<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Terungkap! Ternyata Ini Asal Usul Buah Apel</title><description>Para ilmuwan menemukan asal usul buah apel yang teridentifikasi dari daerah pegunungan di Kazakhstan.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/16/56/1756734/terungkap-ternyata-ini-asal-usul-buah-apel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/16/56/1756734/terungkap-ternyata-ini-asal-usul-buah-apel"/><item><title>Terungkap! Ternyata Ini Asal Usul Buah Apel</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/16/56/1756734/terungkap-ternyata-ini-asal-usul-buah-apel</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/16/56/1756734/terungkap-ternyata-ini-asal-usul-buah-apel</guid><pubDate>Rabu 16 Agustus 2017 06:30 WIB</pubDate><dc:creator>Tachta Citra Elfira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/16/56/1756734/terungkap-ternyata-ini-asal-usul-buah-apel-vAlR5eWqSg.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/16/56/1756734/terungkap-ternyata-ini-asal-usul-buah-apel-vAlR5eWqSg.jpeg</image><title>(Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pernahkah kalian bertanya dari mana asalnya buah apel? Belum lama, para ilmuwan menemukan asal usul buah apel yang teridentifikasi dari daerah pegunungan di Kazakhstan.

Mereka mengklaim buah apel muncul sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Analisis DNA telah menunjukkan di mana apel liar pertama tumbuh, mereka juga menemukan kisah menakjubkan tentang bagaimana apel pertama kali mencapai pantai ini, sebuah perjalanan sekitar 4.500 mil (7.200 km).

Mulanya berasal dari para pedagang yang bepergian ke barat Silk Road, dari China ke Eropa. Mereka memakan apel liar besar yang masih memiliki rasa hambar, di daerah sebelah barat gunung Shan Tai di Kazakhstan.

Saat memakan apel dan membuang bijinya, maka akan tumbuh menjadi pohon apel.

Terobosan itu terjadi saat apel 'Kazakh' disilangkan dengan apel jenis kepiting asam yang tumbuh di Eropa barat, Siberia dan pegunungan Kaukasus.

Sementara apel kepiting memiliki rasa yang sangat pahit. Sejak tanpa sengaja dikawin silangkan, apel dapat dimakan karena telah memiliki rasa yang manis.

Dan inilah yang menyebabkan apel memiliki 7.500 varian rasa yang berbeda di seluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Periset di BTI, Cornell University dan Shandong Agricultural University di China telah mencoba untuk mengetahui bagaimana apel tersebut berevolusi.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications, para periset mengungkapkan wawasan mengejutkan tentang pertukaran genetik yang membawa kita pada apel modern yang dijuluki Malus Domestica.

&quot;Untuk spesies leluhur, Malus Sieversii, buahnya umumnya jauh lebih besar daripada apel liar lainnya,&quot; kata Penulis pertama Dr Yang Bai, dari New York Boyce Thompson Institute.

Hibridisasi antara apel budidaya kuno dan M. Sylvestris, diikuti oleh seleksi manusia yang luas, menciptakan apel baru yang lebih besar juga lebih penuh rasa, dan memiliki tekstur renyah yang dapat disimpan lebih lama.

Dr Bai menambahkan bahwa keasaman yang diperkenalkan oleh apel kepiting, telah menciptakan jenis apel yang kita kenal sekarang.

&quot;Apel modern memiliki kandungan gula dan asam organik yang lebih tinggi serta seimbang. Begitulah apel mulai menjadi buah yang populer dan disukai,&quot; terang Dr Bai.

Para periset mengatakan mereka percaya bahwa apel meninggalkan Kazakhstan antara 4.000 dan 10.000 tahun yang lalu, di mana mereka dibawa ke sepanjang Jalan Sutra, sebuah rute di mana barang mulai dari tekstil, kuda dan rempah-rempah diperdagangkan.

Sampai pada kesimpulan, para peneliti melakukan sequencing dan membandingkan DNA dari 117 jenis apel, termasuk M. Domestica dan 23 spesies liar dari Amerika Utara, Eropa, Asia Timur dan tengah.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa apel biasa, Malus Domestica, berasal dari apel liar Asia Tengah, Malus Sieversii, dengan kontribusi dari apel jenis kepiting di sepanjang Jalan Sutra saat dibawa ke barat ke Eropa.

Meskipun apel liar M. Sieversii tumbuh di sebelah timur Gunung Tian Shan, di wilayah Xinjiang di China, apel ini tidak pernah diolah, dan tetap terisolasi selama berabad-abad. Keragaman genetik ini belum dimanfaatkan oleh seleksi manusia.

