<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pemilik Blu-Jek Pergoki Calo di Depan Kantornya</title><description>Co Founder Blu-Jek, Michael Manuhutu, menekankan bahwa masyarakat perlu  berhati-hati ketika ingin melamar menjadi pengemudi ojek online</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2015/11/09/207/1246318/kisah-pemilik-blu-jek-pergoki-calo-di-depan-kantornya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2015/11/09/207/1246318/kisah-pemilik-blu-jek-pergoki-calo-di-depan-kantornya"/><item><title>Kisah Pemilik Blu-Jek Pergoki Calo di Depan Kantornya</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2015/11/09/207/1246318/kisah-pemilik-blu-jek-pergoki-calo-di-depan-kantornya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2015/11/09/207/1246318/kisah-pemilik-blu-jek-pergoki-calo-di-depan-kantornya</guid><pubDate>Selasa 10 November 2015 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Advent Jose</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/11/09/207/1246318/kisah-pemiliki-blue-jek-pergoki-calo-di-depan-kantornya-gkCZZEG9z3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi (foto : Dede Kurniawan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/11/09/207/1246318/kisah-pemiliki-blue-jek-pergoki-calo-di-depan-kantornya-gkCZZEG9z3.jpg</image><title>ilustrasi (foto : Dede Kurniawan)</title></images><description>JAKARTA - Layanan ojek berbasis aplikasi semakin booming belakangan. Sebut saja Go-Jek, Grabbike, dan juga Blu-Jek, adalah sejumlah nama  yang menawarkan layanan itu di Indonesia.
Bak gayung bersambut, masyarakat menyambut baik layanan tersebut dan cenderung lebih menyenangi memesan ojek secara online ketimbang konvensional.
Melihat tren yang berubah ini, banyak orang yang tergerak mencoba mencoba peruntungan di ranah itu. Sebagai contoh, ketika Go-Jek membuka lowongan kerja di Senayan, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk melamar.
Namun begitu, Co Founder Blu-Jek, Michael Manuhutu, menekankan bahwa masyarakat perlu berhati-hati ketika ingin melamar menjadi pengemudi ojek online. Itu disebabkan ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti calo, yang menipu masyarakat awam dengan alasan dapat membantu memuluskan jalan untuk menjadi pengemudi ojek online dengan mudah.
&amp;ldquo;Kami pernah mendapat pengalaman tidak menyenangkan terkait proses perekrutan driver Blu-Jek. Ada orang yang mengaku telah menyerahkan dokumen serta sejumlah uang kepada seseorang dan mengaku dapat membantu mereka untuk menjadi driver Blu-Jek,&amp;rdquo; kisah Michael ketika bertandang ke kantor Okezone, Senin (9/11/2015).
Orang-orang yang mengaku telah mendaftarkan diri untuk menjadi driver itu lantas menanyakan, apakah dokumen yang telah diberikan itu telah selesai diproses dengan mendatangi kantor Blu-Jek. Setelah dicek, kata Michael, ternyata nama-nama para pendaftar itu tidak ada di arsip dokumen perusahaan. Kisruh pun terjadi sebab mereka telah menyerahkan sejumlah uang kepada si calo, agar dapat menjadi pengemudi Blu-Jek.
&amp;ldquo;Ada yang bilang kasih uang sebesar Rp300-500 ribu hingga Rp1 juta kepada si calo itu,&amp;rdquo; tutur Michael.
Berawal dari sana, ucap Michael, Blu-Jek menelusuri siapa  yang bertanggung jawab atas masalah ini. Akhirnya ditemukan, ada calo-calo yang bermain di sana.
Diterangkan Mike para calo tersebut bisa tersebar di mana saja. Lucunya, dirinya bersama Founder Blu-Jek, Garret Kartono, pernah memergoki ada calo yang coba melancarkan aksi di depan kantor Blu-Jek sendiri yang terletak di Jakarta Selatan.
&amp;ldquo;Modus yang digunakan para calo ketika melancarkan aksinya, biasanya mereka mengiming-imingi calon korban dengan menjanjikan akan mendapatkan proses yang mudah dan cepat untuk menjadi calon pengemudi Blu-Jek. Selain meminta dokumen-dokumen yang dibutuhkan, calo pun meminta uang meski mendaftar menjadi calon driver Blu-Jek tidak dipungut biaya,&amp;rdquo; ucap Michael lagi.
Menanggapi problem ini, Garret mengaku pihak tidak tinggal diam. Blu-Jek memiliki tim investigasi yang terdiri dari tujuh orang untuk menelisik hal tersebut. Blu-Jek mengaku berhasil menemukan sejumlah calo yang merugikan para calon driver tersebut.
