<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perjalanan Google Loon di Indonesia</title><description>Google memiliki proyek Loon yang dikembangkan dengan misi menyediakan akses internet di daerah terpencil dan sulit dijangkau.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/03/14/207/1642049/perjalanan-google-loon-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2017/03/14/207/1642049/perjalanan-google-loon-di-indonesia"/><item><title>Perjalanan Google Loon di Indonesia</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2017/03/14/207/1642049/perjalanan-google-loon-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2017/03/14/207/1642049/perjalanan-google-loon-di-indonesia</guid><pubDate>Selasa 14 Maret 2017 09:27 WIB</pubDate><dc:creator>Kustin Ayuwuragil Desmuflihah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/14/207/1642049/perjalanan-google-loon-di-indonesia-oM15Xqb6T5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: UK Norton</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/14/207/1642049/perjalanan-google-loon-di-indonesia-oM15Xqb6T5.jpg</image><title>Foto: UK Norton</title></images><description>MOUNTAIN VIEW &amp;ndash; Google memiliki proyek Loon yang dikembangkan oleh X dengan misi untuk menyediakan akses internet di daerah terpencil dan sulit dijangkau infrastruktur biasa. Proyek ini mengandalkan balon-balon altitude tinggi yang diterbangkan di stratosfer atau 18 km di atas udara untuk menciptakan jaringan nirkabel dengan kecepatan 4G LTE.
Proyek ambisius yang dianggap gila untuk memberikan akses pada lima miliar orang ini merambah ke Indonesia. Hal itu sangat wajar mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang belum terselimuti jaringan internet dengan baik.
Pendiri Google Sergey Brin sempat datang ke Indonesia pada akhir 2015 untuk kampanye net neutrality. Dari sana, tampaknya hubungan Indonesia dengan Google terjalin semakin rapat sehingga pada Februari 2016, proyek Loon mulai siap diuji di Tanah Air meski Google belum melaksanakan uji teknis.
Pada 15 Maret 2016, CEO Project Loon Mike Cassidy menyambangi Indonesia dan mengumumkan kerjasama. Rencananya, Google Project Loon bekerjasama dengan tiga operator nirkabel di Indonesia pada saat itu untuk menguji balon Google di Indonesia.
Sayangnya pada April 2016, uji teknis Loon harus terkendala dengan izin dari pemerintah dan cuaca. Belum lagi, Google sempat terkena sengketa pajak sehingga pemerintah diminta menunda proyek Loon.
Izin terbang itu belum juga dikantongi bahkan setelah projek Loon kini memiliki bos baru yakni mantan CEO perusahaan antena nirkabel Quintel, Alastair Westgarth. Dia menggantikan Tom Moore yang baru bergabung pada Agustus 2016.
Tidak diketahui alasan mundurnya Moore dari Project Loon meski dalam beberapa bulan ke depan dia masih akan menangani proyek lain. Apakah pemimpin baru ini akan membawa nasib Loon di Indonesia menjadi semakin gamblang? Hal itu masih perlu dilihat kembali.</description><content:encoded>MOUNTAIN VIEW &amp;ndash; Google memiliki proyek Loon yang dikembangkan oleh X dengan misi untuk menyediakan akses internet di daerah terpencil dan sulit dijangkau infrastruktur biasa. Proyek ini mengandalkan balon-balon altitude tinggi yang diterbangkan di stratosfer atau 18 km di atas udara untuk menciptakan jaringan nirkabel dengan kecepatan 4G LTE.
Proyek ambisius yang dianggap gila untuk memberikan akses pada lima miliar orang ini merambah ke Indonesia. Hal itu sangat wajar mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang belum terselimuti jaringan internet dengan baik.
Pendiri Google Sergey Brin sempat datang ke Indonesia pada akhir 2015 untuk kampanye net neutrality. Dari sana, tampaknya hubungan Indonesia dengan Google terjalin semakin rapat sehingga pada Februari 2016, proyek Loon mulai siap diuji di Tanah Air meski Google belum melaksanakan uji teknis.
Pada 15 Maret 2016, CEO Project Loon Mike Cassidy menyambangi Indonesia dan mengumumkan kerjasama. Rencananya, Google Project Loon bekerjasama dengan tiga operator nirkabel di Indonesia pada saat itu untuk menguji balon Google di Indonesia.
Sayangnya pada April 2016, uji teknis Loon harus terkendala dengan izin dari pemerintah dan cuaca. Belum lagi, Google sempat terkena sengketa pajak sehingga pemerintah diminta menunda proyek Loon.
Izin terbang itu belum juga dikantongi bahkan setelah projek Loon kini memiliki bos baru yakni mantan CEO perusahaan antena nirkabel Quintel, Alastair Westgarth. Dia menggantikan Tom Moore yang baru bergabung pada Agustus 2016.
Tidak diketahui alasan mundurnya Moore dari Project Loon meski dalam beberapa bulan ke depan dia masih akan menangani proyek lain. Apakah pemimpin baru ini akan membawa nasib Loon di Indonesia menjadi semakin gamblang? Hal itu masih perlu dilihat kembali.</content:encoded></item></channel></rss>
