<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hujan Meteor Leonid Bisa Disaksikan di Indonesia, Ini Syaratnya   </title><description>Kali ini hujan meteor atau yang biasa disebut bintang jatuh akan kembali menyambangi Bumi.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2018/11/16/56/1978752/hujan-meteor-leonid-bisa-disaksikan-di-indonesia-ini-syaratnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2018/11/16/56/1978752/hujan-meteor-leonid-bisa-disaksikan-di-indonesia-ini-syaratnya"/><item><title>Hujan Meteor Leonid Bisa Disaksikan di Indonesia, Ini Syaratnya   </title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2018/11/16/56/1978752/hujan-meteor-leonid-bisa-disaksikan-di-indonesia-ini-syaratnya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2018/11/16/56/1978752/hujan-meteor-leonid-bisa-disaksikan-di-indonesia-ini-syaratnya</guid><pubDate>Jum'at 16 November 2018 15:30 WIB</pubDate><dc:creator>Pernita Hestin Untari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/11/16/56/1978752/hujan-meteor-leonid-bisa-disaksikan-di-indonesia-ini-syaratnya-HFPblXTniE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Hujan Meteor Leonid (Foto: Vox)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/11/16/56/1978752/hujan-meteor-leonid-bisa-disaksikan-di-indonesia-ini-syaratnya-HFPblXTniE.jpg</image><title>Ilustrasi Hujan Meteor Leonid (Foto: Vox)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sebelumnya hujan meteor Draconid telah mengguyur Bumi pada awal Oktober 2018. Kali ini hujan meteor atau yang biasa disebut bintang jatuh akan kembali menyambangi Bumi.
Tepatnya hujan meteor Leonid yang dapat disaksikan pada 17-18 November 2018 malam. Menariknya fenomena ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin. Namun yang pasti dia mengungkapkan jika fenomena tersebut tak bisa disaksikan saat kondisi mendung atau hujan.
&amp;ldquo;Syaratnya cuaca cerah, medan pandang tidak terhalang, polusi cahaya minim,&amp;rdquo; kata Thomas kepada Okezone, Jumat (16/11/2018).

Baca Juga: Meteor Leonid Bakal Hujani Bumi Akhir Pekan Ini
Sekadar informasi, hujan meteor Leonid merupakan fenomena tahunan yang terjadi sekira tanggal 6-30 November. Lengkapnya, ini merupakan hujan meteor produktif yang terkait dengan komet Tempel-Tuttle.
Leonid memiliki pengaruh besar pada pengembangan studi ilmiah meteor, yang sebelumnya dianggap sebagai fenomena atmosfer. Hujan badai meteor ini pernah terjadi pada 1833. Bahkan, perkiraan lebih dari seratus ribu meteor per jam.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sebelumnya hujan meteor Draconid telah mengguyur Bumi pada awal Oktober 2018. Kali ini hujan meteor atau yang biasa disebut bintang jatuh akan kembali menyambangi Bumi.
Tepatnya hujan meteor Leonid yang dapat disaksikan pada 17-18 November 2018 malam. Menariknya fenomena ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin. Namun yang pasti dia mengungkapkan jika fenomena tersebut tak bisa disaksikan saat kondisi mendung atau hujan.
&amp;ldquo;Syaratnya cuaca cerah, medan pandang tidak terhalang, polusi cahaya minim,&amp;rdquo; kata Thomas kepada Okezone, Jumat (16/11/2018).

Baca Juga: Meteor Leonid Bakal Hujani Bumi Akhir Pekan Ini
Sekadar informasi, hujan meteor Leonid merupakan fenomena tahunan yang terjadi sekira tanggal 6-30 November. Lengkapnya, ini merupakan hujan meteor produktif yang terkait dengan komet Tempel-Tuttle.
Leonid memiliki pengaruh besar pada pengembangan studi ilmiah meteor, yang sebelumnya dianggap sebagai fenomena atmosfer. Hujan badai meteor ini pernah terjadi pada 1833. Bahkan, perkiraan lebih dari seratus ribu meteor per jam.</content:encoded></item></channel></rss>