&amp;ldquo;Para calo yang berhasil kami tangkap itu ditawarkan dua mekanisme penyelesaian, apakah ingin dibawa ke ranah hukum atau secara kekeluargaan. Jika ke ranah hukum, maka kami akan melaporkan kepada pihak Kepolisian, tetapi jika memilih secara kekeluargaan, maka mereka diharuskan mengembalikan uang kepada korban yang telah ditipunya tersebut,&amp;rdquo; terang Garret.
Sejauh ini, kata Garret, masalah ini belum sampai ada yang pernah dibawa ke ranah hukum. Sebab para calo itu memilih untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan saja.</description><content:encoded>JAKARTA - Layanan ojek berbasis aplikasi semakin booming belakangan. Sebut saja Go-Jek, Grabbike, dan juga Blu-Jek, adalah sejumlah nama  yang menawarkan layanan itu di Indonesia.
Bak gayung bersambut, masyarakat menyambut baik layanan tersebut dan cenderung lebih menyenangi memesan ojek secara online ketimbang konvensional.
Melihat tren yang berubah ini, banyak orang yang tergerak mencoba mencoba peruntungan di ranah itu. Sebagai contoh, ketika Go-Jek membuka lowongan kerja di Senayan, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk melamar.
Namun begitu, Co Founder Blu-Jek, Michael Manuhutu, menekankan bahwa masyarakat perlu berhati-hati ketika ingin melamar menjadi pengemudi ojek online. Itu disebabkan ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti calo, yang menipu masyarakat awam dengan alasan dapat membantu memuluskan jalan untuk menjadi pengemudi ojek online dengan mudah.
&amp;ldquo;Kami pernah mendapat pengalaman tidak menyenangkan terkait proses perekrutan driver Blu-Jek. Ada orang yang mengaku telah menyerahkan dokumen serta sejumlah uang kepada seseorang dan mengaku dapat membantu mereka untuk menjadi driver Blu-Jek,&amp;rdquo; kisah Michael ketika bertandang ke kantor Okezone, Senin (9/11/2015).
Orang-orang yang mengaku telah mendaftarkan diri untuk menjadi driver itu lantas menanyakan, apakah dokumen yang telah diberikan itu telah selesai diproses dengan mendatangi kantor Blu-Jek. Setelah dicek, kata Michael, ternyata nama-nama para pendaftar itu tidak ada di arsip dokumen perusahaan. Kisruh pun terjadi sebab mereka telah menyerahkan sejumlah uang kepada si calo, agar dapat menjadi pengemudi Blu-Jek.
&amp;ldquo;Ada yang bilang kasih uang sebesar Rp300-500 ribu hingga Rp1 juta kepada si calo itu,&amp;rdquo; tutur Michael.
Berawal dari sana, ucap Michael, Blu-Jek menelusuri siapa  yang bertanggung jawab atas masalah ini. Akhirnya ditemukan, ada calo-calo yang bermain di sana.
Diterangkan Mike para calo tersebut bisa tersebar di mana saja. Lucunya, dirinya bersama Founder Blu-Jek, Garret Kartono, pernah memergoki ada calo yang coba melancarkan aksi di depan kantor Blu-Jek sendiri yang terletak di Jakarta Selatan.
&amp;ldquo;Modus yang digunakan para calo ketika melancarkan aksinya, biasanya mereka mengiming-imingi calon korban dengan menjanjikan akan mendapatkan proses yang mudah dan cepat untuk menjadi calon pengemudi Blu-Jek. Selain meminta dokumen-dokumen yang dibutuhkan, calo pun meminta uang meski mendaftar menjadi calon driver Blu-Jek tidak dipungut biaya,&amp;rdquo; ucap Michael lagi.
Menanggapi problem ini, Garret mengaku pihak tidak tinggal diam. Blu-Jek memiliki tim investigasi yang terdiri dari tujuh orang untuk menelisik hal tersebut. Blu-Jek mengaku berhasil menemukan sejumlah calo yang merugikan para calon driver tersebut.
&amp;ldquo;Para calo yang berhasil kami tangkap itu ditawarkan dua mekanisme penyelesaian, apakah ingin dibawa ke ranah hukum atau secara kekeluargaan. Jika ke ranah hukum, maka kami akan melaporkan kepada pihak Kepolisian, tetapi jika memilih secara kekeluargaan, maka mereka diharuskan mengembalikan uang kepada korban yang telah ditipunya tersebut,&amp;rdquo; terang Garret.
Sejauh ini, kata Garret, masalah ini belum sampai ada yang pernah dibawa ke ranah hukum. Sebab para calo itu memilih untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan saja.</content:encoded></item></channel></rss>
