<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bola Tar Karbon Coklat Terdeteksi di Himalaya, Percepat Pencairan Glasial</title><description>Sebuah penelitian mendeteksi adanya bola tar karbon coklat di Himalaya. Ini diprediksi mempercepat pencairan glasial.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/09/16/2306565/bola-tar-karbon-coklat-terdeteksi-di-himalaya-percepat-pencairan-glasial</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/09/16/2306565/bola-tar-karbon-coklat-terdeteksi-di-himalaya-percepat-pencairan-glasial"/><item><title>Bola Tar Karbon Coklat Terdeteksi di Himalaya, Percepat Pencairan Glasial</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/09/16/2306565/bola-tar-karbon-coklat-terdeteksi-di-himalaya-percepat-pencairan-glasial</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/09/16/2306565/bola-tar-karbon-coklat-terdeteksi-di-himalaya-percepat-pencairan-glasial</guid><pubDate>Senin 09 November 2020 13:18 WIB</pubDate><dc:creator>Anjasman Situmorang</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/09/16/2306565/bola-tar-karbon-coklat-terdeteksi-di-himalaya-percepat-pencairan-glasial-mu5jAdOCrF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pegunungan Himalaya. (Foto: Andreas Gabler/Unsplash)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/09/16/2306565/bola-tar-karbon-coklat-terdeteksi-di-himalaya-percepat-pencairan-glasial-mu5jAdOCrF.jpg</image><title>Pegunungan Himalaya. (Foto: Andreas Gabler/Unsplash)</title></images><description>HIMALAYA yang memiliki puncak tertinggi di dunia yakni Gunung Everest sering disebut sebagai rumah cadangan salju  glasial terbesar di luar Arktik dan Antartika. Ini juga alasan mengapa banyak orang menyebutnya sebagai &quot;kutub ketiga&quot;.
Namun beberapa waktu lalu peneliti melaporkan mendeteksi bola tar karbon coklat di Himalaya. Ini diduga dampak dari polusi industri, dan diprediksi bakal mempercepat pencairan glasial di sana.
Baca juga:   Rusia Akan Buat Film di Stasiun Luar Angkasa, Dibintangi Wanita Tangguh&amp;nbsp;
 
Penelitian baru menganalisis komposisi partikel udara di atas pegunungan yang membentang dari India, Pakistan, Afghanistan, China, Bhutan, dan Nepal tersebut. Studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Science and Technology Letters mengungkap 28 persen dari partikel udara itu terdapat bola tar.
Salah satu zat karbon di atmosfer adalah karbon coklat. Karbon ini bercampur dengan oksigen serta unsur lain seperti nitrogen, sulfur, dan kalium. Hal ini diproduksi dalam pembakaran biomassa atau vegetasi yang akhirnya menciptakan bola tar.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wNC8yNS8xLzcyOTk2LzMv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sampel udara tersebut diambil di stasiun pencatat ketinggian jauh di lereng utama Himalaya. Jumlah tarbal diperkirakan terus bertambah seiring polusi udara yang semakin meningkat.
Dikutip dari IFL Science, Senin (9/11/2020), partikel itu kemungkinan didorong ke atas Himalaya oleh hujan sebelum akhirnya sampai ke tanah di es dataran tinggi Tibet.
Baca juga:   Update 1.1 Genshin Impact Hadirkan 4 Karakter Baru, Ini Rinciannya&amp;nbsp;
 
Bola tar ini menyerap cahaya dan panas, sehingga lebih sulit bagi salju dan es untuk memantulkan kembali sinar matahari. Akibatnya, gletser akan lebih mudah untuk mencair.
Para peneliti menyarankan berdasarkan penelitian model iklim masa depan ini harus menyertakan pengangkutan tarball jarak jauh untuk gambaran yang lebih akurat.</description><content:encoded>HIMALAYA yang memiliki puncak tertinggi di dunia yakni Gunung Everest sering disebut sebagai rumah cadangan salju  glasial terbesar di luar Arktik dan Antartika. Ini juga alasan mengapa banyak orang menyebutnya sebagai &quot;kutub ketiga&quot;.
Namun beberapa waktu lalu peneliti melaporkan mendeteksi bola tar karbon coklat di Himalaya. Ini diduga dampak dari polusi industri, dan diprediksi bakal mempercepat pencairan glasial di sana.
Baca juga:   Rusia Akan Buat Film di Stasiun Luar Angkasa, Dibintangi Wanita Tangguh&amp;nbsp;
 
Penelitian baru menganalisis komposisi partikel udara di atas pegunungan yang membentang dari India, Pakistan, Afghanistan, China, Bhutan, dan Nepal tersebut. Studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Science and Technology Letters mengungkap 28 persen dari partikel udara itu terdapat bola tar.
Salah satu zat karbon di atmosfer adalah karbon coklat. Karbon ini bercampur dengan oksigen serta unsur lain seperti nitrogen, sulfur, dan kalium. Hal ini diproduksi dalam pembakaran biomassa atau vegetasi yang akhirnya menciptakan bola tar.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wNC8yNS8xLzcyOTk2LzMv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sampel udara tersebut diambil di stasiun pencatat ketinggian jauh di lereng utama Himalaya. Jumlah tarbal diperkirakan terus bertambah seiring polusi udara yang semakin meningkat.
Dikutip dari IFL Science, Senin (9/11/2020), partikel itu kemungkinan didorong ke atas Himalaya oleh hujan sebelum akhirnya sampai ke tanah di es dataran tinggi Tibet.
Baca juga:   Update 1.1 Genshin Impact Hadirkan 4 Karakter Baru, Ini Rinciannya&amp;nbsp;
 
Bola tar ini menyerap cahaya dan panas, sehingga lebih sulit bagi salju dan es untuk memantulkan kembali sinar matahari. Akibatnya, gletser akan lebih mudah untuk mencair.
Para peneliti menyarankan berdasarkan penelitian model iklim masa depan ini harus menyertakan pengangkutan tarball jarak jauh untuk gambaran yang lebih akurat.</content:encoded></item></channel></rss>
