<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puncak Bulan Purnama, Ini Penjelasan LAPAN</title><description>Dimulai dari Penanggalan Hijriah, adalah penanggalan yang digunakan oleh umat Islam.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2021/08/24/56/2460466/puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2021/08/24/56/2460466/puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan"/><item><title>Puncak Bulan Purnama, Ini Penjelasan LAPAN</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2021/08/24/56/2460466/puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2021/08/24/56/2460466/puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan</guid><pubDate>Selasa 24 Agustus 2021 17:37 WIB</pubDate><dc:creator>Intan Rakhmayanti Dewi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/08/24/56/2460466/puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan-UEZmDwZhWC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bulan (Foto: LTX)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/08/24/56/2460466/puncak-bulan-purnama-ini-penjelasan-lapan-UEZmDwZhWC.jpg</image><title>Bulan (Foto: LTX)</title></images><description>BANYAK orang menganggap bahwa puncak Bulan Purnama selalu jatuh di malam ke-15 penanggalan Hijriah. Benarkah demikian?

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Andi Pangerang menjelaskan melalui unggahan akun Instagram resmi LAPAN.
&amp;nbsp;
Dimulai dari Penanggalan Hijriah, adalah penanggalan yang digunakan oleh umat Islam yang mana sistemnya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

Fenomena yang digunakan untuk menandai tanggal 1 setiap bulannya adalah terlihatnya Bulan sabit muda yang sangat tipis, lazim disebut hilal, beberapa saat setelah Matahari terbenam.

&quot;Selang waktu dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya berkisar antara 29 hari 5,5 jam hingga 29 hari 20 jam,&quot; tulisnya.

Inilah yang membuat terkadang umur bulan dalam penanggalan Hijriah terkadang 29 hari, terkadang 30 hari, terkadang berselang-seling 29 dan 30 hari, terkadang dua bulan berturut-turut 29 hari dan terkadang dua bulan berturut-turut 30 hari.

Kemunculan hilal sendiri rata-rata 15 jam setelah fase Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis rata-rata 14 hari 18,4 jam.

Jadi, apabila selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis lebih kecil dari rata-ratanya, maka purnama astronomis akan jatuh pada malam ke-14.

Sedangkan jika selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama lebih besar dari rata-ratanya dan selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga kemunculan hilal lebih kecil atau sama dengan rata-ratanya, maka purnama astronomis akan jatuh pada malam ke-16.
</description><content:encoded>BANYAK orang menganggap bahwa puncak Bulan Purnama selalu jatuh di malam ke-15 penanggalan Hijriah. Benarkah demikian?

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Andi Pangerang menjelaskan melalui unggahan akun Instagram resmi LAPAN.
&amp;nbsp;
Dimulai dari Penanggalan Hijriah, adalah penanggalan yang digunakan oleh umat Islam yang mana sistemnya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

Fenomena yang digunakan untuk menandai tanggal 1 setiap bulannya adalah terlihatnya Bulan sabit muda yang sangat tipis, lazim disebut hilal, beberapa saat setelah Matahari terbenam.

&quot;Selang waktu dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya berkisar antara 29 hari 5,5 jam hingga 29 hari 20 jam,&quot; tulisnya.

Inilah yang membuat terkadang umur bulan dalam penanggalan Hijriah terkadang 29 hari, terkadang 30 hari, terkadang berselang-seling 29 dan 30 hari, terkadang dua bulan berturut-turut 29 hari dan terkadang dua bulan berturut-turut 30 hari.

Kemunculan hilal sendiri rata-rata 15 jam setelah fase Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis rata-rata 14 hari 18,4 jam.

Jadi, apabila selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis lebih kecil dari rata-ratanya, maka purnama astronomis akan jatuh pada malam ke-14.

Sedangkan jika selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama lebih besar dari rata-ratanya dan selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga kemunculan hilal lebih kecil atau sama dengan rata-ratanya, maka purnama astronomis akan jatuh pada malam ke-16.
</content:encoded></item></channel></rss>
