<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Komunitas Motor Jangan Hanya Gagah-gagahan, Ini Sederet Faedahnya</title><description>Keberadaan industri modifikasi otomotif yang melayani hobi para kelas menengah membawa dampak positif bagi Indonesia.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/07/26/15/2252458/komunitas-motor-jangan-hanya-gagah-gagahan-ini-sederet-faedahnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2020/07/26/15/2252458/komunitas-motor-jangan-hanya-gagah-gagahan-ini-sederet-faedahnya"/><item><title>Komunitas Motor Jangan Hanya Gagah-gagahan, Ini Sederet Faedahnya</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/07/26/15/2252458/komunitas-motor-jangan-hanya-gagah-gagahan-ini-sederet-faedahnya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2020/07/26/15/2252458/komunitas-motor-jangan-hanya-gagah-gagahan-ini-sederet-faedahnya</guid><pubDate>Minggu 26 Juli 2020 23:40 WIB</pubDate><dc:creator>Widi Agustian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/26/15/2252458/komunitas-motor-jangan-hanya-gagah-gagahan-ini-sederet-faedahnya-poLBOzTioc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi komunitas motor (Foto: Doc Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/26/15/2252458/komunitas-motor-jangan-hanya-gagah-gagahan-ini-sederet-faedahnya-poLBOzTioc.jpg</image><title>Ilustrasi komunitas motor (Foto: Doc Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Keberadaan industri modifikasi otomotif yang melayani hobi para kelas menengah membawa dampak positif bagi Indonesia. Pasalnya, kelas menengah yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Sejak tahun 2002, konsumsi mereka selalu tumbuh 12 persen.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menjelaskan, di sisi lainnya juga industri kustom otomotif ini juga menggerakan para pelaku UMKM sebagai pemasok barang-barang yang dibutuhkan. Seperti knalpot, jaket, dan berbagai aksesoris lainnya.

&quot;Semakin aktif komunitas motor melakukan riding, semakin aktif pula roda perputaran ekonomi masyarakat. Khususnya di bidang kuliner dan pakaian. Karena usai menuntaskan hobi motoran, mereka biasanya lanjut nongkrong di tempat makan, menghabiskan waktu saling bercanda dan berbagai cerita,&quot; ujar Bamsoet dalam acara Ngobrol Santai (Ngobras) tentang Industri Kustom Indonesia, bersama komunitas Motoran Tugeder, di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan, Sabtu 25 Juli 2020.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan, selama kreatifitas dan ide tak pernah mati dalam kepala, selama itu pula masa depan para pelaku usaha industri modifikasi otomotif akan hidup. Terpenting, keberadaan komunitas motor tak boleh semata untuk ajang gagah-gagahan. Melainkan juga harus diarahkan sebagai kekuatan sosial dan ekonomi.
&quot;Bergabung dengan komunitas motor, merupakan kesempatan untuk  memperluas jaringan persahabatan sekaligus membuka berbagai kesempatan  peluang usaha. Melalui motoran, para bikers juga bisa membawa banyak  pesan-pesan kebangsaan. Seperti tak pernah meninggalkan teman,  bergotongroyong mencapai tujuan, hingga solidaritas dalam memecahkan  persoalan,&quot; beber dia.
Bambang Soesatyo mengungkapkan naiknya posisi Indonesia oleh Bank  Dunia (World Bank) dari Negara Berpendapatan Menengah Bawah (lower  middle income) menjadi Negara Berpendapatan Menengah Atas (upper middle  income), menunjukan betapa kuatnya kelas menengah di Indonesia.

Bank Dunia juga mencatat, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia  saat ini mencapai 52 juta jiwa (20 persen dari total penduduk) dengan  rata-rata pengeluaran mencapai Rp6 juta per orang per bulan.
&quot;Ditambah potensi 115 juta penduduk yang bisa naik menjadi kelas  menengah pada tahun 2020 ini. Semakin meningkatnya jumlah kelas  menengah, semakin membuka potensi industri kustom otomotif dan konsumen  bagi industri berbasis hoby. Mengingat pola konsumsi mereka selalu  mengutamakan pengalaman. Kebutuhan menyalurkan hobi seperti otomotif,  bagi penduduk kelas menengah, baik di dalam maupun di luar negeri adalah  sebuah keniscayaan agar mereka terhindar dari stress akibat beban kerja  dan rutinitas harian,&quot; jelas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Keberadaan industri modifikasi otomotif yang melayani hobi para kelas menengah membawa dampak positif bagi Indonesia. Pasalnya, kelas menengah yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Sejak tahun 2002, konsumsi mereka selalu tumbuh 12 persen.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menjelaskan, di sisi lainnya juga industri kustom otomotif ini juga menggerakan para pelaku UMKM sebagai pemasok barang-barang yang dibutuhkan. Seperti knalpot, jaket, dan berbagai aksesoris lainnya.

&quot;Semakin aktif komunitas motor melakukan riding, semakin aktif pula roda perputaran ekonomi masyarakat. Khususnya di bidang kuliner dan pakaian. Karena usai menuntaskan hobi motoran, mereka biasanya lanjut nongkrong di tempat makan, menghabiskan waktu saling bercanda dan berbagai cerita,&quot; ujar Bamsoet dalam acara Ngobrol Santai (Ngobras) tentang Industri Kustom Indonesia, bersama komunitas Motoran Tugeder, di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan, Sabtu 25 Juli 2020.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan, selama kreatifitas dan ide tak pernah mati dalam kepala, selama itu pula masa depan para pelaku usaha industri modifikasi otomotif akan hidup. Terpenting, keberadaan komunitas motor tak boleh semata untuk ajang gagah-gagahan. Melainkan juga harus diarahkan sebagai kekuatan sosial dan ekonomi.
&quot;Bergabung dengan komunitas motor, merupakan kesempatan untuk  memperluas jaringan persahabatan sekaligus membuka berbagai kesempatan  peluang usaha. Melalui motoran, para bikers juga bisa membawa banyak  pesan-pesan kebangsaan. Seperti tak pernah meninggalkan teman,  bergotongroyong mencapai tujuan, hingga solidaritas dalam memecahkan  persoalan,&quot; beber dia.
Bambang Soesatyo mengungkapkan naiknya posisi Indonesia oleh Bank  Dunia (World Bank) dari Negara Berpendapatan Menengah Bawah (lower  middle income) menjadi Negara Berpendapatan Menengah Atas (upper middle  income), menunjukan betapa kuatnya kelas menengah di Indonesia.

Bank Dunia juga mencatat, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia  saat ini mencapai 52 juta jiwa (20 persen dari total penduduk) dengan  rata-rata pengeluaran mencapai Rp6 juta per orang per bulan.
&quot;Ditambah potensi 115 juta penduduk yang bisa naik menjadi kelas  menengah pada tahun 2020 ini. Semakin meningkatnya jumlah kelas  menengah, semakin membuka potensi industri kustom otomotif dan konsumen  bagi industri berbasis hoby. Mengingat pola konsumsi mereka selalu  mengutamakan pengalaman. Kebutuhan menyalurkan hobi seperti otomotif,  bagi penduduk kelas menengah, baik di dalam maupun di luar negeri adalah  sebuah keniscayaan agar mereka terhindar dari stress akibat beban kerja  dan rutinitas harian,&quot; jelas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
