<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gawat! Riwayat Aktivitas Online Ternyata Gampang Digondol Hacker</title><description>Gawat! Riwayat Aktivitas Online Ternyata Gampang Digondol Hacker.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/01/207/1747974/gawat-riwayat-aktivitas-online-ternyata-gampang-digondol-hacker</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/01/207/1747974/gawat-riwayat-aktivitas-online-ternyata-gampang-digondol-hacker"/><item><title>Gawat! Riwayat Aktivitas Online Ternyata Gampang Digondol Hacker</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/01/207/1747974/gawat-riwayat-aktivitas-online-ternyata-gampang-digondol-hacker</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2017/08/01/207/1747974/gawat-riwayat-aktivitas-online-ternyata-gampang-digondol-hacker</guid><pubDate>Rabu 02 Agustus 2017 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Moch Prima Fauzi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/01/207/1747974/gawat-riwayat-aktivitas-online-ternyata-gampang-digondol-hacker-qcWe3tpeMH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: CNBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/01/207/1747974/gawat-riwayat-aktivitas-online-ternyata-gampang-digondol-hacker-qcWe3tpeMH.jpg</image><title>(Foto: CNBC)</title></images><description>JAKARTA - Kunjungan ke situs porno oleh seorang hakim serta obat-obatan yang diminum, merupakan salah satu informasi yang berhasil dicuri oleh sepasang peneliti keamanan internet asal Jerman. Kedua peneliti itu mengaku telah mendapatkan data browsing dari jutaan netizen asal Jerman.

&quot;Apa yang Anda pikirkan, jika seseorang menunjukkan kepada Anda di depan pintu sembari berkata; Hey, saya punya riwayat aktivitas online Anda secara lengkap, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap klik yang Anda lakukan di bulan lalu?&quot; kata Svea Eckert, salah seorang peneliti yang dikutip dari The Guardian, Rabu (2/8/2017).

Eckert yang juga merupakan seorang jurnalis bekerjasama dengan seorang peneliti data, Andreas Dewes, untuk mendapatkan data pribadi pengguna internet dan melihat apa yang telah mereka lakukan di dunia maya.

Baca juga: Wow! Jadi Hacker Game Online Selama 20 Tahun, Pria Ini Miliki Rp5.216 Triliun

Keduanya melakukan presentasi dalam acara Def Con, sebuah konferensi peretasan yang digelar di Las Vegas, Amerika Serikat. Eckert dan Dewes menjelaskan bagaimana mereka mengamankan sebuah database yang berisi tiga miliar URL dari tiga juta pengguna di Jerman. Lebih dari sembilan juta website telah menjadi sasarannya.

Kedua peneliti itu melakukan cara yang sedikit licik untuk mendapatkan semua data tersebut. Mereka membuat sebuah situs perusahaan marketing palsu, lengkap dengan akun LinkedIn dan menyertakan CEO perusahaan mereka untuk meyakinkan korbannya.

Dewes juga menjelaskan bagaimana seorang broker, penjual data pribadi di internet, dapat menemukan informasi berharga tersebut melalui sebuah URL. Ia mengatakan, siapapun yang mengunjungi halaman analisisnya di Twitter, dapat menemukan riwayat browsing termasuk username yang sebenarnya hanya bisa dilihat oleh pengguna.

Menurutnya dari 10 URL yang ia dapatkan, hal itu telah cukup untuk mengidentifikasi seseorang bagaimana ia berada dalam sebuah perusahaan, akun bank yang digunakan, hobi, langganan koran yang dibeli, serta operator seluler yang digunakan.

Baca juga: Waspada! ATM Dapat Di-Hack Hanya dalam 5 Menit

Dengan menggunakan 'sidik jari' dari data-data tersebut, peretas bisa saja mengetahui banyak aktivitas online secara umum URL mana yang telah dikunjunginya, akun sosial media yang digunakan, atau tayangan Youtube yang ditonton.

