<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KALEIDOSKOP 2016: Apa Kabar Kendaraan Listrik?</title><description>Ditengah perkembangan mobil bertenaga listrik yang dilakukan produsen automotif global, Indonesia belum berencana memasukkannya.&amp;nbsp;</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2016/12/21/15/1572026/kaleidoskop-2016-apa-kabar-kendaraan-listrik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2016/12/21/15/1572026/kaleidoskop-2016-apa-kabar-kendaraan-listrik"/><item><title>KALEIDOSKOP 2016: Apa Kabar Kendaraan Listrik?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2016/12/21/15/1572026/kaleidoskop-2016-apa-kabar-kendaraan-listrik</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2016/12/21/15/1572026/kaleidoskop-2016-apa-kabar-kendaraan-listrik</guid><pubDate>Rabu 21 Desember 2016 12:11 WIB</pubDate><dc:creator>Mufrod</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/12/21/15/1572026/kaleidoskop-automotif-2016-apa-kabar-kendaraan-listrik-6yFiOOaX9D.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mobil listrik karya anak bangsa (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/12/21/15/1572026/kaleidoskop-automotif-2016-apa-kabar-kendaraan-listrik-6yFiOOaX9D.jpg</image><title>Mobil listrik karya anak bangsa (foto: Okezone)</title></images><description> 
PRODUSEN automotif dunia gencar mengembangkan kendaraan listrik. Beberapa di antaranya bahkan sudah memasarkannya, seperti Tesla Motors, Nissan Motor, BMW, dan General Motors. Kendaraan listrik bakal menjadi tren ke depannya menggantikan mobil bermesin konvensional yang penggunaannya berangsur berkurang.
Alasan emisi menjadi faktor utama para produsen getol membuat kendaraan listrik, di samping untuk mengurangi kebergantungan dengan bahan bakar fosil yang ketersediannya di alam makin menipis.
Untuk memasyarakatkan mobil nihil emisi karbon ini, pemerintah di banyak negara memberikan insentif serta fasilitas lain. Tujuannya agar masyarakat terangsang memilih kendaraan listrik, ketimbang mobil bermesin konvensional. Sebut saja negara-negara Eropa, Amerika Serikat, China, dan Jepang.
Namun tampaknya Pemerintah Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan mobil listrik sebagai proyek yang akan direalisasikan dalam waktu dekat. Meski demikian upaya ke arah sana sudah dirintis, seperti menyiapkan regulasi, infrastruktur, hingga mendorong kalangan kampus untuk menyiapkan teknologinya.
Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Made Putu Suryawirawan mengatakan, pemerintah beserta kalangan industri tengah menyiapkan regulasi struktur pajak berdasarkan emisi karbon yang dihasilkan. Nantinya besaran pajak, seperti PPnBM, akan ditentukan berdasarkan emisi karbon, bukan besaran kapasitas mesin seperti diterapkan saat ini.
Mobil dengan emisi karbondioksida (CO2) paling rendah dalam gram per kilometer akan dikenakan pajak paling ringan. Dengan begitu, harga mobil bisa ditekan.
Meski regulasi ini tidak menyinggung langsung kendaraan listrik, namun setidaknya hal ini merupakan anak tangga menuju mobil nol emisi karbon alias kendaraan murni listrik.
Kalangan industri pun menyatakan kesiapannya jika pemerintah sudah memberikan lampu hijau, namun mereka masih menunggu kepastian regulasi dari pemerintah. Sebagai contoh, desakan agar pemerintah memberikan insentif untuk mobil hybrid atau kendaraan dengan dua jenis mesin, yakni konvensional dan motor listrik. 
Hal tersebut dikemukakan produsen Honda yang mengaku sulit jual mobil hybrid kalau tak dapat insentif dari Pemerintah, karena harganya akan sangat mahal. Kondisi tersebut juga dirasakan Lexus yang menganggap pentingnya insentif bagi mobil hybrid yang dinilai bisa membawa peluang mobil listrik masuk ke Indonesia.
Selain itu dampak negatif dari kendaraan listrik juga menjadi sorotan. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi pernah mengatakan, kendaraan listrik menimbulkan masalah baru. Limbah baterai baterai bisa menimbulkan dampak yang lebih membahayakan.
Dampak negatif dari limbah baterai kendaraan listrik terhadap lingkungan memang tidak langsung dirasakan, melainkan jangka panjang.
Lepas dari hal itu, angin segar pengembangan mobil listrik datang dari kalangan akademisi. Kampus-kampus berlomba untuk menunjukkan kendaraan listrik hasil karya mereka. Bahkan, setiap kampus membentuk Tim Mobil Listrik Nasional (Molina).
