<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perangi SARS-CoV-2, Peneliti Berlomba Kembangkan Vaksin dan Obat</title><description>Para peneliti telah meningkatkan upaya untuk mengembangkan vaksin untuk memerangi virus korona baru SARS-CoV-2.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/02/21/56/2171946/perangi-sars-cov-2-peneliti-berlomba-kembangkan-vaksin-dan-obat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2020/02/21/56/2171946/perangi-sars-cov-2-peneliti-berlomba-kembangkan-vaksin-dan-obat"/><item><title>Perangi SARS-CoV-2, Peneliti Berlomba Kembangkan Vaksin dan Obat</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/02/21/56/2171946/perangi-sars-cov-2-peneliti-berlomba-kembangkan-vaksin-dan-obat</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2020/02/21/56/2171946/perangi-sars-cov-2-peneliti-berlomba-kembangkan-vaksin-dan-obat</guid><pubDate>Jum'at 21 Februari 2020 11:06 WIB</pubDate><dc:creator>Pernita Hestin Untari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/21/56/2171946/perangi-sars-cov-2-peneliti-berlomba-kembangkan-vaksin-dan-obat-R1qfG8GCcT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: The Conversation)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/21/56/2171946/perangi-sars-cov-2-peneliti-berlomba-kembangkan-vaksin-dan-obat-R1qfG8GCcT.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: The Conversation)</title></images><description>JAKARTA- Para peneliti diseluruh dunia telah meningkatkan upaya untuk mengembangkan vaksin untuk memerangi virus korona baru SARS-CoV-2.
Dilansir dari laman Aljazeera, Jumat (21/2/2020) beberapa minggu setelah virus pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan di China pada 2019, setidaknya ada belasan perusahaan biofarmasi dan peneliti akademik di China, Amerika Serikat, dan negara lain yang meluncurkan program untuk menemukan vaksin SARS-CoV-2.
Ilmuwan di Imperial College di London, Inggris, bahkan telah menguji coba vaksi pada tikus. Pengujian pada manusia diharapkan akan dilakukan pada bulan depan.
Sementara itu, Koalisi untuk Kesiapsiagaan Epidemi Inovasi (CEPI), sebuah kemitraan global yang diluncurkan pada tahun 2017 untuk memerangi penyakit menular baru, mengatakan telah meluncurkan tiga program untuk mengembangkan vaksin dan berharap memiliki vaksin potensial untuk pengujian clinal dalam waktu 16 minggu.
Para ahli mengatakan upaya untuk memerangi virus korona adalah salah satu respons tercepat dalam sejarah. Pasalnya butuh waktu lebih dari 20 bulan bagi para peneliti untuk menghasilkan vaksin eksperimental untuk virus yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), wabah mematikan yang menginfeksi lebih dari 8.000 orang antara tahun 2002 dan 2003.</description><content:encoded>JAKARTA- Para peneliti diseluruh dunia telah meningkatkan upaya untuk mengembangkan vaksin untuk memerangi virus korona baru SARS-CoV-2.
Dilansir dari laman Aljazeera, Jumat (21/2/2020) beberapa minggu setelah virus pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan di China pada 2019, setidaknya ada belasan perusahaan biofarmasi dan peneliti akademik di China, Amerika Serikat, dan negara lain yang meluncurkan program untuk menemukan vaksin SARS-CoV-2.
Ilmuwan di Imperial College di London, Inggris, bahkan telah menguji coba vaksi pada tikus. Pengujian pada manusia diharapkan akan dilakukan pada bulan depan.
Sementara itu, Koalisi untuk Kesiapsiagaan Epidemi Inovasi (CEPI), sebuah kemitraan global yang diluncurkan pada tahun 2017 untuk memerangi penyakit menular baru, mengatakan telah meluncurkan tiga program untuk mengembangkan vaksin dan berharap memiliki vaksin potensial untuk pengujian clinal dalam waktu 16 minggu.
Para ahli mengatakan upaya untuk memerangi virus korona adalah salah satu respons tercepat dalam sejarah. Pasalnya butuh waktu lebih dari 20 bulan bagi para peneliti untuk menghasilkan vaksin eksperimental untuk virus yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), wabah mematikan yang menginfeksi lebih dari 8.000 orang antara tahun 2002 dan 2003.</content:encoded></item></channel></rss>
