<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Hanya Mobil, Kini Skuter pun Bisa Jalan Sendiri</title><description>Tak hanya mobil, sepeda motor pun kini menggunakan teknologi otonom yang bisa melaju sendiri ke tujuan.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2016/11/10/15/1538070/tak-hanya-mobil-kini-skuter-pun-bisa-jalan-sendiri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2016/11/10/15/1538070/tak-hanya-mobil-kini-skuter-pun-bisa-jalan-sendiri"/><item><title>Tak Hanya Mobil, Kini Skuter pun Bisa Jalan Sendiri</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2016/11/10/15/1538070/tak-hanya-mobil-kini-skuter-pun-bisa-jalan-sendiri</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2016/11/10/15/1538070/tak-hanya-mobil-kini-skuter-pun-bisa-jalan-sendiri</guid><pubDate>Jum'at 11 November 2016 07:45 WIB</pubDate><dc:creator>Anton Suhartono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/10/15/1538070/tak-hanya-mobil-kini-skuter-pun-bisa-jalan-sendiri-cHGJR3I8BF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Para ahli Singapura dan MIT mengembangkan skuter otonom untuk penggunaan di tempat khusus (Ilustrasi, Indiatimes)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/10/15/1538070/tak-hanya-mobil-kini-skuter-pun-bisa-jalan-sendiri-cHGJR3I8BF.jpg</image><title>Para ahli Singapura dan MIT mengembangkan skuter otonom untuk penggunaan di tempat khusus (Ilustrasi, Indiatimes)</title></images><description>BOSTON - Para ilmuwan tengah mengembangkan skuter yang mampu berjalan sendiri atau berteknologi otonom. Teknologi yang digunakannya sama dengan pada mobil otonom.
Namun penggunaan skuter otonom masih terbatas di tempat tertentu, seperti apartemen atau tempat golf, bukan di jalanan dengan arus lalu lintas yang kompleks.
Uji coba terbaru menunjukkan algoritma yang dibuat para ahli mampu membuat skuter berjalan di pekarangan apartemen. Kendaraan ini bisa membantu mobilitas di kompleks apartemen seperti dari lobi ke parkir dan sebagainya.
&quot;Kami menguji cobanya di ruang yang lebih sempit,&quot; ungkap Scott Pendleton, seorang ahli lulusan Universitas Nasional Singapura (NUS), seperti dikutip dari PIT.
Desain termasuk perangkat lunak skuter otonom merupakan hasil kerja sama penelitian para ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Singapore MIT Alliance for Research and Technology (SMART).
Algoritma pada skuter memungkinkan kendaraan mungil itu untuk merespons dengan cepat perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan, termasuk rambu-rambu jalan. Bahkan jika ada orang yang menyeberang secara tiba-tiba pun sistem pada skuter bisa meresponsnya dengan cepat.
Selain itu, skuter ini juga bisa membaca posisi mobil melalui peta gedung.
Sementara itu seorang profesor MIT, Daniela Rus, mengatakan, jika setiap kendaraan otonom menggunakan algoritma yang sama maka hal ini bisa menjadi keuntungan. Pasalnya sistem pada setiap kendaraan akan berlaku sama, termasuk mobil.
&quot;Jika Anda memiliki sistem yang seragam di mana semua algoritma sama, maka tingkat kompleksitasnya akan lebih rendah dibandingkan dengan sistem yang heterogen di mana setiap mobil menggunakan sistem berbeda.</description><content:encoded>BOSTON - Para ilmuwan tengah mengembangkan skuter yang mampu berjalan sendiri atau berteknologi otonom. Teknologi yang digunakannya sama dengan pada mobil otonom.
Namun penggunaan skuter otonom masih terbatas di tempat tertentu, seperti apartemen atau tempat golf, bukan di jalanan dengan arus lalu lintas yang kompleks.
Uji coba terbaru menunjukkan algoritma yang dibuat para ahli mampu membuat skuter berjalan di pekarangan apartemen. Kendaraan ini bisa membantu mobilitas di kompleks apartemen seperti dari lobi ke parkir dan sebagainya.
&quot;Kami menguji cobanya di ruang yang lebih sempit,&quot; ungkap Scott Pendleton, seorang ahli lulusan Universitas Nasional Singapura (NUS), seperti dikutip dari PIT.
Desain termasuk perangkat lunak skuter otonom merupakan hasil kerja sama penelitian para ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Singapore MIT Alliance for Research and Technology (SMART).
Algoritma pada skuter memungkinkan kendaraan mungil itu untuk merespons dengan cepat perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan, termasuk rambu-rambu jalan. Bahkan jika ada orang yang menyeberang secara tiba-tiba pun sistem pada skuter bisa meresponsnya dengan cepat.
Selain itu, skuter ini juga bisa membaca posisi mobil melalui peta gedung.
Sementara itu seorang profesor MIT, Daniela Rus, mengatakan, jika setiap kendaraan otonom menggunakan algoritma yang sama maka hal ini bisa menjadi keuntungan. Pasalnya sistem pada setiap kendaraan akan berlaku sama, termasuk mobil.
&quot;Jika Anda memiliki sistem yang seragam di mana semua algoritma sama, maka tingkat kompleksitasnya akan lebih rendah dibandingkan dengan sistem yang heterogen di mana setiap mobil menggunakan sistem berbeda.</content:encoded></item></channel></rss>
