan URL aman.

Tingkat deteksi bervariasi tergantung pada perintah yang digunakan. Eksperimen ini didasarkan pada dua pertanyaan yang diajukan kepada ChatGPT: &quot;Apakah tautan ini mengarah ke situs web phishing?&quot; dan &amp;ldquo;Apakah tautan ini aman untuk dikunjungi?&amp;rdquo;.

Hasilnya menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki tingkat deteksi 87,2 persen dan tingkat positif palsu 23,2 persen untuk pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua, memiliki tingkat deteksi yang lebih tinggi sebesar 93,8 persen, tetapi tingkat positif palsunya lebih tinggi yaitu sebesar 64,3 persen.

BACA JUGA:
Perusahaan Rusia Ini Luncurkan GigaChat, Diklaim Mampu Saingi ChatGPT


Sementara tingkat deteksi sangat tinggi, tingkat positif palsu terlalu tinggi untuk segala jenis aplikasi produksi.

Pertanyaannya kemudian, bisakah ChatGPT membantu mengklasifikasikan dan menyelidiki serangan? Karena penyerang biasanya menyebutkan merek populer di tautan mereka untuk mengelabui pengguna agar mempercayai bahwa URL tersebut asli dan milik perusahaan terkemuka, model bahasa AI menunjukkan hasil yang mengesankan dalam mengidentifikasi potensi target phishing.Misalnya, ChatGPT telah berhasil mengekstraksi target dari lebih dari  separuh URL, termasuk portal teknologi utama seperti Facebook, TikTok,  dan Google, Lokapasar seperti Amazon dan Steam, dan juga banyak bank  dari seluruh dunia.

Eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa ChatGPT mungkin memiliki  persoalan serius ketika harus membuktikan poinnya pada keputusan apakah  tautan tersebut berbahaya. Beberapa penjelasan bersifat tepat dan  berdasarkan fakta, sedangkan lainnya mengungkapkan keterbatasan model  bahasa.

&amp;ldquo;ChatGPT benar-benar menjanjikan dalam membantu kita para analis  (manusia) dalam mendeteksi serangan phishing, tetapi mari jangan  membiarkan itu mendahului kita karena model bahasa masih memiliki  keterbatasan,&quot; kata Vladislav Tushkanov, Ilmuwan Data Utama di  Kaspersky.

&quot;Meskipun teknologi tersebut mungkin setara dengan analis phishing  tingkat intern dalam hal penalaran mengenai serangan phishing dan  mengekstraksi siapa saja yang termasuk target potensial, mereka  cenderung masih menghasilkan pernyataan yang bersifat keliru,&quot; tambah  Tushkanov.

&quot;Jadi, meskipun mungkin belum merevolusi lanskap keamanan siber,  mereka masih dapat menjadi alat yang bermanfaat bagi komunitas dan  masyarakat,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>ARTIFICIAL Intelligence (AI) memnag tengah populer setelah chatbot, ChatGPT, memberikan performa yang baik. ChatGPT pun berhasil menjawab segudang pertanyaan manusia secara natural.

Bahkan, kini pakar keamanan siber dari Kaspersky tengah melakukan penelitian apakah ChatGPT bisa mendeteksi email yang berbahaya. Dari penelitian tersebut, terungkap bahwa ChatGPT sebenarnya mampu melakukannya hanya saja masih dalam tahap yang terbatas.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa meskipun ChatGPT mengetahui banyak hal tentang phishing dan dapat menebak target serangan phishing, ChatGPT memiliki tingkat positif palsu yang tinggi hingga 64 persen, dikutip dari siaran pers Kaspersky.

BACA JUGA:
Huawei Buat NetGPT untuk Saingi ChatGPT


Dalam melakukan penelitian, pakar Kaspersky menguji gpt-3.5-turbo, model yang mendukung ChatGPT, pada lebih dari 2.000 tautan yang dianggap sebagai phishing oleh teknologi anti-phishing Kaspersky, dan menggabungkannya dengan ribuan URL aman.

Tingkat deteksi bervariasi tergantung pada perintah yang digunakan. Eksperimen ini didasarkan pada dua pertanyaan yang diajukan kepada ChatGPT: &quot;Apakah tautan ini mengarah ke situs web phishing?&quot; dan &amp;ldquo;Apakah tautan ini aman untuk dikunjungi?&amp;rdquo;.

Hasilnya menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki tingkat deteksi 87,2 persen dan tingkat positif palsu 23,2 persen untuk pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua, memiliki tingkat deteksi yang lebih tinggi sebesar 93,8 persen, tetapi tingkat positif palsunya lebih tinggi yaitu sebesar 64,3 persen.

BACA JUGA:
Perusahaan Rusia Ini Luncurkan GigaChat, Diklaim Mampu Saingi ChatGPT


Sementara tingkat deteksi sangat tinggi, tingkat positif palsu terlalu tinggi untuk segala jenis aplikasi produksi.

Pertanyaannya kemudian, bisakah ChatGPT membantu mengklasifikasikan dan menyelidiki serangan? Karena penyerang biasanya menyebutkan merek populer di tautan mereka untuk mengelabui pengguna agar mempercayai bahwa URL tersebut asli dan milik perusahaan terkemuka, model bahasa AI menunjukkan hasil yang mengesankan dalam mengidentifikasi potensi target phishing.Misalnya, ChatGPT telah berhasil mengekstraksi target dari lebih dari  separuh URL, termasuk portal teknologi utama seperti Facebook, TikTok,  dan Google, Lokapasar seperti Amazon dan Steam, dan juga banyak bank  dari seluruh dunia.

Eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa ChatGPT mungkin memiliki  persoalan serius ketika harus membuktikan poinnya pada keputusan apakah  tautan tersebut berbahaya. Beberapa penjelasan bersifat tepat dan  berdasarkan fakta, sedangkan lainnya mengungkapkan keterbatasan model  bahasa.

&amp;ldquo;ChatGPT benar-benar menjanjikan dalam membantu kita para analis  (manusia) dalam mendeteksi serangan phishing, tetapi mari jangan  membiarkan itu mendahului kita karena model bahasa masih memiliki  keterbatasan,&quot; kata Vladislav Tushkanov, Ilmuwan Data Utama di  Kaspersky.

&quot;Meskipun teknologi tersebut mungkin setara dengan analis phishing  tingkat intern dalam hal penalaran mengenai serangan phishing dan  mengekstraksi siapa saja yang termasuk target potensial, mereka  cenderung masih menghasilkan pernyataan yang bersifat keliru,&quot; tambah  Tushkanov.

&quot;Jadi, meskipun mungkin belum merevolusi lanskap keamanan siber,  mereka masih dapat menjadi alat yang bermanfaat bagi komunitas dan  masyarakat,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
