<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dinosaurus Amfibi Raksasa 'Bersembunyi' Saat Kekeringan</title><description>Peneliti menemukan fosil hewan purba yang tampak seperti nenek moyang katak.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2013/09/04/56/860640/dinosaurus-amfibi-raksasa-bersembunyi-saat-kekeringan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2013/09/04/56/860640/dinosaurus-amfibi-raksasa-bersembunyi-saat-kekeringan"/><item><title>Dinosaurus Amfibi Raksasa 'Bersembunyi' Saat Kekeringan</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2013/09/04/56/860640/dinosaurus-amfibi-raksasa-bersembunyi-saat-kekeringan</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2013/09/04/56/860640/dinosaurus-amfibi-raksasa-bersembunyi-saat-kekeringan</guid><pubDate>Rabu 04 September 2013 15:40 WIB</pubDate><dc:creator>Ahmad Luthfi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/09/04/56/860640/EWErwNMwc3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Softpedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/09/04/56/860640/EWErwNMwc3.jpg</image><title>(Foto: Softpedia)</title></images><description>JAKARTA - Peneliti menemukan fosil hewan purba yang tampak seperti nenek moyang katak. Peneliti mengatakan, hewan yang pernah hidup ratusan juta tahun lalu itu bersembunyi di sebuah liang setiap kali memasuki musim kering atau kelangkaan air.Dilansir Softpedia, Rabu (4/9/2013), dinosaurus amfibi raksasa ini memiliki panjang 10 kaki (3 meter) dan berkeliaran di permukaan Bumi pada 230 juta tahun lalu, selama periode Triassic. Hewan ini kabarnya senang bersembunyi di bawah tanah ketika air sangat sulit ditemukan.Ahli hewan purbakala atau paleontolog menjelaskan, bukti fosil Metoposaurus menunjukkan hewan masa lampau tersebut memiliki kepala yang lebar. Selain itu, hewan purba ini memiliki lengan yang kuat untuk mengubur dirinya di bawah tanah ketika musim kemarau baru dimulai.Menariknya, Metoposaurus tidak tumbuh besar ketika mereka tertidur di bawah tanah. Sementara tulang amfibi awal lainnya menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang cepat.Pertumbuhan yang cepat tersebut kabarnya berkaitan dengan musim penghujan serta menunjukkan tanda pertumbuhan lambat, yang terkait dengan musim kemarau. Untuk Metoposaurus, hewan tersebut bisa tumbuh lambat atau benar-benar tidak ada pertumbuhan sama sekali.&quot;Sejarah tulang panjang Metoposaurus tampaknya menjadi unik,&quot; kata peneliti Dorota Konietzo-Meier. Peneliti meyakini bahwa ada keterkaitan antara iklim dua musim, di mana musim hujan lebih menguntungkan dan musim kekeringan merupakan bagian dari kondisi kehidupan yang lebih buruk.</description><content:encoded>JAKARTA - Peneliti menemukan fosil hewan purba yang tampak seperti nenek moyang katak. Peneliti mengatakan, hewan yang pernah hidup ratusan juta tahun lalu itu bersembunyi di sebuah liang setiap kali memasuki musim kering atau kelangkaan air.Dilansir Softpedia, Rabu (4/9/2013), dinosaurus amfibi raksasa ini memiliki panjang 10 kaki (3 meter) dan berkeliaran di permukaan Bumi pada 230 juta tahun lalu, selama periode Triassic. Hewan ini kabarnya senang bersembunyi di bawah tanah ketika air sangat sulit ditemukan.Ahli hewan purbakala atau paleontolog menjelaskan, bukti fosil Metoposaurus menunjukkan hewan masa lampau tersebut memiliki kepala yang lebar. Selain itu, hewan purba ini memiliki lengan yang kuat untuk mengubur dirinya di bawah tanah ketika musim kemarau baru dimulai.Menariknya, Metoposaurus tidak tumbuh besar ketika mereka tertidur di bawah tanah. Sementara tulang amfibi awal lainnya menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang cepat.Pertumbuhan yang cepat tersebut kabarnya berkaitan dengan musim penghujan serta menunjukkan tanda pertumbuhan lambat, yang terkait dengan musim kemarau. Untuk Metoposaurus, hewan tersebut bisa tumbuh lambat atau benar-benar tidak ada pertumbuhan sama sekali.&quot;Sejarah tulang panjang Metoposaurus tampaknya menjadi unik,&quot; kata peneliti Dorota Konietzo-Meier. Peneliti meyakini bahwa ada keterkaitan antara iklim dua musim, di mana musim hujan lebih menguntungkan dan musim kekeringan merupakan bagian dari kondisi kehidupan yang lebih buruk.</content:encoded></item></channel></rss>
