<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Program BBG Disebut Gagal, Akademisi: Jangan Terulang di Mobil Listrik</title><description>SPKLU merupakan infrastruktur penting penunjang kebijakan terkait percepatan kendaraan listrik di Indonesia.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/11/21/86/2712104/program-bbg-disebut-gagal-akademisi-jangan-terulang-di-mobil-listrik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2022/11/21/86/2712104/program-bbg-disebut-gagal-akademisi-jangan-terulang-di-mobil-listrik"/><item><title>Program BBG Disebut Gagal, Akademisi: Jangan Terulang di Mobil Listrik</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/11/21/86/2712104/program-bbg-disebut-gagal-akademisi-jangan-terulang-di-mobil-listrik</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2022/11/21/86/2712104/program-bbg-disebut-gagal-akademisi-jangan-terulang-di-mobil-listrik</guid><pubDate>Senin 21 November 2022 23:33 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Fadli Ramadan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/21/86/2712104/program-bbg-disebut-gagal-akademisi-jangan-terulang-di-mobil-listrik-lGifYpR1aS.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: PLN)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/21/86/2712104/program-bbg-disebut-gagal-akademisi-jangan-terulang-di-mobil-listrik-lGifYpR1aS.jpeg</image><title>Ilustrasi. (Foto: PLN)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia masih minim.
Menurut Djoko, SPKLU merupakan infrastruktur penting penunjang kebijakan terkait percepatan kendaraan listrik di Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan infrastruktur akan membuat ekosistem kendaraan listrik akan meningkat.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini juga mengungkapkan, salah satu alasan masyarakat enggan berpindah ke kendaraan listrik adalah karena SPKLU masih jarang ditemui.
BACA JUGA:Sebegini Investasi Pemerintah Jerman Bangun SPKLU, Bagaimana dengan Indonesia?

Hal tersebut disampaikan Djoko usai touring Jakarta-Bali sejauh 1.250 kilometer yang ditempuh selama empat hari. Selama touring, rombongan hanya berhenti di tujuh lokasi untuk isi ulang baterai kendaraan listrik.
Adapun pemberhentian selama touring adalah Rest Area 207 A Cirebon, Semarang, Solo, Rest Area 626 A Madiun, Surabaya, Jember, dan Bali.
&amp;ldquo;Disimpulkan untuk saat ini, kendaraan listrik untuk perjalanan jarak jauh masih terkendala. Kendalanya adalah masih terbatasnya penyedian insfrastruktur SPKLU,&amp;rdquo; kata Djoko dalam keterangan tertulis.
BACA JUGA:Jadi Akselerator Pengurangan Emisi Karbon, BRI bersama PLN Resmikan SPKLU di Jakarta

Untuk sementara waktu, kata dia, mobil listrik hanya cocok untuk mobilitas perkotaan. Meski begitu, jumlah SPKLU di perkotaan dan tempat strategis perlu ditambah SPKLU.
Djoko berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait, memperhatikan infrastruktur pendukung kendaraan listrik di seluruh Indonesia.
Ia meminta pemerintah tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika program penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) gagal akibat infrastruktur yang masih minim.&amp;ldquo;Bercermin dari rogram penggunaan BBG yang gagal karena minimnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas &amp;not;(SPBG). Hal yang sama jangan sampai terulang kembali jika menganggap kendaraan listrik akan menjadi sarana transportasi di masa depan,&amp;rdquo; ujarnya.
Ia meminta pemerintah bekerja sama dengan PT PLN (Persero) yang mampu membantu mengadakan infrastruktur untuk mendukung percepatan kendaraan listrik di Indonesia.
Sementara itu, Executive Vice President Retail Regional Jawa, Madura, dan Bali Abdul Farid menyampaikan kegiatan proof of concept merupakan langkah awal agar kendaraan listrik, khususnya roda dua dapat segera diterima masyarakat Indonesia.
&amp;ldquo;Acara ini sangat strategis, yang dimaksudkan untuk mendukung iklim ekosistem kendaraan listrik. Terutama roda dua agar bisa diterima di masyarakat, karena segmen motor listrik ini tentu membutuhkan harga yang lebih bersaing,&amp;rdquo; ujar Farid.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia masih minim.
Menurut Djoko, SPKLU merupakan infrastruktur penting penunjang kebijakan terkait percepatan kendaraan listrik di Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan infrastruktur akan membuat ekosistem kendaraan listrik akan meningkat.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini juga mengungkapkan, salah satu alasan masyarakat enggan berpindah ke kendaraan listrik adalah karena SPKLU masih jarang ditemui.
BACA JUGA:Sebegini Investasi Pemerintah Jerman Bangun SPKLU, Bagaimana dengan Indonesia?

Hal tersebut disampaikan Djoko usai touring Jakarta-Bali sejauh 1.250 kilometer yang ditempuh selama empat hari. Selama touring, rombongan hanya berhenti di tujuh lokasi untuk isi ulang baterai kendaraan listrik.
Adapun pemberhentian selama touring adalah Rest Area 207 A Cirebon, Semarang, Solo, Rest Area 626 A Madiun, Surabaya, Jember, dan Bali.
&amp;ldquo;Disimpulkan untuk saat ini, kendaraan listrik untuk perjalanan jarak jauh masih terkendala. Kendalanya adalah masih terbatasnya penyedian insfrastruktur SPKLU,&amp;rdquo; kata Djoko dalam keterangan tertulis.
BACA JUGA:Jadi Akselerator Pengurangan Emisi Karbon, BRI bersama PLN Resmikan SPKLU di Jakarta

Untuk sementara waktu, kata dia, mobil listrik hanya cocok untuk mobilitas perkotaan. Meski begitu, jumlah SPKLU di perkotaan dan tempat strategis perlu ditambah SPKLU.
Djoko berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait, memperhatikan infrastruktur pendukung kendaraan listrik di seluruh Indonesia.
Ia meminta pemerintah tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika program penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) gagal akibat infrastruktur yang masih minim.&amp;ldquo;Bercermin dari rogram penggunaan BBG yang gagal karena minimnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas &amp;not;(SPBG). Hal yang sama jangan sampai terulang kembali jika menganggap kendaraan listrik akan menjadi sarana transportasi di masa depan,&amp;rdquo; ujarnya.
Ia meminta pemerintah bekerja sama dengan PT PLN (Persero) yang mampu membantu mengadakan infrastruktur untuk mendukung percepatan kendaraan listrik di Indonesia.
Sementara itu, Executive Vice President Retail Regional Jawa, Madura, dan Bali Abdul Farid menyampaikan kegiatan proof of concept merupakan langkah awal agar kendaraan listrik, khususnya roda dua dapat segera diterima masyarakat Indonesia.
&amp;ldquo;Acara ini sangat strategis, yang dimaksudkan untuk mendukung iklim ekosistem kendaraan listrik. Terutama roda dua agar bisa diterima di masyarakat, karena segmen motor listrik ini tentu membutuhkan harga yang lebih bersaing,&amp;rdquo; ujar Farid.</content:encoded></item></channel></rss>
