<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ditantang Produksi Mobil Listrik di Indonesia, Nissan: APM Butuh Volume Dulu</title><description>Nissan Motor Indonesia (NMI) sudah siap memasarkan mobil listrik di Indonesia, tapi untuk memproduksinya secara lokal dibutuhkan proses.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/24/15/1762298/ditantang-produksi-mobil-listrik-di-indonesia-nissan-apm-butuh-volume-dulu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/24/15/1762298/ditantang-produksi-mobil-listrik-di-indonesia-nissan-apm-butuh-volume-dulu"/><item><title>Ditantang Produksi Mobil Listrik di Indonesia, Nissan: APM Butuh Volume Dulu</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/24/15/1762298/ditantang-produksi-mobil-listrik-di-indonesia-nissan-apm-butuh-volume-dulu</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/24/15/1762298/ditantang-produksi-mobil-listrik-di-indonesia-nissan-apm-butuh-volume-dulu</guid><pubDate>Kamis 24 Agustus 2017 16:05 WIB</pubDate><dc:creator>Anton Suhartono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/24/15/1762298/ditantang-produksi-mobil-listrik-di-indonesia-nissan-apm-butuh-volume-dulu-CnJrKBHaGL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/24/15/1762298/ditantang-produksi-mobil-listrik-di-indonesia-nissan-apm-butuh-volume-dulu-CnJrKBHaGL.jpg</image><title>(Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Mobil bermotor listrik, baik hybrid, plug in hybrid, maupun full electric, diyakini akan mulai banyak digunakan masyarakat begitu Pemerintah Indonesia menggulirkan program low carbon emission vehicle (LCEV).
(Baca Juga: Menanti Regulasi Mobil Listrik)
Mobil yang masuk dalam kategori LCEV, dihitung dari kadar emisi karbonnya, akan mendapatkan insentif pajak dari pemerintah, termasuk produk yang masih diimpor utuh atau completely built up (CBU).
Namun insentif ini merupakan rangsangan bagi agen pemegang merek (APM) automotif agar ke depannya mereka memproduksi mobil ramah lingkungan itu secara lokal.
(Baca Juga: Pemerintah Godok Roadmap Alat Transportasi Rendah Emisi, dari 20 Km/Liter hingga Nihil)
Rencana tersebut mendapat dukungan dari Nissan Motor Indonesia (NMI) sebagai salah satu agen pemegang merek (APM) yang menyatakan kesiapannya memasarkan mobil listrik di Indonesia. Namun butuh waktu untuk bisa sampai pada tahap produksi lokal.
&quot;APM, ketika akan masuk ke industrialisasi butuh volume (penjualan) dulu. Kita bisa belajar dari negara lain seperti Malaysia. Malaysia itu strateginya adalah mengizinkan impor dulu. Ketika mengizinkan impor dengan kemudahan pajak, tax holiday dan segala macam, maka harganya terjangkau. Makanya market akan terbentuk kan, dengan market terbentuk itu APM siap untuk memproduksi secara lokal,&quot; terang General Manager Marketing Strategy and Product Planning NMI, Budi Nur Mukmin.
Jika di awal sudah diminta langsung memproduksi, lanjut Budi, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Tidak hanya bagi Nissan, namun juga APM lainnya. Apalagi kendaraan listrik mengusung teknologi baru yang butuh adaptasi dalam penggunaannya.
&quot;Tapi, kalau dari awal harus memproduksi terus terang itu menjadi tantangan tersendiri. Jadi mungkin sebagai solusi yang lebih praktis bisa dipertimbangkan diberikan izin importasi dulu untuk periode tertentu.  Pasar biar terbentuk dulu,&quot; imbuhnya.
Sementara itu soal daur ulang baterai mobil listrik, Budi mengatakan sejak meluncurkan mobil hybrid X-Trail, pihaknya sudah memikirkan solusinya. Meski tidak menghasilkan atau minim emisi karbon, mobil bermotor listrik bukannya tanpa masalah. Baterai yang sudah tidak terpakai tidak bisa dibuang begitu saja karena akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Ia yakin hal ini juga sudah dipikirkan APM lain yang menjual mobil hybrid.
(Baca Juga: Mobil Listrik di Indonesia, Bagaimana dengan Baterainya?)
&quot;Kami waktu meluncurkan X-Trail hybrid sudah memikirkan mengenai recycle baterai. Kami sudah melakukan penelitian dan menemukan partner yang bisa melakukan recycle baterai. Kami sudah siap,&quot; ujarnya.
