<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kaleidoskop 2022: Tren Otomotif Setelah Pandemi Covid-19</title><description>Pandemi Covid-19 yang terjadi pada Maret 2020 mengoyak berbagai sektor ekonomi, termasuk otomotif. Berikut trend otomotif usai pandemi.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/12/24/52/2733381/kaleidoskop-2022-tren-otomotif-setelah-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2022/12/24/52/2733381/kaleidoskop-2022-tren-otomotif-setelah-pandemi-covid-19"/><item><title>Kaleidoskop 2022: Tren Otomotif Setelah Pandemi Covid-19</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/12/24/52/2733381/kaleidoskop-2022-tren-otomotif-setelah-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2022/12/24/52/2733381/kaleidoskop-2022-tren-otomotif-setelah-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Sabtu 24 Desember 2022 09:00 WIB</pubDate><dc:creator>Citra Dara Vresti Trisna</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/12/24/52/2733381/kaleidoskop-2022-tren-otomotif-setelah-pandemi-covid-19-xI745P3YNh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Dok.Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/12/24/52/2733381/kaleidoskop-2022-tren-otomotif-setelah-pandemi-covid-19-xI745P3YNh.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Dok.Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi Covid-19 yang terjadi pada Maret 2020 mengoyak berbagai sektor ekonomi, termasuk otomotif. Penjualan produk otomotif jeblok secara signifikan. Goncangan ekonomi akibat pandemi mengubah perilaku masyarakat dari agresif menjadi wait and see.
Berdasarkan pemaparan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan kendaraan menurun drastis akibat banyak orang menunda membeli kendaraan. Ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat memilih untuk mengalokasikan dana untuk memulai usaha.
Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiharto mengatakan, agar dapat segera keluar dari keterpurukan, pihaknya mengajak pemerintah duduk bersama guna mencari masukan agar industri otomotif kembali tumbuh.
BACA JUGA:Kaleidoskop 2022: Penerapan Kendaraan Listrik Didorong KTT G20

Baru pada tahun 2021 pemerintah mengeluarkan kebijakan diskon pajak penjualan atas barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) hingga 100% pada kendaraan tipe tertentu. Peluang dari pemerintah ini dimanfaatkan oleh Gaikindo dengan menyelenggarakan pameran otomotif GIIAS 2021.
Insentif yang diberikan pemerintah tersebut diberikan pemerintah untuk menggairahkan kembali pasar otomotif di Indonesia. Kebijakan tersebut berbuah manis karena dapat mendongkrak industri otomotif di tahun 2021, khususnya untuk roda empat.
BACA JUGA:Beli Mobil Listrik Dapat Subsidi Rp80 Juta, Menperin: Masih Dihitung

&amp;ldquo;Itu terbukti bahwa itu efektif, sehingga angka penjualan kamu tumbuh luar biasa ditahun 2021,&amp;rdquo; kata Jongkie.
Jongkie mengungkapkan, pada tahun 2021 target penjualan kendaraan bermotor hanya 750 ribu unit. Berkat insentif yang diberikan pemerintah, penjualan kendaraan tumbuh dan melampaui target dan berhasil meningkat hingga 66,7% dibandingkan tahun 2020 yang hanya 532.027 unit.Sementara untuk roda dua, masih terpuruk dan bahkan tidak dapat mengembalikan penjualan motor hingga tahun 2022. Penjualan motor di tahun 2021 dan 2022 tidak dapat menyamai target penjualan seperti sebelum pandemi Covid-19.
Hal senada diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Menperin menilai, kinerja industri otomotif mampu melaju kencang di tengah pandemi Covid-19 yang ditandai dengan pertumbuhan industri alat angkutan yang mencapai 27,84% pada triwulan III tahun 2021.
&amp;ldquo;Pertumbuhan dua digit ini dicetak oleh industri alat angkutan selama dua triwulan berturut-turut. Saya mengapresiasi sektor ini sangat kencang pertumbuhannya,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip dari laman resmi Kementerian Perindustrian.
Menperin menyebut angka penjualan pada periode Januari-September 2021 mencapai 600.344 unit atau meningkat dibanding periode sebelumnya, yakni 407.390 unit.
Kendaraan LCGC jadi pilihan
Menperin mengungkapkan, perkembangan industri otomotif didukung oleh 21 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat dengan total investasi mencapai Rp71,35 triliun. Di sisi lain, Indonesia punya peluang pasar yang cukup besar dan luas untuk produk otomotif.
Menperin menyebut pangsa pasar ekspor kendaraan bermotor roda empat telah diterapkan dan sudah mencapai 80 negara.
Ia mengungkapkan, kinerja ekspor pada periode Januari-September 2021 tercatat sebanyak 207 ribu unit kendaraan CBU dengan nilai Rp37,65 triliun. Sementara untuk CKD menghasilkan hingga Rp0,96 triliun dan 65 juta pieces komponen seharga Rp21,86 triliun.Potensi ini dimanfaatkan pemerintah untuk mengarahkan industri otomotif terus berkembang menuju tren baru global untuk memproduksi mobil murah yang ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) dengan harga di bawah Rp300 juta.
Karena, sebelumnya PPnBM 100% diberikan kepada mobil yang memiliki local purchase 60% sebagaimana diatur dalam Permenkeu No 120 Tahun 2021. Regulasi tersebut menjelaskan diskon PPnBM diberikan untuk mobil berkapasitas di bawah 1.500 cc.
Kendaraan berkapasitas 1.501-2.500 cc berpenggerak 4x2 diberikan diskon hingga 50%, sedangkan untuk yang berpenggerak 4x4 diberikan diskon 25%.
&amp;ldquo;Produk dengan segmen tersebut mendominasi pangsa pasar atau sesuai dengan daya beli masyarakat, yaitu sebesar lebih dari 60%. Juga memiliki rata-rata kandungan lokal yang tinggi, sehingga berpeluang menjadi basis ekspor untuk negara-negara berkembang,&amp;rdquo; kata Menperin.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi Covid-19 yang terjadi pada Maret 2020 mengoyak berbagai sektor ekonomi, termasuk otomotif. Penjualan produk otomotif jeblok secara signifikan. Goncangan ekonomi akibat pandemi mengubah perilaku masyarakat dari agresif menjadi wait and see.
Berdasarkan pemaparan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan kendaraan menurun drastis akibat banyak orang menunda membeli kendaraan. Ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat memilih untuk mengalokasikan dana untuk memulai usaha.
Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiharto mengatakan, agar dapat segera keluar dari keterpurukan, pihaknya mengajak pemerintah duduk bersama guna mencari masukan agar industri otomotif kembali tumbuh.
BACA JUGA:Kaleidoskop 2022: Penerapan Kendaraan Listrik Didorong KTT G20

