<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peneliti Kembangkan Aplikasi Pendeteksi Covid-19 Melalui Suara Batuk</title><description>Peneliti dari MIT sedang mengembangkan aplikasi pendeteksi virus corona (covid-19) melalui suara batuk.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/03/16/2303171/peneliti-kembangkan-aplikasi-pendeteksi-covid-19-melalui-suara-batuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/03/16/2303171/peneliti-kembangkan-aplikasi-pendeteksi-covid-19-melalui-suara-batuk"/><item><title>Peneliti Kembangkan Aplikasi Pendeteksi Covid-19 Melalui Suara Batuk</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/03/16/2303171/peneliti-kembangkan-aplikasi-pendeteksi-covid-19-melalui-suara-batuk</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2020/11/03/16/2303171/peneliti-kembangkan-aplikasi-pendeteksi-covid-19-melalui-suara-batuk</guid><pubDate>Selasa 03 November 2020 08:22 WIB</pubDate><dc:creator>Hantoro</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/03/16/2303171/peneliti-kembangkan-aplikasi-pendeteksi-covid-19-melalui-suara-batuk-XjrtmHFKlV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi pendeteksi virus corona (covid-19). (Foto: Heru Haryono/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/03/16/2303171/peneliti-kembangkan-aplikasi-pendeteksi-covid-19-melalui-suara-batuk-XjrtmHFKlV.jpg</image><title>Ilustrasi pendeteksi virus corona (covid-19). (Foto: Heru Haryono/Okezone)</title></images><description>ADA beberapa cara untuk mendeteksi virus corona (covid-19). Metode yang biasa dilakukan melalui tes medis swap. Tetapi ada juga cara yang bisa diterapkan sendiri, seperti menggunakan aplikasi yang dikembangkan para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Mereka coba menganalisis suara batuk untuk menentukan apakah orang tersebut terjangkit covid-19 atau tidak. Aplikasi ini menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) yang telah diuji menggunakan puluhan ribu sampel batuk serta kata-kata yang diucapkan.
Baca juga:   Mark Zuckerberg Sebut WhatsApp Kirim 100 Miliar Pesan per Hari&amp;nbsp;
 
Dikutip dari Ubergizmo, Selasa (3/11/2020), menurut para peneliti tersebut, berdasarkan hasil pengujian, aplikasi ini berhasil memiliki tingkat deteksi sebesar 98,5 persen terhadap mereka yang sebelumnya dipastikan mengidap virus corona. Lalu tingkat keberhasilan 100 persen terhadap mereka yang dianggap asimtomatik.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMi8xLzEyMzk5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Aplikasi ini belum tersedia untuk publik, tetapi para peneliti sedang berupaya mengubahnya menjadi metode yang lebih ramah pengguna serta menunggu persetujuan Pemerintah Amerika Serikat untuk dapat meluncurkannya ke publik.
Ini sangat penting karena pengujian skala luas adalah kunci dalam membantu mengurangi jumlah penularan covid-19. Di mana deteksi dini dapat membatasi jumlah orang dalam persebaran virus corona.
Baca juga:   Facebook Uji Fitur Dark Mode untuk Aplikasi Mobile&amp;nbsp;
 
Kemudian terkait apakah aplikasi ini menjadi metode yang lebih efektif atau tidak dibandingkan bentuk pengujian covid-19 yang lebih umum dilakukan, masih harus dilihat. Lalu ditegaskan bahwa aplikasi ini tidak boleh digunakan sebagai tes diagnostik medis.
Sebaliknya, aplikasi tersebut bisa bertindak sebagai bentuk peringatan. Jika mendeteksi Anda memiliki virus, bisa segera menguji diri sendiri untuk memastikannya, sebelum berpotensi menularkan kepada orang lain.</description><content:encoded>ADA beberapa cara untuk mendeteksi virus corona (covid-19). Metode yang biasa dilakukan melalui tes medis swap. Tetapi ada juga cara yang bisa diterapkan sendiri, seperti menggunakan aplikasi yang dikembangkan para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Mereka coba menganalisis suara batuk untuk menentukan apakah orang tersebut terjangkit covid-19 atau tidak. Aplikasi ini menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) yang telah diuji menggunakan puluhan ribu sampel batuk serta kata-kata yang diucapkan.
Baca juga:   Mark Zuckerberg Sebut WhatsApp Kirim 100 Miliar Pesan per Hari&amp;nbsp;
 
Dikutip dari Ubergizmo, Selasa (3/11/2020), menurut para peneliti tersebut, berdasarkan hasil pengujian, aplikasi ini berhasil memiliki tingkat deteksi sebesar 98,5 persen terhadap mereka yang sebelumnya dipastikan mengidap virus corona. Lalu tingkat keberhasilan 100 persen terhadap mereka yang dianggap asimtomatik.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMi8xLzEyMzk5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Aplikasi ini belum tersedia untuk publik, tetapi para peneliti sedang berupaya mengubahnya menjadi metode yang lebih ramah pengguna serta menunggu persetujuan Pemerintah Amerika Serikat untuk dapat meluncurkannya ke publik.
Ini sangat penting karena pengujian skala luas adalah kunci dalam membantu mengurangi jumlah penularan covid-19. Di mana deteksi dini dapat membatasi jumlah orang dalam persebaran virus corona.
Baca juga:   Facebook Uji Fitur Dark Mode untuk Aplikasi Mobile&amp;nbsp;
 
Kemudian terkait apakah aplikasi ini menjadi metode yang lebih efektif atau tidak dibandingkan bentuk pengujian covid-19 yang lebih umum dilakukan, masih harus dilihat. Lalu ditegaskan bahwa aplikasi ini tidak boleh digunakan sebagai tes diagnostik medis.
Sebaliknya, aplikasi tersebut bisa bertindak sebagai bentuk peringatan. Jika mendeteksi Anda memiliki virus, bisa segera menguji diri sendiri untuk memastikannya, sebelum berpotensi menularkan kepada orang lain.</content:encoded></item></channel></rss>