Dewes mengatakan semua data itu bias dikumpulkan berasal dari plugin dalam sebuah peramban (browser) yang menyamar sebagai alat keamanan browsing bernama Web of Trust. Namun setelah adanya publikasi Eckert dan Dewes, plugin tersebut memperbarui kebijakannya dan mengakui telah menjual data pengguna meski dalam bentuk anonim.

Publikasi ini menjadi bukti bahwa keamanan aktivitas online masih rentan dari aksi mata-mata serta relatif mudah dilakukan oleh peretas.</description><content:encoded>JAKARTA - Kunjungan ke situs porno oleh seorang hakim serta obat-obatan yang diminum, merupakan salah satu informasi yang berhasil dicuri oleh sepasang peneliti keamanan internet asal Jerman. Kedua peneliti itu mengaku telah mendapatkan data browsing dari jutaan netizen asal Jerman.

&quot;Apa yang Anda pikirkan, jika seseorang menunjukkan kepada Anda di depan pintu sembari berkata; Hey, saya punya riwayat aktivitas online Anda secara lengkap, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap klik yang Anda lakukan di bulan lalu?&quot; kata Svea Eckert, salah seorang peneliti yang dikutip dari The Guardian, Rabu (2/8/2017).

Eckert yang juga merupakan seorang jurnalis bekerjasama dengan seorang peneliti data, Andreas Dewes, untuk mendapatkan data pribadi pengguna internet dan melihat apa yang telah mereka lakukan di dunia maya.

Baca juga: Wow! Jadi Hacker Game Online Selama 20 Tahun, Pria Ini Miliki Rp5.216 Triliun

Keduanya melakukan presentasi dalam acara Def Con, sebuah konferensi peretasan yang digelar di Las Vegas, Amerika Serikat. Eckert dan Dewes menjelaskan bagaimana mereka mengamankan sebuah database yang berisi tiga miliar URL dari tiga juta pengguna di Jerman. Lebih dari sembilan juta website telah menjadi sasarannya.

Kedua peneliti itu melakukan cara yang sedikit licik untuk mendapatkan semua data tersebut. Mereka membuat sebuah situs perusahaan marketing palsu, lengkap dengan akun LinkedIn dan menyertakan CEO perusahaan mereka untuk meyakinkan korbannya.

Dewes juga menjelaskan bagaimana seorang broker, penjual data pribadi di internet, dapat menemukan informasi berharga tersebut melalui sebuah URL. Ia mengatakan, siapapun yang mengunjungi halaman analisisnya di Twitter, dapat menemukan riwayat browsing termasuk username yang sebenarnya hanya bisa dilihat oleh pengguna.

Menurutnya dari 10 URL yang ia dapatkan, hal itu telah cukup untuk mengidentifikasi seseorang bagaimana ia berada dalam sebuah perusahaan, akun bank yang digunakan, hobi, langganan koran yang dibeli, serta operator seluler yang digunakan.

Baca juga: Waspada! ATM Dapat Di-Hack Hanya dalam 5 Menit

Dengan menggunakan 'sidik jari' dari data-data tersebut, peretas bisa saja mengetahui banyak aktivitas online secara umum URL mana yang telah dikunjunginya, akun sosial media yang digunakan, atau tayangan Youtube yang ditonton.

Dewes mengatakan semua data itu bias dikumpulkan berasal dari plugin dalam sebuah peramban (browser) yang menyamar sebagai alat keamanan browsing bernama Web of Trust. Namun setelah adanya publikasi Eckert dan Dewes, plugin tersebut memperbarui kebijakannya dan mengakui telah menjual data pengguna meski dalam bentuk anonim.

Publikasi ini menjadi bukti bahwa keamanan aktivitas online masih rentan dari aksi mata-mata serta relatif mudah dilakukan oleh peretas.</content:encoded></item></channel></rss>
