<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Satelit SS-1 Akhirnya Terbang ke Orbit Rendah Bumi</title><description>Satelit nano SS-1 sendiri memiliki dimensi yang sangat kecil, yaitu hanya 10 x 10 x 11.35 cm dengan berat hingga 1,3 kg.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/01/06/54/2741511/satelit-ss-1-akhirnya-terbang-ke-orbit-rendah-bumi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/01/06/54/2741511/satelit-ss-1-akhirnya-terbang-ke-orbit-rendah-bumi"/><item><title>Satelit SS-1 Akhirnya Terbang ke Orbit Rendah Bumi</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/01/06/54/2741511/satelit-ss-1-akhirnya-terbang-ke-orbit-rendah-bumi</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/01/06/54/2741511/satelit-ss-1-akhirnya-terbang-ke-orbit-rendah-bumi</guid><pubDate>Jum'at 06 Januari 2023 16:36 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/06/54/2741511/satelit-ss-1-akhirnya-terbang-ke-orbit-rendah-bumi-kA62Vfaegu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Satelit Lokal.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/06/54/2741511/satelit-ss-1-akhirnya-terbang-ke-orbit-rendah-bumi-kA62Vfaegu.jpg</image><title>Satelit Lokal.</title></images><description>SATELIT pertama karya anak bangsa Surya Satellite-1 (SS-1) resmi diluncurkan dari International Space Station (ISS). Satelit nano pertama ini diterbangkan ke orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO).

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru Triharjanto mengatakan bahwa SS-1 akan beroperasi di ketinggian 400-420 km di atas permukaan bumi dengan sudut inklinasi 51,7 derajat.

Nantinya satelit itu akan berfungsi sebagai (Automatic Package Radio System) untuk kebutuhan Radio Amatir (ORARI) dan juga dapat difungsikan untuk komunikasi dalam bentuk SMS gratis sekaligus sebagai alat pedeteksi kebencanaan.

&quot;Pelepasan SS-1 menuju orbit akan memberikan suntikan motivasi terhadap pentingnya penguasaan teknologi satelit untuk Indonesia. Selain itu juga untuk membangun kapabilitas generasi muda dalam penguasaan teknologi satelit,&quot; ungkap Heru.

&quot;BRIN akan selalu mendukung pengembangan satelit yang dikembangkan oleh universitas maupun startup Indonesia dengan keahlian yang telah dimiliki, dalam skema dukungan riset, serta fasilitas pengujian dan integrasi satelit yang disiapkan oleh BRIN,&amp;rdquo; tambahnya.

Satelit nano SS-1 sendiri memiliki dimensi yang sangat kecil, yaitu hanya 10 x 10 x 11.35 cm dengan berat hingga 1,3 kg. Ukuran satelit nano ini jauh lebih ke il dibanding satelit konvensional yang berukuran meteran dengan bobot hingga berton-ton.

SatelitbSS-1 diinisiasi oleh engineer muda Indonesia dari Surya University bekerja sama dengan ORARIsejak Maret 2016. Pada 2017, SS-1 memulai pengerjaan dan pelatihan pembuatan nano satelit dengan supervisi dari para periset di Pusat Teknologi Satelit.

Satelit SS-1 dikembangkan oleh tujuh orang mahasiswa dari Surya University, yaitu Hery Steven Mindarno, Setra Yoman Prahyang, M. Zulfa Dhiyaulfaq, Suhandinata, Afiq Herdika Sulistya, Roberto Gunawan, dan Correy Ananta Adhilaksma.Peluncuran dan pelepasan SS-1 ke orbit juga tak lepas dari peran  United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) dan Japan  Aerospace Exploration Agency (JAXA). Pada Februari 2018, Tim SS-1  mengikuti sayembara program KiboCUBE yang diinisiasi oleh kedua  organisasi antariksa tersebut.

Pada Agustus 2018, Tim SS-1 diumumkan menjadi pemenang pada sayembara  tesebut sehingga memperoleh slot peluncuran Nanosatelit dari ISS. SS-1  kemudian melewati beberapa uji coba yang terdiri dari Final Functional  Testing hingga Environment Testing yang dilakukan di Pusat Teknologi  Satelit LAPAN, Bogor.