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia bahkan telah berhasil mengembangkan berbagai jenis kendaraan ramah lingkungan bertenaga listrik. Sebut saja Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tim mobil listrik UI membuat kendaraan yang dinamakan Mobil Listrik Nasional (Molina) yang terdiri dari tiga model kendaraan antara lain Makara Electric Vehicle (MEV) 01, City Car konversi (MEV) 02, City Car konversi (MEV) 03.
Lalu dari ITS juga membuat dua kendaraan listrik yang diberi nama Ezzy 1 dan Ezzy 2. Sebagian besar komponen mobil listrik tersebut menggunakan kandungan lokal. Hanya saja motor penggeraknya masih diimpor. Untuk Ezzy 1 didatangkan dari Inggris sedangkan Ezzy 2 dari China.
Tak ketinggalan ITB membuat kendaraan bernama si Jalak, yang dikembangkan menggunakan empat model, antara lain kendaraan angkut barang, double cabin, mobil berpenumpang enam orang, dan kendaraan jip.
Walaupun kendaraan yang dibuat itu masih jauh dari versi produksi massal, namun beberapa produk mahasiswa mampu bersaing di kompetisi internasional dan mendapat penghargaan.
Salah satunya, mobil listrik Sapu Angin buatan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjuarai lomba mobil irit mahasiswa se-Asia, Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2014. Selain itu mobil listrik karya dari Universitas Negeri Sematang (Unnes) berhasil lolos untuk mengikuti kompetisi Energy Challange di Churasun Beach, Tomigusu, Okinawa, Jepang.
Berbeda dengan mobil listrik, produsen sepeda motor di Indonesia, selangkah lebih maju. Beberapa produsen sudah mulai memperkenalkan kendaraan roda dua ramah lingkungan. Sejauh ini ada beberapa produsen yang sedang mengembangkan dan menguji sepeda motor listrik, yakni Honda, Garansindo yang bekerja sama dengan ITS, serta Viar yang menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM). 
Pabrikan Honda beberapa waktu lalu menunjukkan sepeda motor listrik EV Neo serta melakukan uji coba perilaku penggunaan motor listrik di jalan raya dengan menggandeng Kementerian Perhubungan. Skuter ini sudah diluncurkan di beberapa negara dan dianggap cocok untuk pasar Indonesia.
Viar Motor Indonesia tak kalah agresif. Bahkan produsen sepeda motor nasional itu mengklaim siap meluncurkan dua model sepeda motor listriknya yakni Viar Pulse dan Q1.
Satu pemain lagi yakni Garansindo bahkan sudah menguji coba skuter yang diberi nama GESITS dari Jakarta ke Bali, sejauh lebih dari 1.200 kilometer. GESITS rencananya mulai diproduksi massal pada 2017.
Jika terealisasi, maka GESITS akan menjadi sepeda motor buatan lokal pertama yang dipasarkan di Indonesia. Skuter yang pengembangannya mendapat bantuan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) itu akan dipasarkan dengan harga antara Rp15 juta-Rp20 juta.</description><content:encoded> 
PRODUSEN automotif dunia gencar mengembangkan kendaraan listrik. Beberapa di antaranya bahkan sudah memasarkannya, seperti Tesla Motors, Nissan Motor, BMW, dan General Motors. Kendaraan listrik bakal menjadi tren ke depannya menggantikan mobil bermesin konvensional yang penggunaannya berangsur berkurang.
Alasan emisi menjadi faktor utama para produsen getol membuat kendaraan listrik, di samping untuk mengurangi kebergantungan dengan bahan bakar fosil yang ketersediannya di alam makin menipis.
Untuk memasyarakatkan mobil nihil emisi karbon ini, pemerintah di banyak negara memberikan insentif serta fasilitas lain. Tujuannya agar masyarakat terangsang memilih kendaraan listrik, ketimbang mobil bermesin konvensional. Sebut saja negara-negara Eropa, Amerika Serikat, China, dan Jepang.
Namun tampaknya Pemerintah Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan mobil listrik sebagai proyek yang akan direalisasikan dalam waktu dekat. Meski demikian upaya ke arah sana sudah dirintis, seperti menyiapkan regulasi, infrastruktur, hingga mendorong kalangan kampus untuk menyiapkan teknologinya.
Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Made Putu Suryawirawan mengatakan, pemerintah beserta kalangan industri tengah menyiapkan regulasi struktur pajak berdasarkan emisi karbon yang dihasilkan. Nantinya besaran pajak, seperti PPnBM, akan ditentukan berdasarkan emisi karbon, bukan besaran kapasitas mesin seperti diterapkan saat ini.
Mobil dengan emisi karbondioksida (CO2) paling rendah dalam gram per kilometer akan dikenakan pajak paling ringan. Dengan begitu, harga mobil bisa ditekan.