Ditambahkannya, partner tersebut sudah berpengalaman menangani limbah kimia baterai. Ia pun yakin begitu Nissan meluncurkan mobil listrik, tidak ada masalah lagi dengan recycle baterai. Apalagi usia penggunaan baterai mobil listrik Nissan mencapai 10 tahun.
&quot;Jadi kalau kami meluncurkan Note e-Power kami sudah siap dengan recycle-nya. Dia partner lokal yang afiliasi dengan perusahaan global. Proses recycle-nya sudah tersertifikasi. Saya kira tidak hanya Nissan tapi APM lain,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Mobil bermotor listrik, baik hybrid, plug in hybrid, maupun full electric, diyakini akan mulai banyak digunakan masyarakat begitu Pemerintah Indonesia menggulirkan program low carbon emission vehicle (LCEV).
(Baca Juga: Menanti Regulasi Mobil Listrik)
Mobil yang masuk dalam kategori LCEV, dihitung dari kadar emisi karbonnya, akan mendapatkan insentif pajak dari pemerintah, termasuk produk yang masih diimpor utuh atau completely built up (CBU).
Namun insentif ini merupakan rangsangan bagi agen pemegang merek (APM) automotif agar ke depannya mereka memproduksi mobil ramah lingkungan itu secara lokal.
(Baca Juga: Pemerintah Godok Roadmap Alat Transportasi Rendah Emisi, dari 20 Km/Liter hingga Nihil)
Rencana tersebut mendapat dukungan dari Nissan Motor Indonesia (NMI) sebagai salah satu agen pemegang merek (APM) yang menyatakan kesiapannya memasarkan mobil listrik di Indonesia. Namun butuh waktu untuk bisa sampai pada tahap produksi lokal.
&quot;APM, ketika akan masuk ke industrialisasi butuh volume (penjualan) dulu. Kita bisa belajar dari negara lain seperti Malaysia. Malaysia itu strateginya adalah mengizinkan impor dulu. Ketika mengizinkan impor dengan kemudahan pajak, tax holiday dan segala macam, maka harganya terjangkau. Makanya market akan terbentuk kan, dengan market terbentuk itu APM siap untuk memproduksi secara lokal,&quot; terang General Manager Marketing Strategy and Product Planning NMI, Budi Nur Mukmin.
Jika di awal sudah diminta langsung memproduksi, lanjut Budi, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Tidak hanya bagi Nissan, namun juga APM lainnya. Apalagi kendaraan listrik mengusung teknologi baru yang butuh adaptasi dalam penggunaannya.
&quot;Tapi, kalau dari awal harus memproduksi terus terang itu menjadi tantangan tersendiri. Jadi mungkin sebagai solusi yang lebih praktis bisa dipertimbangkan diberikan izin importasi dulu untuk periode tertentu.  Pasar biar terbentuk dulu,&quot; imbuhnya.
Sementara itu soal daur ulang baterai mobil listrik, Budi mengatakan sejak meluncurkan mobil hybrid X-Trail, pihaknya sudah memikirkan solusinya. Meski tidak menghasilkan atau minim emisi karbon, mobil bermotor listrik bukannya tanpa masalah. Baterai yang sudah tidak terpakai tidak bisa dibuang begitu saja karena akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Ia yakin hal ini juga sudah dipikirkan APM lain yang menjual mobil hybrid.
(Baca Juga: Mobil Listrik di Indonesia, Bagaimana dengan Baterainya?)
&quot;Kami waktu meluncurkan X-Trail hybrid sudah memikirkan mengenai recycle baterai. Kami sudah melakukan penelitian dan menemukan partner yang bisa melakukan recycle baterai. Kami sudah siap,&quot; ujarnya.
Ditambahkannya, partner tersebut sudah berpengalaman menangani limbah kimia baterai. Ia pun yakin begitu Nissan meluncurkan mobil listrik, tidak ada masalah lagi dengan recycle baterai. Apalagi usia penggunaan baterai mobil listrik Nissan mencapai 10 tahun.
&quot;Jadi kalau kami meluncurkan Note e-Power kami sudah siap dengan recycle-nya. Dia partner lokal yang afiliasi dengan perusahaan global. Proses recycle-nya sudah tersertifikasi. Saya kira tidak hanya Nissan tapi APM lain,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