Setra Yoman Prahyang, selaku pemimpin proyek mengaku bersyukur desain  satelit ini dapat bersaing dengan cubesat internasional lainnya  sehingga memperoleh slot peluncuran dari ISS. Ia juga turut berterima  kasih telah mendapat akses ke fasilitas pengujian BRIN, seperti  vibration test, vacuum test dan thermal test.

&amp;ldquo;Melalui pelepasan SS-1 ke orbit ini, kami berharap dapat  mempromosikan Nano Satellite pertama Indonesia yang akan diorbitkan ke  luar angkasa. Sekaligus juga ingin menginspirasi praktisi, akademisi dan  peneliti generasi muda di Indonesia khususnya di bidang keantariksaan,&amp;rdquo;  pungkas Setra.</description><content:encoded>SATELIT pertama karya anak bangsa Surya Satellite-1 (SS-1) resmi diluncurkan dari International Space Station (ISS). Satelit nano pertama ini diterbangkan ke orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO).

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru Triharjanto mengatakan bahwa SS-1 akan beroperasi di ketinggian 400-420 km di atas permukaan bumi dengan sudut inklinasi 51,7 derajat.

Nantinya satelit itu akan berfungsi sebagai (Automatic Package Radio System) untuk kebutuhan Radio Amatir (ORARI) dan juga dapat difungsikan untuk komunikasi dalam bentuk SMS gratis sekaligus sebagai alat pedeteksi kebencanaan.

&quot;Pelepasan SS-1 menuju orbit akan memberikan suntikan motivasi terhadap pentingnya penguasaan teknologi satelit untuk Indonesia. Selain itu juga untuk membangun kapabilitas generasi muda dalam penguasaan teknologi satelit,&quot; ungkap Heru.

&quot;BRIN akan selalu mendukung pengembangan satelit yang dikembangkan oleh universitas maupun startup Indonesia dengan keahlian yang telah dimiliki, dalam skema dukungan riset, serta fasilitas pengujian dan integrasi satelit yang disiapkan oleh BRIN,&amp;rdquo; tambahnya.

Satelit nano SS-1 sendiri memiliki dimensi yang sangat kecil, yaitu hanya 10 x 10 x 11.35 cm dengan berat hingga 1,3 kg. Ukuran satelit nano ini jauh lebih ke il dibanding satelit konvensional yang berukuran meteran dengan bobot hingga berton-ton.

SatelitbSS-1 diinisiasi oleh engineer muda Indonesia dari Surya University bekerja sama dengan ORARIsejak Maret 2016. Pada 2017, SS-1 memulai pengerjaan dan pelatihan pembuatan nano satelit dengan supervisi dari para periset di Pusat Teknologi Satelit.

Satelit SS-1 dikembangkan oleh tujuh orang mahasiswa dari Surya University, yaitu Hery Steven Mindarno, Setra Yoman Prahyang, M. Zulfa Dhiyaulfaq, Suhandinata, Afiq Herdika Sulistya, Roberto Gunawan, dan Correy Ananta Adhilaksma.Peluncuran dan pelepasan SS-1 ke orbit juga tak lepas dari peran  United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) dan Japan  Aerospace Exploration Agency (JAXA). Pada Februari 2018, Tim SS-1  mengikuti sayembara program KiboCUBE yang diinisiasi oleh kedua  organisasi antariksa tersebut.

Pada Agustus 2018, Tim SS-1 diumumkan menjadi pemenang pada sayembara  tesebut sehingga memperoleh slot peluncuran Nanosatelit dari ISS. SS-1  kemudian melewati beberapa uji coba yang terdiri dari Final Functional  Testing hingga Environment Testing yang dilakukan di Pusat Teknologi  Satelit LAPAN, Bogor.

Setra Yoman Prahyang, selaku pemimpin proyek mengaku bersyukur desain  satelit ini dapat bersaing dengan cubesat internasional lainnya  sehingga memperoleh slot peluncuran dari ISS. Ia juga turut berterima  kasih telah mendapat akses ke fasilitas pengujian BRIN, seperti  vibration test, vacuum test dan thermal test.

&amp;ldquo;Melalui pelepasan SS-1 ke orbit ini, kami berharap dapat  mempromosikan Nano Satellite pertama Indonesia yang akan diorbitkan ke  luar angkasa. Sekaligus juga ingin menginspirasi praktisi, akademisi dan  peneliti generasi muda di Indonesia khususnya di bidang keantariksaan,&amp;rdquo;  pungkas Setra.</content:encoded></item></channel></rss>