Meski regulasi ini tidak menyinggung langsung kendaraan listrik, namun setidaknya hal ini merupakan anak tangga menuju mobil nol emisi karbon alias kendaraan murni listrik.
Kalangan industri pun menyatakan kesiapannya jika pemerintah sudah memberikan lampu hijau, namun mereka masih menunggu kepastian regulasi dari pemerintah. Sebagai contoh, desakan agar pemerintah memberikan insentif untuk mobil hybrid atau kendaraan dengan dua jenis mesin, yakni konvensional dan motor listrik. 
Hal tersebut dikemukakan produsen Honda yang mengaku sulit jual mobil hybrid kalau tak dapat insentif dari Pemerintah, karena harganya akan sangat mahal. Kondisi tersebut juga dirasakan Lexus yang menganggap pentingnya insentif bagi mobil hybrid yang dinilai bisa membawa peluang mobil listrik masuk ke Indonesia.
Selain itu dampak negatif dari kendaraan listrik juga menjadi sorotan. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi pernah mengatakan, kendaraan listrik menimbulkan masalah baru. Limbah baterai baterai bisa menimbulkan dampak yang lebih membahayakan.
Dampak negatif dari limbah baterai kendaraan listrik terhadap lingkungan memang tidak langsung dirasakan, melainkan jangka panjang.
Lepas dari hal itu, angin segar pengembangan mobil listrik datang dari kalangan akademisi. Kampus-kampus berlomba untuk menunjukkan kendaraan listrik hasil karya mereka. Bahkan, setiap kampus membentuk Tim Mobil Listrik Nasional (Molina).
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia bahkan telah berhasil mengembangkan berbagai jenis kendaraan ramah lingkungan bertenaga listrik. Sebut saja Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tim mobil listrik UI membuat kendaraan yang dinamakan Mobil Listrik Nasional (Molina) yang terdiri dari tiga model kendaraan antara lain Makara Electric Vehicle (MEV) 01, City Car konversi (MEV) 02, City Car konversi (MEV) 03.
Lalu dari ITS juga membuat dua kendaraan listrik yang diberi nama Ezzy 1 dan Ezzy 2. Sebagian besar komponen mobil listrik tersebut menggunakan kandungan lokal. Hanya saja motor penggeraknya masih diimpor. Untuk Ezzy 1 didatangkan dari Inggris sedangkan Ezzy 2 dari China.
Tak ketinggalan ITB membuat kendaraan bernama si Jalak, yang dikembangkan menggunakan empat model, antara lain kendaraan angkut barang, double cabin, mobil berpenumpang enam orang, dan kendaraan jip.
Walaupun kendaraan yang dibuat itu masih jauh dari versi produksi massal, namun beberapa produk mahasiswa mampu bersaing di kompetisi internasional dan mendapat penghargaan.
Salah satunya, mobil listrik Sapu Angin buatan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjuarai lomba mobil irit mahasiswa se-Asia, Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2014. Selain itu mobil listrik karya dari Universitas Negeri Sematang (Unnes) berhasil lolos untuk mengikuti kompetisi Energy Challange di Churasun Beach, Tomigusu, Okinawa, Jepang.
Berbeda dengan mobil listrik, produsen sepeda motor di Indonesia, selangkah lebih maju. Beberapa produsen sudah mulai memperkenalkan kendaraan roda dua ramah lingkungan. Sejauh ini ada beberapa produsen yang sedang mengembangkan dan menguji sepeda motor listrik, yakni Honda, Garansindo yang bekerja sama dengan ITS, serta Viar yang menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM). 
Pabrikan Honda beberapa waktu lalu menunjukkan sepeda motor listrik EV Neo serta melakukan uji coba perilaku penggunaan motor listrik di jalan raya dengan menggandeng Kementerian Perhubungan. Skuter ini sudah diluncurkan di beberapa negara dan dianggap cocok untuk pasar Indonesia.
Viar Motor Indonesia tak kalah agresif. Bahkan produsen sepeda motor nasional itu mengklaim siap meluncurkan dua model sepeda motor listriknya yakni Viar Pulse dan Q1.
Satu pemain lagi yakni Garansindo bahkan sudah menguji coba skuter yang diberi nama GESITS dari Jakarta ke Bali, sejauh lebih dari 1.200 kilometer. GESITS rencananya mulai diproduksi massal pada 2017.
Jika terealisasi, maka GESITS akan menjadi sepeda motor buatan lokal pertama yang dipasarkan di Indonesia. Skuter yang pengembangannya mendapat bantuan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) itu akan dipasarkan dengan harga antara Rp15 juta-Rp20 juta.</content:encoded></item></channel></rss>
