<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>CEO XL Buka-Bukaan Tentang Tantangan Akuisisi Axis</title><description>Dalam perbincangan XL dan Okezone membahas tentang keberlangsungan Axis yang telah diakuisisi XL Axiata sejak Maret 2014.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2015/12/08/54/1263376/ceo-xl-buka-bukaan-tentang-tantangan-akuisisi-axis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2015/12/08/54/1263376/ceo-xl-buka-bukaan-tentang-tantangan-akuisisi-axis"/><item><title>CEO XL Buka-Bukaan Tentang Tantangan Akuisisi Axis</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2015/12/08/54/1263376/ceo-xl-buka-bukaan-tentang-tantangan-akuisisi-axis</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2015/12/08/54/1263376/ceo-xl-buka-bukaan-tentang-tantangan-akuisisi-axis</guid><pubDate>Selasa 08 Desember 2015 20:00 WIB</pubDate><dc:creator>Kustin Ayuwuragil Desmuflihah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/08/54/1263376/ceo-xl-buka-bukaan-tentang-tantangan-akuisisi-axis-xgyFY2PCJJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">CEO XL Buka-Bukaan Tentang Tantangan Akuisisi Axis (Foto: Muhammad Sabqi/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/08/54/1263376/ceo-xl-buka-bukaan-tentang-tantangan-akuisisi-axis-xgyFY2PCJJ.jpg</image><title>CEO XL Buka-Bukaan Tentang Tantangan Akuisisi Axis (Foto: Muhammad Sabqi/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - CEO XL Dian Siswarini beserta timnnya melakukan wawancara khusus dengan Okezone pada Senin (7/12/2015) di kawasan Mega Kuningan, Jakata Pusat. Dalam bincang-bincang tersebut, tim Okezone berkesempatan untuk membahas tentang keberlangsungan Axis yang telah diakuisisi XL Axiata sejak Maret 2014.

Bagaimana perjalanan XL Axiata di tahun 2015?
Tahun 2015 ini betul-betul tahun perubahan karena keluar dari beban akuisisi itu tidak mudah dari segala sisi, terutama dari sisi finansial. Karena setelah akuisisi, hutangnya tiba-tiba banyak. Kemudian ditambah lagi tahun ini Forex luar biasa jump-nya sehingga impact ke kita besar sekali.

Dengan adanya beban tersebut, apa yang dilakukan?
Di tahun 2015 ini fokus kita adalah membenahi buku kita karena sempat berat dengan akuisisi Axis. Jadi kita lakukan repayment, balancing dan sepertinya akan terus begitu ke depan supaya buku kita lebih cantik. Insya Allah di 2016 itu nanti buku kita sudah jauh lebih cantik dan ringan sehingga inisiatif di arah pengembangan ini sudah tidak ada beban. 

Apa yang sudah didapatkan XL dari akuisisi Axis?
Keluar dari akuisisi adalah bagaimana kita menggunakan aset yang lain yang sudah didapat, jadi waktu itu aset yang kita dapat adalah aset pasif seperti tower dan equipment dan segala macamnya. Kalau itu tidak dipakai, maka itu akan lebih memberatkan kita. Jadi kita meningkatkan produktivitas dari fasilitas yang sudah kita miliki itu.

Kami juga dapat satu lagi, yaitu brand dengan merger Axis. Pilihannya apakah kita mau jadikan satu brand atau multi-brand padahal multi-brand itu mahal banget, terutama untuk masalah marketing bahkan bisa dua kali lipat, tetapi ini penting untuk yang punya multi segmen. 

Lalu, apakah yang menjadi pilihan XL?
Kita lihat sekarang Indonesia segmennya berubah. Middle class-nya lama-lama berkembang sehingga kelas tingginya makin besar. Sedangkan kalau kita punya monolitic brand itu pasti approach kita larinya ke yang bawah karena kita mass approach value yang bisa dimasukkin adalah harga.

