<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Badai Api Sempat Menyelimuti Bumi dan Picu Zaman Es</title><description>Sekitar 12.800 tahun lalu, 10 persen permukaan Bumi tiba-tiba diselimuti oleh api yang membara, menyaingi badai yang memusnahkan dinosaurus.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/09/56/2544691/badai-api-sempat-menyelimuti-bumi-dan-picu-zaman-es</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/09/56/2544691/badai-api-sempat-menyelimuti-bumi-dan-picu-zaman-es"/><item><title>Badai Api Sempat Menyelimuti Bumi dan Picu Zaman Es</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/09/56/2544691/badai-api-sempat-menyelimuti-bumi-dan-picu-zaman-es</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2022/02/09/56/2544691/badai-api-sempat-menyelimuti-bumi-dan-picu-zaman-es</guid><pubDate>Rabu 09 Februari 2022 15:52 WIB</pubDate><dc:creator>Ahmad Muhajir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/09/56/2544691/badai-api-sempat-menyelimuti-bumi-dan-picu-zaman-es-2bzgyKnsLw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Badai api sempat menyelimuti Bumi dan picu zaman es (Foto: Peakpx)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/09/56/2544691/badai-api-sempat-menyelimuti-bumi-dan-picu-zaman-es-2bzgyKnsLw.jpg</image><title>Badai api sempat menyelimuti Bumi dan picu zaman es (Foto: Peakpx)</title></images><description>JAKARTA - Sekitar 12.800 tahun lalu, 10 persen permukaan Bumi tiba-tiba diselimuti oleh api yang membara, menyaingi badai yang memusnahkan dinosaurus.
Dilansir dari Science Alert, Rabu (9/2/2022), kemungkinan besar badai api tersebut disebabkan oleh pecahan komet yang berukuran sekitar 100 km.
Ketika awan debu menyelimuti Bumi, memicu dimulainya zaman es skala kecil yang membuat planet ini tetap dingin selama seribu tahun kemudian.
BACA JUGA:Penemuan Spesies Baru Cacing Berkepala Mirip Martil Hebohkan Ilmuwan
Kondisi itu, sama seperti Bumi ketika berada di masa 100.000 tahun lalu yang tertutup gletser. Setelah api padam, kehidupan dimulai lagi.
&quot;Hipotesisnya adalah komet besar terfragmentasi dan bongkahannya berdampak pada Bumi, menyebabkan bencana ini,&quot; kata Adrian Melott  dari University of Kansas, yang ikut menulis studi pada 2018..
BACA JUGA:Foto Sosok Alien Tiduran di Mars, Bukti Kehidupan Planet Merah?
&quot;Ada sejumlah tanda kimia yang berbeda, karbon dioksida, nitrat, amonia, dan lain-lain, kesemuanya tampak berkomposisi 10 persen dari permukaan Bumi, atau sekitar 10 juta km habis terbakar,&quot; ujarnya.
Guna mengingat kembali badai api dan gelombang kejut dari peristiwa besar ini, sejumlah besar penanda geokimia dan isotop diukur dari lebih dari 170 situs di seluruh dunia, melibatkan tim yang terdiri dari 24 ilmuwan.Salah satu bagian analisis yang dilakukan, mengamati pola tingkat serbuk sari, ini menunjukkan bahwa hutan pinus tiba-tiba terbakar dan berubah menjadi pohon poplar, spesies yang mengkhususkan diri menutupi tanah tandus.
Konsentrasi tinggi platinum, yang sering ditemukan di asteroid dan komet, dan tingkat debu yang tinggi juga dicatat dalam sampel, lalu dianalisis oleh para peneliti.
Hasilnya, di samping peningkatan konsentrasi aerosol pembakaran, akan bisa dilihat apakah banyak biomassa yang terbakar, sepeti amonium, nitrat , dan sebagainya..
Akhirnya, diketahui dampak dari badai api tersebut bikin tanaman mati, sumber makanan akan langka, dan gletser yang sebelumnya membeku mulai mencair lagi.
Tim tersebut berhipotesis, dampak yang begitu luas dari fragmen komet, dan badai api berikutnya, bertanggung jawab atas sedikit pendinginan ekstra yang dikenal sebagai periode Dryas Muda.
Perubahan suhu planet yang relatif singkat ini, terkadang disebabkan oleh perubahan arus laut, karena peningkatan debit air akibat mencairnya glester.</description><content:encoded>JAKARTA - Sekitar 12.800 tahun lalu, 10 persen permukaan Bumi tiba-tiba diselimuti oleh api yang membara, menyaingi badai yang memusnahkan dinosaurus.
Dilansir dari Science Alert, Rabu (9/2/2022), kemungkinan besar badai api tersebut disebabkan oleh pecahan komet yang berukuran sekitar 100 km.
Ketika awan debu menyelimuti Bumi, memicu dimulainya zaman es skala kecil yang membuat planet ini tetap dingin selama seribu tahun kemudian.
BACA JUGA:Penemuan Spesies Baru Cacing Berkepala Mirip Martil Hebohkan Ilmuwan
Kondisi itu, sama seperti Bumi ketika berada di masa 100.000 tahun lalu yang tertutup gletser. Setelah api padam, kehidupan dimulai lagi.
&quot;Hipotesisnya adalah komet besar terfragmentasi dan bongkahannya berdampak pada Bumi, menyebabkan bencana ini,&quot; kata Adrian Melott  dari University of Kansas, yang ikut menulis studi pada 2018..
BACA JUGA:Foto Sosok Alien Tiduran di Mars, Bukti Kehidupan Planet Merah?
&quot;Ada sejumlah tanda kimia yang berbeda, karbon dioksida, nitrat, amonia, dan lain-lain, kesemuanya tampak berkomposisi 10 persen dari permukaan Bumi, atau sekitar 10 juta km habis terbakar,&quot; ujarnya.
Guna mengingat kembali badai api dan gelombang kejut dari peristiwa besar ini, sejumlah besar penanda geokimia dan isotop diukur dari lebih dari 170 situs di seluruh dunia, melibatkan tim yang terdiri dari 24 ilmuwan.Salah satu bagian analisis yang dilakukan, mengamati pola tingkat serbuk sari, ini menunjukkan bahwa hutan pinus tiba-tiba terbakar dan berubah menjadi pohon poplar, spesies yang mengkhususkan diri menutupi tanah tandus.
Konsentrasi tinggi platinum, yang sering ditemukan di asteroid dan komet, dan tingkat debu yang tinggi juga dicatat dalam sampel, lalu dianalisis oleh para peneliti.
Hasilnya, di samping peningkatan konsentrasi aerosol pembakaran, akan bisa dilihat apakah banyak biomassa yang terbakar, sepeti amonium, nitrat , dan sebagainya..
Akhirnya, diketahui dampak dari badai api tersebut bikin tanaman mati, sumber makanan akan langka, dan gletser yang sebelumnya membeku mulai mencair lagi.
Tim tersebut berhipotesis, dampak yang begitu luas dari fragmen komet, dan badai api berikutnya, bertanggung jawab atas sedikit pendinginan ekstra yang dikenal sebagai periode Dryas Muda.
Perubahan suhu planet yang relatif singkat ini, terkadang disebabkan oleh perubahan arus laut, karena peningkatan debit air akibat mencairnya glester.</content:encoded></item></channel></rss>
