<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Duplikat Patung Kuno dengan Printer 3D</title><description>Ilmuwan asal Harvard University baru-baru ini membuat duplikat patung kuno menggunakan mesin cetak (printer) tiga dimensi (3D).</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2013/02/01/56/755180/duplikat-patung-kuno-dengan-printer-3d</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2013/02/01/56/755180/duplikat-patung-kuno-dengan-printer-3d"/><item><title>Duplikat Patung Kuno dengan Printer 3D</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2013/02/01/56/755180/duplikat-patung-kuno-dengan-printer-3d</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2013/02/01/56/755180/duplikat-patung-kuno-dengan-printer-3d</guid><pubDate>Jum'at 01 Februari 2013 15:01 WIB</pubDate><dc:creator>Ahmad Luthfi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/02/01/56/755180/85xOJWDU1j.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Time)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/02/01/56/755180/85xOJWDU1j.jpg</image><title>(Foto: Time)</title></images><description>WASHINGTON - Ilmuwan asal Harvard University baru-baru ini membuat duplikat patung kuno menggunakan mesin cetak (printer) tiga dimensi (3D). Teknologi cetak inovatif ini tidak hanya digunakan dalam pembuatan manufaktur, tetapi juga dimanfaatkan untuk arsitektur serta mendukung bidang ilmu pengetahuan.Dilansir Time, Jumat (1/2/2013), cetak 3D bisa menjadi perangkat populer untuk masa depan. Teknik ini digunakan peneliti untuk mereplika ulang model 3D dari patung singa yang pernah ada sejak periode Nuzi, berusia sekira 3.300 tahun lalu.Kota Nuzi ribuan tahun lalu mengalami invasi dan meninggalkan sisa-sisa puing reruntuhan. Di era modern saat ini, situs peninggalan periode Nuzi itu terletak di Kirkuk, Irak.Tim arkeolog dari Amerika Serikat mulai melakukan penggalian di situs Timur Tengah ini sejak 1930. Mereka menemukan sejumlah harta karun yang telah rusak.Di antara temuan di Yorghan Tepe (nama modern untuk situs Nuzi), arkeolog menemukan satu set patung singa yang diduga mendampingi patung dewa Ishtar. Objek bersejarah ini berada di bawah penjagaan pemerintahan kolonial ketika itu, serta dibagi antara pemerintah daerah serta arkeolog.Peneliti asal Harvard University, kemudian membuat replika patung singa yang rusak tersebut menggunakan bantuan mesin cetak 3D, yang kemudian ditempatkan di Semitic Museum, Harvard University. Pembuatan duplikat patung tersebut diperlukan guna menyediakan bentuk utuk secara keseluruhan bagi para pengunjung museum.&quot;Ini merupakan produksi fisik pertama yang kami selesaikan menggunakan teknologi ini,&quot; ujar Adam Aja, asisten kurator Semitic Museum. Proses rekonstruksi patung singa Nuzi ini tengah berada dalam proses. Museum juga akan melakukan pengecatan pada patung kuno tersebut, sesuai dengan warna patung aslinya.&quot;Patung ini terdegradasi dari waktu ke waktu. Awalnya berwarna biru cerah. Sebagai penampilan modern seni, kami seringkali memberikan warna pada potongan-potongan kuno dengan warna putih,&quot; pungkas Adam.</description><content:encoded>WASHINGTON - Ilmuwan asal Harvard University baru-baru ini membuat duplikat patung kuno menggunakan mesin cetak (printer) tiga dimensi (3D). Teknologi cetak inovatif ini tidak hanya digunakan dalam pembuatan manufaktur, tetapi juga dimanfaatkan untuk arsitektur serta mendukung bidang ilmu pengetahuan.Dilansir Time, Jumat (1/2/2013), cetak 3D bisa menjadi perangkat populer untuk masa depan. Teknik ini digunakan peneliti untuk mereplika ulang model 3D dari patung singa yang pernah ada sejak periode Nuzi, berusia sekira 3.300 tahun lalu.Kota Nuzi ribuan tahun lalu mengalami invasi dan meninggalkan sisa-sisa puing reruntuhan. Di era modern saat ini, situs peninggalan periode Nuzi itu terletak di Kirkuk, Irak.Tim arkeolog dari Amerika Serikat mulai melakukan penggalian di situs Timur Tengah ini sejak 1930. Mereka menemukan sejumlah harta karun yang telah rusak.Di antara temuan di Yorghan Tepe (nama modern untuk situs Nuzi), arkeolog menemukan satu set patung singa yang diduga mendampingi patung dewa Ishtar. Objek bersejarah ini berada di bawah penjagaan pemerintahan kolonial ketika itu, serta dibagi antara pemerintah daerah serta arkeolog.Peneliti asal Harvard University, kemudian membuat replika patung singa yang rusak tersebut menggunakan bantuan mesin cetak 3D, yang kemudian ditempatkan di Semitic Museum, Harvard University. Pembuatan duplikat patung tersebut diperlukan guna menyediakan bentuk utuk secara keseluruhan bagi para pengunjung museum.&quot;Ini merupakan produksi fisik pertama yang kami selesaikan menggunakan teknologi ini,&quot; ujar Adam Aja, asisten kurator Semitic Museum. Proses rekonstruksi patung singa Nuzi ini tengah berada dalam proses. Museum juga akan melakukan pengecatan pada patung kuno tersebut, sesuai dengan warna patung aslinya.&quot;Patung ini terdegradasi dari waktu ke waktu. Awalnya berwarna biru cerah. Sebagai penampilan modern seni, kami seringkali memberikan warna pada potongan-potongan kuno dengan warna putih,&quot; pungkas Adam.</content:encoded></item></channel></rss>