Baru pada tahun 2021 pemerintah mengeluarkan kebijakan diskon pajak penjualan atas barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) hingga 100% pada kendaraan tipe tertentu. Peluang dari pemerintah ini dimanfaatkan oleh Gaikindo dengan menyelenggarakan pameran otomotif GIIAS 2021.
Insentif yang diberikan pemerintah tersebut diberikan pemerintah untuk menggairahkan kembali pasar otomotif di Indonesia. Kebijakan tersebut berbuah manis karena dapat mendongkrak industri otomotif di tahun 2021, khususnya untuk roda empat.
BACA JUGA:Beli Mobil Listrik Dapat Subsidi Rp80 Juta, Menperin: Masih Dihitung

&amp;ldquo;Itu terbukti bahwa itu efektif, sehingga angka penjualan kamu tumbuh luar biasa ditahun 2021,&amp;rdquo; kata Jongkie.
Jongkie mengungkapkan, pada tahun 2021 target penjualan kendaraan bermotor hanya 750 ribu unit. Berkat insentif yang diberikan pemerintah, penjualan kendaraan tumbuh dan melampaui target dan berhasil meningkat hingga 66,7% dibandingkan tahun 2020 yang hanya 532.027 unit.Sementara untuk roda dua, masih terpuruk dan bahkan tidak dapat mengembalikan penjualan motor hingga tahun 2022. Penjualan motor di tahun 2021 dan 2022 tidak dapat menyamai target penjualan seperti sebelum pandemi Covid-19.
Hal senada diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Menperin menilai, kinerja industri otomotif mampu melaju kencang di tengah pandemi Covid-19 yang ditandai dengan pertumbuhan industri alat angkutan yang mencapai 27,84% pada triwulan III tahun 2021.
&amp;ldquo;Pertumbuhan dua digit ini dicetak oleh industri alat angkutan selama dua triwulan berturut-turut. Saya mengapresiasi sektor ini sangat kencang pertumbuhannya,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dikutip dari laman resmi Kementerian Perindustrian.
Menperin menyebut angka penjualan pada periode Januari-September 2021 mencapai 600.344 unit atau meningkat dibanding periode sebelumnya, yakni 407.390 unit.
Kendaraan LCGC jadi pilihan
Menperin mengungkapkan, perkembangan industri otomotif didukung oleh 21 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat dengan total investasi mencapai Rp71,35 triliun. Di sisi lain, Indonesia punya peluang pasar yang cukup besar dan luas untuk produk otomotif.
Menperin menyebut pangsa pasar ekspor kendaraan bermotor roda empat telah diterapkan dan sudah mencapai 80 negara.
Ia mengungkapkan, kinerja ekspor pada periode Januari-September 2021 tercatat sebanyak 207 ribu unit kendaraan CBU dengan nilai Rp37,65 triliun. Sementara untuk CKD menghasilkan hingga Rp0,96 triliun dan 65 juta pieces komponen seharga Rp21,86 triliun.Potensi ini dimanfaatkan pemerintah untuk mengarahkan industri otomotif terus berkembang menuju tren baru global untuk memproduksi mobil murah yang ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) dengan harga di bawah Rp300 juta.
Karena, sebelumnya PPnBM 100% diberikan kepada mobil yang memiliki local purchase 60% sebagaimana diatur dalam Permenkeu No 120 Tahun 2021. Regulasi tersebut menjelaskan diskon PPnBM diberikan untuk mobil berkapasitas di bawah 1.500 cc.
Kendaraan berkapasitas 1.501-2.500 cc berpenggerak 4x2 diberikan diskon hingga 50%, sedangkan untuk yang berpenggerak 4x4 diberikan diskon 25%.
&amp;ldquo;Produk dengan segmen tersebut mendominasi pangsa pasar atau sesuai dengan daya beli masyarakat, yaitu sebesar lebih dari 60%. Juga memiliki rata-rata kandungan lokal yang tinggi, sehingga berpeluang menjadi basis ekspor untuk negara-negara berkembang,&amp;rdquo; kata Menperin.</content:encoded></item></channel></rss>
