<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Surabaya Hujan Es, Berikut Penyebabnya dari Kacamata Sains</title><description>Fenomena hujan es kembali terjadi di Indonesia. Kali ini, menimpa sejumlah wilayah di Surabaya pada Senin (21/2) kemarin.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/22/56/2551027/surabaya-hujan-es-berikut-penyebabnya-dari-kacamata-sains</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/22/56/2551027/surabaya-hujan-es-berikut-penyebabnya-dari-kacamata-sains"/><item><title>Surabaya Hujan Es, Berikut Penyebabnya dari Kacamata Sains</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/22/56/2551027/surabaya-hujan-es-berikut-penyebabnya-dari-kacamata-sains</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/22/56/2551027/surabaya-hujan-es-berikut-penyebabnya-dari-kacamata-sains</guid><pubDate>Selasa 22 Februari 2022 10:03 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/22/56/2551027/surabaya-hujan-es-berikut-penyebabnya-dari-kacamata-sains-WOsNLGE1D1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Surabaya hujan es, berikut penyebabnya dari kacamata sains (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/22/56/2551027/surabaya-hujan-es-berikut-penyebabnya-dari-kacamata-sains-WOsNLGE1D1.jpg</image><title>Surabaya hujan es, berikut penyebabnya dari kacamata sains (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Fenomena hujan es kembali terjadi di Indonesia. Kali ini, menimpa sejumlah wilayah di Surabaya pada Senin (21/2) kemarin. Lantas apa penyebab hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
Melansir laman Teknik Lingkungan Adhi Tama Institute of Technologi (ITATS), Selasa (22/2/2022), ada beberapa faktor yang menyebabkan hujan es.
Di antaranya, tersedianya energi potensial di udara, kelembaban udara yang cukup tinggi, serta udara lembab tersebut berada di bawah udara kering.
BACA JUGA:2.700 Tahun Lalu Badai Matahari Terkuat Terjadi, Apa Dampaknya Jika Berlangsung Sekarang?
Hujan es sendiri bisa terjadi di Indonesia karena wilayah ini memiliki kelembaban yang cukup tinggi, meskipun beriklim tropis.
Kemudian, hujan es juga bisa terjadi karena munculnya tumpukan awan cumulonimbus. Kemunculan awan tersebut merupakan bagian dari siklus hidrologi.
Energi panas yang dipancarkan matahari dapat membuat air laut mengalami penguapan. Uap air itu lalu naik ke atmosfer dan membentuk awan kemudian pada ketinggian tertentu akan mencapai suhu yang sangat dingin.
Awan cumulonimbus terbentuk dari awan-awan kecil yang berkumpul dan berubah menjadi tumpukan awan yang tebal karena hembusan angin. Tumpukan awan tersebut berisi air, es dan muatan listrik berupa petir.
BACA JUGA:Alquran dan Sains, Menjelaskan Badai Angin Mampu Tumbangkan Pohon dan Timbulkan Ombak Besar
Lantaran suhu yang dingin, butiran es cumulonimbus tidak mencair secara sempurna. Butiran es ini jatuh ke permukaan bumi hingga kemudian disebut sebagai hujan es.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam akun Twitternya memaparkan, fenomena hujan es lebih sering terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba pada siang atau sore hari.
BMKG menyebut hujan es bersifat sangat lokal dengan luasan berkisar 5-10 kilometer dan durasinya singkat, yakni sekitar kurang dari 10 menit saja.</description><content:encoded>JAKARTA - Fenomena hujan es kembali terjadi di Indonesia. Kali ini, menimpa sejumlah wilayah di Surabaya pada Senin (21/2) kemarin. Lantas apa penyebab hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
Melansir laman Teknik Lingkungan Adhi Tama Institute of Technologi (ITATS), Selasa (22/2/2022), ada beberapa faktor yang menyebabkan hujan es.
Di antaranya, tersedianya energi potensial di udara, kelembaban udara yang cukup tinggi, serta udara lembab tersebut berada di bawah udara kering.
BACA JUGA:2.700 Tahun Lalu Badai Matahari Terkuat Terjadi, Apa Dampaknya Jika Berlangsung Sekarang?
Hujan es sendiri bisa terjadi di Indonesia karena wilayah ini memiliki kelembaban yang cukup tinggi, meskipun beriklim tropis.
Kemudian, hujan es juga bisa terjadi karena munculnya tumpukan awan cumulonimbus. Kemunculan awan tersebut merupakan bagian dari siklus hidrologi.
Energi panas yang dipancarkan matahari dapat membuat air laut mengalami penguapan. Uap air itu lalu naik ke atmosfer dan membentuk awan kemudian pada ketinggian tertentu akan mencapai suhu yang sangat dingin.
Awan cumulonimbus terbentuk dari awan-awan kecil yang berkumpul dan berubah menjadi tumpukan awan yang tebal karena hembusan angin. Tumpukan awan tersebut berisi air, es dan muatan listrik berupa petir.
BACA JUGA:Alquran dan Sains, Menjelaskan Badai Angin Mampu Tumbangkan Pohon dan Timbulkan Ombak Besar
Lantaran suhu yang dingin, butiran es cumulonimbus tidak mencair secara sempurna. Butiran es ini jatuh ke permukaan bumi hingga kemudian disebut sebagai hujan es.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam akun Twitternya memaparkan, fenomena hujan es lebih sering terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba pada siang atau sore hari.
BMKG menyebut hujan es bersifat sangat lokal dengan luasan berkisar 5-10 kilometer dan durasinya singkat, yakni sekitar kurang dari 10 menit saja.</content:encoded></item></channel></rss>