&quot;Ini adalah permata tersembunyi bagi peternak apel untuk mengeksplorasi lebih jauh,&quot; ungkap Dr Bai.

Apel liar yang belum dimanfaatkan di China bisa digunakan untuk menanam apel yang jauh lebih besar.

&quot;Nah, dalam imajinasi liar saya, mungkin suatu hari nanti apel bisa sebesar semangka,&quot; tutup Dr Bai seperti dinukil dari Daily Mail, Rabu (16/8/2017).</description><content:encoded>JAKARTA - Pernahkah kalian bertanya dari mana asalnya buah apel? Belum lama, para ilmuwan menemukan asal usul buah apel yang teridentifikasi dari daerah pegunungan di Kazakhstan.

Mereka mengklaim buah apel muncul sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Analisis DNA telah menunjukkan di mana apel liar pertama tumbuh, mereka juga menemukan kisah menakjubkan tentang bagaimana apel pertama kali mencapai pantai ini, sebuah perjalanan sekitar 4.500 mil (7.200 km).

Mulanya berasal dari para pedagang yang bepergian ke barat Silk Road, dari China ke Eropa. Mereka memakan apel liar besar yang masih memiliki rasa hambar, di daerah sebelah barat gunung Shan Tai di Kazakhstan.

Saat memakan apel dan membuang bijinya, maka akan tumbuh menjadi pohon apel.

Terobosan itu terjadi saat apel 'Kazakh' disilangkan dengan apel jenis kepiting asam yang tumbuh di Eropa barat, Siberia dan pegunungan Kaukasus.

Sementara apel kepiting memiliki rasa yang sangat pahit. Sejak tanpa sengaja dikawin silangkan, apel dapat dimakan karena telah memiliki rasa yang manis.

Dan inilah yang menyebabkan apel memiliki 7.500 varian rasa yang berbeda di seluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Periset di BTI, Cornell University dan Shandong Agricultural University di China telah mencoba untuk mengetahui bagaimana apel tersebut berevolusi.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications, para periset mengungkapkan wawasan mengejutkan tentang pertukaran genetik yang membawa kita pada apel modern yang dijuluki Malus Domestica.

&quot;Untuk spesies leluhur, Malus Sieversii, buahnya umumnya jauh lebih besar daripada apel liar lainnya,&quot; kata Penulis pertama Dr Yang Bai, dari New York Boyce Thompson Institute.

Hibridisasi antara apel budidaya kuno dan M. Sylvestris, diikuti oleh seleksi manusia yang luas, menciptakan apel baru yang lebih besar juga lebih penuh rasa, dan memiliki tekstur renyah yang dapat disimpan lebih lama.

Dr Bai menambahkan bahwa keasaman yang diperkenalkan oleh apel kepiting, telah menciptakan jenis apel yang kita kenal sekarang.

&quot;Apel modern memiliki kandungan gula dan asam organik yang lebih tinggi serta seimbang. Begitulah apel mulai menjadi buah yang populer dan disukai,&quot; terang Dr Bai.

Para periset mengatakan mereka percaya bahwa apel meninggalkan Kazakhstan antara 4.000 dan 10.000 tahun yang lalu, di mana mereka dibawa ke sepanjang Jalan Sutra, sebuah rute di mana barang mulai dari tekstil, kuda dan rempah-rempah diperdagangkan.

Sampai pada kesimpulan, para peneliti melakukan sequencing dan membandingkan DNA dari 117 jenis apel, termasuk M. Domestica dan 23 spesies liar dari Amerika Utara, Eropa, Asia Timur dan tengah.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa apel biasa, Malus Domestica, berasal dari apel liar Asia Tengah, Malus Sieversii, dengan kontribusi dari apel jenis kepiting di sepanjang Jalan Sutra saat dibawa ke barat ke Eropa.

Meskipun apel liar M. Sieversii tumbuh di sebelah timur Gunung Tian Shan, di wilayah Xinjiang di China, apel ini tidak pernah diolah, dan tetap terisolasi selama berabad-abad. Keragaman genetik ini belum dimanfaatkan oleh seleksi manusia.

&quot;Ini adalah permata tersembunyi bagi peternak apel untuk mengeksplorasi lebih jauh,&quot; ungkap Dr Bai.

Apel liar yang belum dimanfaatkan di China bisa digunakan untuk menanam apel yang jauh lebih besar.

&quot;Nah, dalam imajinasi liar saya, mungkin suatu hari nanti apel bisa sebesar semangka,&quot; tutup Dr Bai seperti dinukil dari Daily Mail, Rabu (16/8/2017).</content:encoded></item></channel></rss>
