<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMW Menyebut Mesin Konvensional Masih Dapat Bertahan 30 Tahun Lagi</title><description>Fokus pengembangan dilakukan dengan menggunakan rangkaian teknologi hybrid di masa depan.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/01/08/52/2150534/bmw-menyebut-mesin-konvensional-masih-dapat-bertahan-30-tahun-lagi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2020/01/08/52/2150534/bmw-menyebut-mesin-konvensional-masih-dapat-bertahan-30-tahun-lagi"/><item><title>BMW Menyebut Mesin Konvensional Masih Dapat Bertahan 30 Tahun Lagi</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2020/01/08/52/2150534/bmw-menyebut-mesin-konvensional-masih-dapat-bertahan-30-tahun-lagi</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2020/01/08/52/2150534/bmw-menyebut-mesin-konvensional-masih-dapat-bertahan-30-tahun-lagi</guid><pubDate>Rabu 08 Januari 2020 10:37 WIB</pubDate><dc:creator>Medikantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/08/52/2150534/bmw-menyebut-mesin-konvensional-masih-dapat-bertahan-30-tahun-lagi-2RIDHBxFA8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Varian BMW 530i M Sport masih menggunakan mesin bensin empat silinder 2.0 L Twin-turbo (Foto: Okezone.com/Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/08/52/2150534/bmw-menyebut-mesin-konvensional-masih-dapat-bertahan-30-tahun-lagi-2RIDHBxFA8.jpg</image><title>Varian BMW 530i M Sport masih menggunakan mesin bensin empat silinder 2.0 L Twin-turbo (Foto: Okezone.com/Istimewa)</title></images><description>MUENCHEN - Langkah pengembangan mesin konvensional, baik menggunakan bahan bakar bensin atau diesel, serasa terpinggirkan dengan gaung elektrifikasi dari produsen otomotif dunia. Padahal, penggunaan kendaraan dengan rangkaian mesin pembakaran dalam masih layak digunakan dalam jangka waktu panjang.

Anggapan tersebut mengacu pada belum tersedianya fasilitas serta kemampuan jelajah kendaraan listrik, di sejumlah kawasan penjuru dunia. Hal itu menjadi pertimbangan produsen masih membuat rangkaian penggerak pembakaran dalam dan hybrid seperti diungkapkan oleh Kepala R&amp;amp;D BMW, Klaus Froehlich.
&amp;nbsp;
Ketatnya aturan emisi di sejumlah negara, memang pada akhirnya membuat perusahaan seperti BMW, untuk rajin melakukan pembaruan. &quot;Terutama untuk pasar seperti Tiongkok. Karena biaya yang dikeluarkan cukup besar maka pilihan mesin pembakaran dalam dibuat secara terbatas,&quot; kata Froehlich.

Sebagai contoh, BMW akan menghentikan pembuatan mesin diesel berkapasitas 1.5 L tipe tiga silinder. Sementara, pilihan mesin diesel empat dan enam silinder tetap dipertahankan, bersama dengan rangkaian unit berbahan bakar bensin. &quot;Setidaknya mesin diesel masih bisa beredar sampai 20 tahun, sedangkan mesin bensin 30 tahun,&quot; ujar Froehlich kepada laman Automotive News.Meskipun produksi mesin pembakaran dalam masih memungkinkan, Froehlich menepis anggapan akan mempertahankan varian mesin besar seperti V-12 dan V-8. Kedua tipe mesin tersebut tidak dianggap menguntungkan dari segi bisnis, selain secara kekuatan sudah mulai terkalahkan oleh rangkaian mesin hybrid.

Penggunaan kendaraan menggunakan mesin konvensional, masih dapat mengatasi masalah transportasi di sejumlah negara berkembang. Terlebih bagi wilayah yang belum dapat melakukan pengembangan fasilitas dan tidak dapat menjangkau teknologi elektrifikasi kendaraan dalam jangka waktu dekat.
&amp;nbsp;
Pilihan untuk menggunakan kendaraan dengan rangkaian mesin hybrid, juga lebih masuk akal untuk sejumlah kawasan dibandingkan mobil listrik penuh (EV). &quot;Wilayah seperti Timur Tengah dan Afrika bahkan tidak punya fasilitas pengisian baterai saat ini. Sementara kami mencoba menawarkan mesin plug-in hybrid performa tinggi untuk mayoritas wilayah Amerika Serikat nantinya,&quot; kata Froehlich.</description><content:encoded>MUENCHEN - Langkah pengembangan mesin konvensional, baik menggunakan bahan bakar bensin atau diesel, serasa terpinggirkan dengan gaung elektrifikasi dari produsen otomotif dunia. Padahal, penggunaan kendaraan dengan rangkaian mesin pembakaran dalam masih layak digunakan dalam jangka waktu panjang.

Anggapan tersebut mengacu pada belum tersedianya fasilitas serta kemampuan jelajah kendaraan listrik, di sejumlah kawasan penjuru dunia. Hal itu menjadi pertimbangan produsen masih membuat rangkaian penggerak pembakaran dalam dan hybrid seperti diungkapkan oleh Kepala R&amp;amp;D BMW, Klaus Froehlich.
&amp;nbsp;
Ketatnya aturan emisi di sejumlah negara, memang pada akhirnya membuat perusahaan seperti BMW, untuk rajin melakukan pembaruan. &quot;Terutama untuk pasar seperti Tiongkok. Karena biaya yang dikeluarkan cukup besar maka pilihan mesin pembakaran dalam dibuat secara terbatas,&quot; kata Froehlich.

Sebagai contoh, BMW akan menghentikan pembuatan mesin diesel berkapasitas 1.5 L tipe tiga silinder. Sementara, pilihan mesin diesel empat dan enam silinder tetap dipertahankan, bersama dengan rangkaian unit berbahan bakar bensin. &quot;Setidaknya mesin diesel masih bisa beredar sampai 20 tahun, sedangkan mesin bensin 30 tahun,&quot; ujar Froehlich kepada laman Automotive News.Meskipun produksi mesin pembakaran dalam masih memungkinkan, Froehlich menepis anggapan akan mempertahankan varian mesin besar seperti V-12 dan V-8. Kedua tipe mesin tersebut tidak dianggap menguntungkan dari segi bisnis, selain secara kekuatan sudah mulai terkalahkan oleh rangkaian mesin hybrid.

Penggunaan kendaraan menggunakan mesin konvensional, masih dapat mengatasi masalah transportasi di sejumlah negara berkembang. Terlebih bagi wilayah yang belum dapat melakukan pengembangan fasilitas dan tidak dapat menjangkau teknologi elektrifikasi kendaraan dalam jangka waktu dekat.
&amp;nbsp;
Pilihan untuk menggunakan kendaraan dengan rangkaian mesin hybrid, juga lebih masuk akal untuk sejumlah kawasan dibandingkan mobil listrik penuh (EV). &quot;Wilayah seperti Timur Tengah dan Afrika bahkan tidak punya fasilitas pengisian baterai saat ini. Sementara kami mencoba menawarkan mesin plug-in hybrid performa tinggi untuk mayoritas wilayah Amerika Serikat nantinya,&quot; kata Froehlich.</content:encoded></item></channel></rss>
