<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jalan Macet, Kemenperin: Tidak Ada Hubungannya dengan Industri Automotif</title><description> Industri automotif di Indonesia  semakin berkembang, hal tersebut ditunjukkan dari banyaknya merek-merek  dan produk baru yang masuk.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/30/15/1765897/jalan-macet-kemenperin-tidak-ada-hubungannya-dengan-industri-automotif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/30/15/1765897/jalan-macet-kemenperin-tidak-ada-hubungannya-dengan-industri-automotif"/><item><title>Jalan Macet, Kemenperin: Tidak Ada Hubungannya dengan Industri Automotif</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/30/15/1765897/jalan-macet-kemenperin-tidak-ada-hubungannya-dengan-industri-automotif</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/30/15/1765897/jalan-macet-kemenperin-tidak-ada-hubungannya-dengan-industri-automotif</guid><pubDate>Rabu 30 Agustus 2017 07:30 WIB</pubDate><dc:creator>Santo Evren Sirait</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/30/15/1765897/jalan-macet-kemenperin-tidak-ada-hubungannya-dengan-industri-automotif-CCSdv5PI80.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi macet (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/30/15/1765897/jalan-macet-kemenperin-tidak-ada-hubungannya-dengan-industri-automotif-CCSdv5PI80.jpg</image><title>Ilustrasi macet (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Seiring berjalannya waktu industri automotif di Indonesia semakin berkembang, hal tersebut ditunjukkan dari banyaknya merek-merek dan produk baru yang masuk. Dengan begitu masyarakat memiliki banyak pilihan untuk membeli mobil.
Seringkali perkembangan industri automotif dikaitkan dengan padatnya lalu lintas, padahal menurut Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan, yang menyebabkan macet adalah tata ruang di kota yang tidak selalu dibenahi.
(Baca juga: Pemerintah Ingin Atasi Macet Tanpa Mengorbankan Penjualan Mobil)
&quot;Industri enggak ada hubungannya dengan kemacetan. Jadi kemacetan itu urusannya sama dinas tata ruang. Sehingga sekarang ini jadi isu kita bersama dengan pemerintah daerah. Bagaimana pemerintah daerah kita edukasi, kita sampaikan pada pemerintah daerah bahwa yang namanya tata ruang itu harus dibenahi. Pusat bisnis di mana, tempat tinggal di mana, kemudian di mana perlu kendaraan umum, atau perlu kendaraan pribadi,&quot; ujar Putu, di Jakarta, Selasa 29 Agustus 2017.
Ia mencontohkan ada sebuah kawasan industri yang sengaja dibangun untuk perkantoran. Tapi tiba-tiba datang investor yang mau membuka usaha restoran padahal area tersebut khusus untuk perkantoran. Akibatnya banyak orang datang ke restoran tersebut.
&quot;Ini jadi semrawut pada saat ekonomi tinggi, sekarang ada yang namanya ATR, agraria tata ruang, kami sudah koordinasi dengan kawan-kawan ATR agar berkomunikasi aktif dengan pemerintah daerah menata kembali area itu, di mana pusat kota, di mana sekolah, tempat hiburan. Jadi penempatan tidak karuan, kalau semerawut bisa menjadi macet. Kita lihat lokasi macet, karena kawasan industri banyak tapi tata ruang tidak teratur hanya mengandalkan jalan tol,&quot; terang Putu.
(Baca juga: Ini Rumus Jusuf Kalla untuk Seimbangkan Industri Automotif dan Kemacetan)
Arah dari industri automotif itu adalah bagaimana mendorong produsen-produsen mau melakukan investasi sebanyak-banyaknya di Indonesia. Sehingga kedepannya industri automotif tidak hanya melayani pasar domestik saja tapi dikirim ke luar negeri.
&quot;Dari industri arahnya investasi dan ekspor,&quot; pungkas Putu. (san) </description><content:encoded>JAKARTA - Seiring berjalannya waktu industri automotif di Indonesia semakin berkembang, hal tersebut ditunjukkan dari banyaknya merek-merek dan produk baru yang masuk. Dengan begitu masyarakat memiliki banyak pilihan untuk membeli mobil.
Seringkali perkembangan industri automotif dikaitkan dengan padatnya lalu lintas, padahal menurut Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan, yang menyebabkan macet adalah tata ruang di kota yang tidak selalu dibenahi.
(Baca juga: Pemerintah Ingin Atasi Macet Tanpa Mengorbankan Penjualan Mobil)
&quot;Industri enggak ada hubungannya dengan kemacetan. Jadi kemacetan itu urusannya sama dinas tata ruang. Sehingga sekarang ini jadi isu kita bersama dengan pemerintah daerah. Bagaimana pemerintah daerah kita edukasi, kita sampaikan pada pemerintah daerah bahwa yang namanya tata ruang itu harus dibenahi. Pusat bisnis di mana, tempat tinggal di mana, kemudian di mana perlu kendaraan umum, atau perlu kendaraan pribadi,&quot; ujar Putu, di Jakarta, Selasa 29 Agustus 2017.
Ia mencontohkan ada sebuah kawasan industri yang sengaja dibangun untuk perkantoran. Tapi tiba-tiba datang investor yang mau membuka usaha restoran padahal area tersebut khusus untuk perkantoran. Akibatnya banyak orang datang ke restoran tersebut.
&quot;Ini jadi semrawut pada saat ekonomi tinggi, sekarang ada yang namanya ATR, agraria tata ruang, kami sudah koordinasi dengan kawan-kawan ATR agar berkomunikasi aktif dengan pemerintah daerah menata kembali area itu, di mana pusat kota, di mana sekolah, tempat hiburan. Jadi penempatan tidak karuan, kalau semerawut bisa menjadi macet. Kita lihat lokasi macet, karena kawasan industri banyak tapi tata ruang tidak teratur hanya mengandalkan jalan tol,&quot; terang Putu.
(Baca juga: Ini Rumus Jusuf Kalla untuk Seimbangkan Industri Automotif dan Kemacetan)
Arah dari industri automotif itu adalah bagaimana mendorong produsen-produsen mau melakukan investasi sebanyak-banyaknya di Indonesia. Sehingga kedepannya industri automotif tidak hanya melayani pasar domestik saja tapi dikirim ke luar negeri.
&quot;Dari industri arahnya investasi dan ekspor,&quot; pungkas Putu. (san) </content:encoded></item></channel></rss>