Jadi, dengan perubahan Indonesia yang seperti itu, enggak bisa lagi kita cuma punya satu brand. Tahun ini kita putuskan pakai dua-duanya kita hidupkan lagi pada April 2015 dengan look yang baru meski sama-sama ungu. Tapi dual brand ini kalau nggak hati-hati saling kanibalisasi.

Bagaimana kondisi Axis yang terkini?
Waktu kita biarkan, dia memang sempat turun, tetapi sekarang sudah hampir sama dengan waktu kita beli dulu.

Axis itu hanya kuat di beberapa tempat. Jadi dulu itu Axis mulai di Surabaya di sana kuat, di Jabodetabek juga kuat tetapi enggak ada suaranya di Sumatera. Jadi tahun ini memang kita fokuskan ke luar Jawa. Itu sekarang awareness-nya kalau kita ukur sudah lumayan.</description><content:encoded>JAKARTA - CEO XL Dian Siswarini beserta timnnya melakukan wawancara khusus dengan Okezone pada Senin (7/12/2015) di kawasan Mega Kuningan, Jakata Pusat. Dalam bincang-bincang tersebut, tim Okezone berkesempatan untuk membahas tentang keberlangsungan Axis yang telah diakuisisi XL Axiata sejak Maret 2014.

Bagaimana perjalanan XL Axiata di tahun 2015?
Tahun 2015 ini betul-betul tahun perubahan karena keluar dari beban akuisisi itu tidak mudah dari segala sisi, terutama dari sisi finansial. Karena setelah akuisisi, hutangnya tiba-tiba banyak. Kemudian ditambah lagi tahun ini Forex luar biasa jump-nya sehingga impact ke kita besar sekali.

Dengan adanya beban tersebut, apa yang dilakukan?
Di tahun 2015 ini fokus kita adalah membenahi buku kita karena sempat berat dengan akuisisi Axis. Jadi kita lakukan repayment, balancing dan sepertinya akan terus begitu ke depan supaya buku kita lebih cantik. Insya Allah di 2016 itu nanti buku kita sudah jauh lebih cantik dan ringan sehingga inisiatif di arah pengembangan ini sudah tidak ada beban. 

Apa yang sudah didapatkan XL dari akuisisi Axis?
Keluar dari akuisisi adalah bagaimana kita menggunakan aset yang lain yang sudah didapat, jadi waktu itu aset yang kita dapat adalah aset pasif seperti tower dan equipment dan segala macamnya. Kalau itu tidak dipakai, maka itu akan lebih memberatkan kita. Jadi kita meningkatkan produktivitas dari fasilitas yang sudah kita miliki itu.

Kami juga dapat satu lagi, yaitu brand dengan merger Axis. Pilihannya apakah kita mau jadikan satu brand atau multi-brand padahal multi-brand itu mahal banget, terutama untuk masalah marketing bahkan bisa dua kali lipat, tetapi ini penting untuk yang punya multi segmen. 

Lalu, apakah yang menjadi pilihan XL?
Kita lihat sekarang Indonesia segmennya berubah. Middle class-nya lama-lama berkembang sehingga kelas tingginya makin besar. Sedangkan kalau kita punya monolitic brand itu pasti approach kita larinya ke yang bawah karena kita mass approach value yang bisa dimasukkin adalah harga.

Jadi, dengan perubahan Indonesia yang seperti itu, enggak bisa lagi kita cuma punya satu brand. Tahun ini kita putuskan pakai dua-duanya kita hidupkan lagi pada April 2015 dengan look yang baru meski sama-sama ungu. Tapi dual brand ini kalau nggak hati-hati saling kanibalisasi.

Bagaimana kondisi Axis yang terkini?
Waktu kita biarkan, dia memang sempat turun, tetapi sekarang sudah hampir sama dengan waktu kita beli dulu.

Axis itu hanya kuat di beberapa tempat. Jadi dulu itu Axis mulai di Surabaya di sana kuat, di Jabodetabek juga kuat tetapi enggak ada suaranya di Sumatera. Jadi tahun ini memang kita fokuskan ke luar Jawa. Itu sekarang awareness-nya kalau kita ukur sudah lumayan.</content:encoded></item></channel></rss>
