<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Apa Itu Hari Tanpa Bayangan?   </title><description>Hari tanpa bayangan merupakan fenomena yang terjadi pada saat matahari persis berada di puncaknya.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/03/04/56/2177864/apa-itu-hari-tanpa-bayangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2020/03/04/56/2177864/apa-itu-hari-tanpa-bayangan"/><item><title>Apa Itu Hari Tanpa Bayangan?   </title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/03/04/56/2177864/apa-itu-hari-tanpa-bayangan</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2020/03/04/56/2177864/apa-itu-hari-tanpa-bayangan</guid><pubDate>Rabu 04 Maret 2020 10:16 WIB</pubDate><dc:creator>Pernita Hestin Untari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/04/56/2177864/apa-itu-hari-tanpa-bayangan-xogFfN9Vzp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hari Tanpa Bayangan (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/04/56/2177864/apa-itu-hari-tanpa-bayangan-xogFfN9Vzp.jpg</image><title>Hari Tanpa Bayangan (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA&amp;nbsp;- Hari tanpa bayangan merupakan fenomena yang terjadi pada saat matahari persis berada di puncaknya. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun pada wilayah di antara +23.5 dan -23.5 derajat garis lintang.
Ketika fenomena ini terjadi sinar matahari akan jatuh persis tegak lurus pada benda dan manusia, sehingga manusia tidak dapat mengamati bayangannya.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena ini bisa terjadi karena bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit dengan bidang revolusi Bumi. Sehingga posisi Matahari dari Bumi akan terlihat terus berubah sepanjang tahun antara  23,5oLU  s.d.  23,5oLS.  Hal  ini  disebut  sebagai  gerak  semu  harian  Matahari.








Lihat postingan ini di Instagram







Sebelum tidur mau ngingetin kamu aja, kalau besok daerah Jakarta akan mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan. Tepatnya pukul 12.04 WIB
Sebuah kiriman dibagikan oleh  BMKG (@infobmkg) pada 3 Mar 2020 jam 7:36 PST




Mengingat Indonesia berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan  terjadi  dua  kali  dalam  setahun  dan  waktunya tidak  jauh  dari  saat  Matahari  berada  di khatulistiwa.
Di kota-kota  lain, kulminasi utama  terjadi  saat  deklinasi  Matahari  sama  dengan lintang kota tersebut. Khusus untuk  Jakarta, fenomena ini terjadi pada 4 Maret 2020,  yang kulminasi  utamanya  terjadi pada  pukul  12.04  WIB, dan pada 8  Oktober 2020,  yang  kulminasi utamanya terjadi pada pukul 11.40 WIB.
Secara umum, kulminasi utama tahun 2020 di Indonesia terjadi antara 21 Februari 2020 di Baa, Nusa Tenggara Timur hingga 4 April 2020 di Sabang, Aceh dan 6 September 2020 di Sabang, Aceh sampai dengan 21 Oktober 2020 di Baa, Nusa Tenggara Timur.</description><content:encoded>JAKARTA&amp;nbsp;- Hari tanpa bayangan merupakan fenomena yang terjadi pada saat matahari persis berada di puncaknya. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun pada wilayah di antara +23.5 dan -23.5 derajat garis lintang.
Ketika fenomena ini terjadi sinar matahari akan jatuh persis tegak lurus pada benda dan manusia, sehingga manusia tidak dapat mengamati bayangannya.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena ini bisa terjadi karena bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit dengan bidang revolusi Bumi. Sehingga posisi Matahari dari Bumi akan terlihat terus berubah sepanjang tahun antara  23,5oLU  s.d.  23,5oLS.  Hal  ini  disebut  sebagai  gerak  semu  harian  Matahari.








Lihat postingan ini di Instagram







Sebelum tidur mau ngingetin kamu aja, kalau besok daerah Jakarta akan mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan. Tepatnya pukul 12.04 WIB
Sebuah kiriman dibagikan oleh  BMKG (@infobmkg) pada 3 Mar 2020 jam 7:36 PST




Mengingat Indonesia berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan  terjadi  dua  kali  dalam  setahun  dan  waktunya tidak  jauh  dari  saat  Matahari  berada  di khatulistiwa.
Di kota-kota  lain, kulminasi utama  terjadi  saat  deklinasi  Matahari  sama  dengan lintang kota tersebut. Khusus untuk  Jakarta, fenomena ini terjadi pada 4 Maret 2020,  yang kulminasi  utamanya  terjadi pada  pukul  12.04  WIB, dan pada 8  Oktober 2020,  yang  kulminasi utamanya terjadi pada pukul 11.40 WIB.
Secara umum, kulminasi utama tahun 2020 di Indonesia terjadi antara 21 Februari 2020 di Baa, Nusa Tenggara Timur hingga 4 April 2020 di Sabang, Aceh dan 6 September 2020 di Sabang, Aceh sampai dengan 21 Oktober 2020 di Baa, Nusa Tenggara Timur.</content:encoded></item></channel></rss>
