<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Dampak Perubahan Iklim Terhadap Pertanian Indonesia</title><description>Ancaman bencana yang paling sering menghantui para petani adalah  hidrometeorologi (banjir, kekeringan dan angin puting beliung).</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2013/05/01/56/800423/dampak-perubahan-iklim-terhadap-pertanian-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2013/05/01/56/800423/dampak-perubahan-iklim-terhadap-pertanian-indonesia"/><item><title> Dampak Perubahan Iklim Terhadap Pertanian Indonesia</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2013/05/01/56/800423/dampak-perubahan-iklim-terhadap-pertanian-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2013/05/01/56/800423/dampak-perubahan-iklim-terhadap-pertanian-indonesia</guid><pubDate>Rabu 01 Mei 2013 12:55 WIB</pubDate><dc:creator>Ayunda W Savitri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/01/56/800423/Tx6bfTeGAD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ayunda/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/01/56/800423/Tx6bfTeGAD.jpg</image><title>Foto: Ayunda/Okezone</title></images><description>JAKARTA - Naiknya suhu permukaan bumi menyebabkan terjadinya kekacauan pola musim, khususnya di Indonesia. Di mana cuaca yang tidak menentu membuat para petani sulit dalam memperkirakan waktu untuk mengelola lahan dan memanen.Akibat perubahan iklim (climate change) ini, Indonesia memiliki fenomena musim hujan cenderung lebih pendek. Di sisi lain, musim kemarau yang lebih panjang telah meningkatkan berbagai ancaman bencana bagi sektor pertanian.Ancaman bencana yang paling sering menghantui para petani adalah hidrometeorologi (banjir, kekeringan dan angin puting beliung). Hal ini akan memiliki dampak serius terhadap lingkungan, produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.&quot;Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi dunia pertanian. Petani masih sangat minim memahami proses adaptasi (penyesuaian) terhadap perubahan iklim yang berdampak sistematik bagi hasil pertanian,&quot; kata Sekjen DPP Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia, Riyono dalam diskusi yang diadakan oleh Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MAPIPTEK) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Rabu (1/5/2013).Menurutnya, inovasi teknologi menjadi penting di saat pangan semakin berkurang. Sayangnya, saat ini kurangnya informasi utuh tentang perubahan iklim dapat menghambat optimalisasi hasil produk pertanian dalam skala makro. &quot;Sehingga, petani kita masih sering mengalami risiko gagal panen akibat kekeringan, banjir dan ledakan hama,&quot; tutup Riyono.</description><content:encoded>JAKARTA - Naiknya suhu permukaan bumi menyebabkan terjadinya kekacauan pola musim, khususnya di Indonesia. Di mana cuaca yang tidak menentu membuat para petani sulit dalam memperkirakan waktu untuk mengelola lahan dan memanen.Akibat perubahan iklim (climate change) ini, Indonesia memiliki fenomena musim hujan cenderung lebih pendek. Di sisi lain, musim kemarau yang lebih panjang telah meningkatkan berbagai ancaman bencana bagi sektor pertanian.Ancaman bencana yang paling sering menghantui para petani adalah hidrometeorologi (banjir, kekeringan dan angin puting beliung). Hal ini akan memiliki dampak serius terhadap lingkungan, produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.&quot;Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi dunia pertanian. Petani masih sangat minim memahami proses adaptasi (penyesuaian) terhadap perubahan iklim yang berdampak sistematik bagi hasil pertanian,&quot; kata Sekjen DPP Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia, Riyono dalam diskusi yang diadakan oleh Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MAPIPTEK) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Rabu (1/5/2013).Menurutnya, inovasi teknologi menjadi penting di saat pangan semakin berkurang. Sayangnya, saat ini kurangnya informasi utuh tentang perubahan iklim dapat menghambat optimalisasi hasil produk pertanian dalam skala makro. &quot;Sehingga, petani kita masih sering mengalami risiko gagal panen akibat kekeringan, banjir dan ledakan hama,&quot; tutup Riyono.</content:encoded></item></channel></rss>
